
*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*
“Aaa…!” jerit Ratu Puspa yang muncul dari langit dan jatuh deras menuju bumi.
Puspa yang menggunakan ilmu Gerbang Tanpa Batas, meluncur deras dari langit. Supaya tidak menjadi rempeyek dan membuatnya bisa mendarat di bumi, Puspa harus melepaskan ilmunya ke bawah sana bersusulan.
Sess! Sess! Blom! Blom!
Dua balon sinar hijau sebesar dua kali pelukan melesat cepat ke bawah dan meledak dahsyat, tepat di atas pertarungan antara Ki Renggut Jantung dan Domba Hidung Merah. Akibatnya, kedua kakek gagah yang sedang mengadu nyawa dengan kesaktiannya masing-masing itu, terpental berpisah lalu jatuh sembarangan.
Para pendekar yang ramai di luar Gua Lolongan juga berjengkangan karena dekatnya posisi ledakan dua sinar ilmu Puspa, tetapi tidak ada yang terluka.
“Hoekh!” Secara bersamaan Abna Hadaya dan Domba Hidung Merah muntah darah. Gangguan dari ilmu Puspa itu telah mengacaukan sirkulasi darah kedua kakek gagah tersebut, sehingga menimbulkan luka dalam yang cukup parah.
Sementara itu, daya ledak dua bola sinarnya tepat di bawah tubuh, membuat Puspa terdorong sedikit naik ke atas. Dengan begitu, ketika ia jatuh, daya gravitasinya kian rendah.
Jleg!
“Akh!” pekik tertahan Abna Hadaya. Ia yang sudah terluka parah, semakin sakit karena dua kaki Puspa mendarat tepat di dada dan perutnya.
Jangan tanya, dari sekian banyak tempat mendarat yang kosong di bumi itu, kenapa Puspa bisa-bisanya mendarat di atas badan Abna Hadaya. Itulah yang disebut takdir.
“Aik! Puspa menginjak kotoran kuda!” pekik Puspa terkejut saat sadar ia berdiri di atas tubuh seorang lelaki. Untung masih berdiri, bukan tiarap. “Hihihi!”
Sambil tertawa lepas tanpa beban utang, dengan santainya Puspa turun dari badan Abda Hadaya.
“Aaak…! Akhr…! Akk…!”
Tiba-tiba suara jeritan kematian terdengar ramai dan susul-menyusul dari banyak orang, bersumber dari dalam gua depan. Seiring itu, banyak pendekar yang berlompatan keluar seperti kumpulan lalat yang terbang bubar karena dikibas.
Orang-orang yang masih barada di luar gua, buru-buru berkelebatan menjauhi mulut gua.
Ratu Puspa, Abna Hadaya dan Domba Hidung Merah terkejut melihat situasi kacau itu. Mereka juga melihat adanya sejumlah pendekar, laki-laki dan wanita, tersengat sinar merah yang menjalar dari satu tubuh ke tubuh orang lain. Orang-orang yang tersengat dan mengejang hebat itulah yang dijauhi para pendekar.
Namun, mereka bertiga tidak bisa melihat sumber atau orang yang melepaskan ilmu sinar merah tersebut.
Tidak berapa lama, orang-orang yang tersengat sinar merah itu tumbang dalam kondisi tubuh hangus tanpa api dan tanpa nyawa juga. Melihat kondisi itu, Puspa segera pergi ke mulut gua. Abna Hadaya dan Domba Hidung Merah juga cepat bangkit. Mereka berdua berjalan terhuyung ke mulut gua untuk melihat apa yang terjadi, di saat para pendekar yang lain justru berhamburan menjauh dalam keaadan panik.
Beberapa menit sebelumnya. Di dalam mulut gua.
Di saat para pendekar yang berjubel di dalam mulut gua bergiliran melompati atas jurang untuk sampai ke seberang, ada seorang pendekar yang sejak tadi berdiri di pinggir dekat dinding. Bahkan ketika terjadi pertarungan yang mengeroyok Muni Kelalap, ia tetap berdiri di tempatnya. Pemuda berpakaian biru gelap itu adalah anggota Siluman Sepuluh yang bernama Siluman Tangan Seribu.
Ketika terjadi pertarungan antara Ki Renggut Jantung dan Domba Hidung Merah di luar gua, dan perhatian para pendekar terpecah antara pertarungan dengan upaya menyeberangi jurang, Siluman Tangan Seribu melakukan sesuatu.
