8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 13: Dewa Kematian Bertarung


*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


 


Dewi Ara dan batu terbangnya melesat cepat ke arah Dewa Kematian yang berdiri melayang di udara. Namun, Dewa Kematian melesat terbang mundur untuk menjaga jarak.


Baks!


Tiba-tiba lesatan tubuh Dewa Kematian berubah terpental dahsyat tanpa terlihat ada yang menghantamnya. Kekuatan ilmu Tatapan Ratu Tabir telah menghantam tubuh Dewa Kematian.


Sementara itu, Joko Tenang dan para istrinya, Tiga Malaikat Kipas, para tokoh tua sakti dan pendekar lainnya menjadi menonton dari bawah. Ini tontonan yang sangat langka, karena belum tentu ada kesempatan lain bisa menyaksikan Dewa Kematian berlaga, terlebih lawannya adalah Dewi Geger Jagad, legenda yang sering disebut sebagai Wanita Iblis.


Tanpa mengalami luka, tubuh Dewa Kematian mampu mendarat di pinggang bukit dengan bagus, lalu balik bertolak melesat secepat panah menyongsong Dewi Ara di udara yang tinggi.


Zweng! Sess sess sess…!


Di pertengahan jarak, tiba-tiba tubuh Dewa Kematian menyebarkan enam duplikat dirinya, yang langsung melesat cepat mengepung lesatan Dewi Ara.


Ilmu yang bernama Tujuh Penjuru Kematian itu bekerja sangat cepat, yaitu melesat, mengepung dan langsung menyerang dengan melesatkan sinar tujuh warna dari tujuh penjuru kepada Dewi Ara.


Bluar bluar!


Beberapa ledakan dahsyat terjadi menghancurkan batu terbang Dewi Ara, setelah wanita jelita itu memilih melejit naik ke udara yang lebih tinggi. Pada kedua tangannya tergenggam tombak sinar biru dari ilmu Tombak Algojo.


Zess!


Dengan tubuh yang tidak meluncur jatuh, Dewi Ara melesatkan kedua tombak sinarnya bersusulan kepada sosok Dewa Kematian yang sudah seorang diri. Setelah melepas serangan keroyokan tadi, ilmu Tujuh Penjuru Kematian kembali menghilang.


Bress!


Salah satu tombak berhasil mengenai tubuh Dewa Kematian. Namun, tubuh Dewa Kematian langsung mengurai seperti pasir yang terbang cepat menyerang sosok Dewi Ara.


Wuss!


Dewi Ara cepat menghentakkan lengan kanannya, melepaskan ilmu angin Napas Murka. Angin dahsyat laksana amukan badai menderu mengerikan.


Pada pertarungan sebelum kematiannya, Dewi Ara dapat mengatasi serangan seperti itu dengan ilmu Napas Murka.


Namun, terkejut Dewi Ara saat menyaksikan rombongan pasir itu bersinar hijau, seperti jutaan butiran sinar. Yang lebih mengejutkan, angin dahsyat itu tidak sanggup menerbangkan rombongan kesaktian Dewa Kematian. Rombongan partikel tubuh Dewa Kematian terus melesat terbang menerobos badai dahsyat.


Gagalnya ilmu Napas Murka juga membuat para pendekar di bawah sana terkejut.


Hal itu membuat Dewi Ara tidak bisa menghindar, ketika tubuhnya disergap oleh jutaan sinar hijau kecil-kecil.


Blast!


Tiba-tiba ada ledakan sinar biru pada tubuh Dewi Ara dari ilmu Pecah Nyawa. Namun, lagi-lagi Dewi Ara harus terkejut. Sinar-sinar hijau tidak sirna atau buyar berantakan dari tubuhnya. Daya lekatnya begitu kuat, lebih lekat daripada lintah darat.


Wust!


Tubuh Dewi Ara yang nyaris tidak terlihat oleh kerumunan sinar-sinar hijau, dibuat meluncur jatuh ke bawah. Begitu deras ke arah bebatuan bukit.


Terlihat ada kecemasan pada wajah Joko Tenang melihat kejatuhan Dewi Ara setelah dua ilmu tingginya tidak berefek pada Dewa Kematian.


“Lorong Laba-Laba! Ara! Perisaimu!” teriak Joko Tenang keras sambil memberikan bayinya kepada Kerling Sukma.


Bress! Bress!


Zing! Boamm! Blar blar blar…!


Jaring laba-laba sinar merah yang serupa muncul di tempat lain yang lebih dekat dari luncuran tubuh Dewi Ara.


Pada saat yang sama, di dekat tubuh Dewi Ara yang meluncur ke bawah, muncul lapisan sinar merah dari Perisai Dewi Merah. Dan dari dalam jaring laba-laba melesat keluar sosok Joko Tenang dengan tangan kanan sudah menyala hijau.


Tubuh Joko Tenang melesat dan langsung menghantam perisai sinar merah dengan Tinju Dewa Hijau.


Ledakan tenaga sakti dahsyat terjadi, menciptakan ledakan beruntun di bebatuan bukit terdekat. Jutaan sinar hijau yang menyelimuti tubuh Dewi Ara terhempas ambyar, meninggalkan raga yang jadi terpental jauh ke samping.


Pertemuan tiga ilmu tinggi itu membuat para tokoh sakti terkesiap terkejut.


Dengan bebasnya tubuhnya dari jeratan jutaan sinar hijau, Dewi Ara bisa mendarat dengan baik di atas batu bukit. Sementara Dewa Kematian kembali menyatukan wujudnya menjadi sempurna dan melayang diam di udara tinggi.


Meski hanya memiliki ilmu kesaktian yang terbatas, tetapi Joko Tenang menunjukkan kelasnya di depan mata ratusan pendekar yang ada.


“Ilmu pukulan apa itu tadi?” tanya Ki Ageng Kunsa Pari dalam hati. Ia baru pertama kali melihat ilmu Tinju Dewa Hijau milik Joko Tenang. Sebab, ia sendiri tidak memilikinya dan tidak pernah mengajarkannya. “Apakah Guru Tiga Malaikat Kipas yang menurunkannya? Kekuatannya sebanding dengan Surya Langit Jagad.”


“Wah! Joko Tenang menghajar kakek buyutnya sendiri!” pekik Pendekar Seribu Tapak.


“Kenapa cicit Dewa Kematian justru menolong Wanita Iblis itu?” ucap Serigala Perak kesal.


“Karena Dewi Geger Jagad adalah ibu dari bayinya!” sahut Nenek Peti Terbang.


“Hebat juga kau, Joko!” seru Dewa Kematian kepada cicitnya yang kini berdiri tidak jauh dari Dewi Ara. “Meski ilmu kesaktianmu sedang terkunci, tetapi kau masih memiliki ilmu hebat seperti itu.”


“Kakek Buyut, tunda dulu perseteruan kalian. Aku dan Dewi Ara memiliki bayi yang sedang terluka dan perlu perawatan dari ibunya. Lanjutkan pertarungan kalian setelah bayi kami sehat kembali!” seru Joko Tenang kepada Dewa Kematian.


“Hahaha! Bagaimana, Ara? Suamimu meminta pertarungan kita ditunda!” kata Dewa Kematian kepada Dewi Ara.


“Aku masih ingin bertarung, Pratakarsa!” teriak Dewi Ara dengan tatapan permusuhan yang tinggi.


“Kau akan mati dengan cepat jika kau memaksakan diri, Ara. Lihat, hanya sebentar saja kau sudah terancam olehku, tidak lagi sampai tiga hari tiga malam. Kesaktianmu yang dulu hebat itu kini menjadi lemah jika dihadapkan dengan kesaktianku yang sekarang. Aku tahu kau belum mengeluarkan banyak kesaktianmu, tapi kau harus tahu diri, kau tertidur selama ribuan tahun di makammu,” kata Dewa Kematian.


“Ribuan tahun?” sebut ulang Dewi Ara dan sejumlah orang lainnya.


“Aku kira hanya lima puluhan tahun,” kata Joko Tenang.


“Lima puluh tahun untuk hitungan wajar. Kau harus tahu, putaran waktu di lubang bumi terdalam itu sangat cepat. Satu hari di sini sebanding dengan satu tahun. Itu karena kau aku kurung dengan ilmu Dewi Bunga Lima!” jelas Dewa Kematian.


“Hah!”


Terkejut ramai-ramailah banyak orang mendengar keanehan itu.


“Akan aku beri tahu kehebatan ilmu Dewi Bunga Lima, yaitu bisa membunuh dengan cara memenjarakan. Orang yang dipenjara oleh ilmu Dewi Bunga Lima akan mengalami perputaran waktu yang sangat cepat, sampai tubuhnya menua dan kemudian mati. Namun, khusus untuk Dewi Ara yang pernah aku cintai, ragamu aku jaga agar tidak termakan waktu. Tujuanku agar ragamu tetap utuh sampai ada lelaki yang menemukan mayatmu. Keperawananmu aku kunci dengan ilmu Penjara Mahkota Suci, yang memiliki daya pikat gairah yang begitu tinggi. Jadi, siapa pun lelaki yang menemukan mayatmu, dia akan menodaimu, tidak peduli apakah tua atau muda. Namun sungguh, aku tidak menyangka, lelaki yang harus menanggung aib bersamamu justru adalah cicitku sendiri,” tutur Dewa Kematian.


“Aku tidak menyangka Kakek Buyut berbuat sehina itu!” teriak Joko Tenang tiba-tiba, tatapannya menunjukkan kemarahannya.


Teriakan Joko Tenang itu mengejutkan Dewa Kematian dan para kalangan tua.


“Aku akui itu adalah perbuatan hinaku di masa lalu. Aku siap menanggung dendammu, Ara!” kata Dewa Kematian.


“Hiah!” sentak Dewi Ara yang sudah merasa muak mendengar ocehan Dewa Kematian.


Bruss!


Tiba-tiba seluruh tubuh Dewi Ara dilapisi sinar merah yang menyembur ke atas. Kemudian kedua lengannya bersinar merah menyilaukan.


Dewa Kematian yang sudah pernah menghadapi ilmu bernama Inti Api Suci itu, segera bersiaga di titik layangnya. (RH)