Beberapa pendekar yang ada di dekatnya tampak serius melihat perbuatan Siluman Tangan Seribu yang ganjil. Mereka menaruh curiga.
Siluman Tangan Seribu membuang batu yang ditariknya dari dinding gua. Kini, ada lubang sebesar lingkaran batang bambu besar di dinding. Pemuda itu cepat membungkuk untuk melihat ada apa di dalam lubang. Di dalam lubang dinding yang cukup dalam itu, ternyata ada satu benda berbentuk bulat panjang berwarna merah.
“Aku menemukan pusakanya!” teriak Siluman Tangan Seribu kencang sambil memasukkan tangan kanannya ke dalam lubang, meraih benda merah berbentuk silinder di dalamnya.
Teriakan Siluman Tangan Seribu mengejutkan semua orang, terlebih para pendekar yang telah berhasil menyeberang. Orang-orang di gua depan itu dan di seberang jurang langsung beralih memandang ke sosok Siluman Tangan Seribu.
Beberapa pendekar yang menjadi orang terdekat dengan posisi Siluman Tangan Seribu, serentak bergerak mencekal tangan dan bahu pemuda itu. Namun, pada saat yang bersamaan, tangan kanan Siluman Tangan Seribu telah menggenggam benda merah di dalam lubang.
Zerrzz…!
“Aaa…!”
“Akk…! Akh…! Aaa…!”
Tiba-tiba dari benda di dalam lubang muncul aliran sinar merah yang menjalar seperti petir. Sinar itu menyengat seluruh tubuh Siluman Tangan Seribu, lalu menjalar kepada empat pendekar yang mencekalnya. Siluman Tangan Seribu menjerit panjang dengan tubuh kejang hebat, disusul oleh jeritan yang lainnya.
“Akk…! Akh…! Aaa…!”
Mereka semua terkejut. Namun, yang lebih mengejutkan lagi, sinar merah itu bisa menarik orang-orang terdekat yang posisinya tidak begitu jauh dari orang yang tersengat. Seperti cara kerja magnet jika dekat dengan logam. Dalam waktu sekejap saja, lebih dua puluh orang pendekar tanpa pandang bulu terjalar oleh sinar merah, lalu tersengat dan mengejang hebat.
Kejadian itu yang membuat puluhan pendekar yang ada di mulut gua jadi panik dan berebutan melompat jauh ke luar.
Sangat berbeda dengan mereka yang memilih menjauh keluar untuk selamat, para pendekar yang ada di seberang jurang buru-buru berkelebat terbang untuk menyeberang balik.
Ketika mereka mendengar bahwa pusaka telah ditemukan di mulut gua, mereka langsung ambil ancang-ancang untuk menyeberang balik lebih dulu.
“Akk…! Akh…! Aaa…!”
Tindakan yang buru-buru itu membuat mereka melompat tanpa perhitungan. Akhirnya belasan pendekar harus jatuh ke dalam jurang karena gagal mengulang keberhasilan penyeberangan pertama. Hanya ada tiga pendekar yang berhasil mendarat di bibir jurang mulut gua. Namun, ketiganya harus terkejut menyaksikan kejadian yang sangat mengerikan.
Puluhan orang pendekar yang tersengat sekaligus oleh sinar merah, bertumbangan dengan kondisi hangus tanpa api dan tanpa nyawa.
Sebagian pendekar tampak pucat pasih dan berkeringat dingin melihat kengerian yang terjadi. Dalam sekejap, puluhan para pendekar tewas.
Sementara mayat Siluman Tangan Seribu tumbang bersama mayat lainnya. Benda yang ada di tangannya ikut jatuh lalu menggelinding pendek.
Benda merah itu adalah sebuah benda bulat sepanjang satu jengkal, memiliki empat garis lingkaran pada batangnya. Benda itulah yang pernah dibawa oleh Putri Aninda Serunai.
“Tahan! Jangan menyeberang!” teriak Nini Kuting yang masih berada di seberang. “Itu Tongkat Jengkal Dewa!”
“Gila! Siluman Tangan Seribu ditumbalkan!” desis Domba Hidung Merah yang dari jauh mengenali mayat rekan satu gengnya. (RH)