
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Masalah kedua yang kita bahas adalah tentang Kerajaan Siluman yang dipimpin oleh Malaikat Dewa Raja Iblis. Ia telah lama menanamkan banyak orang-orangnya di berbagai kerajaan. Selain menanamkan orang-orangnya di pemerintahan, Kerajaan Siluman juga menciptakan kekuatan pemberontakan di berbagai wilayah. Ketika mereka membentuk kekuatan-kekuatan dalam bentuk kelompok yang terpimpin, kita pun harus melakukan itu. Akan sangat sulit jika melawan kekuatan itu hanya mengandalkan kekuatan sendiri-sendiri….”
“Betul! Bersatu kita kuat, bercerai kita kawin lagi…. Eh, kok kawin lagi? Hahaha! Maksudnya bercerai kita kalah!” teriak Abna Hadaya memotong kata-kata Ewit Kurnawa.
“Hahaha…!” tawa hampir semua hadirin.
“Tidak masalah. Aku sangat setuju golongan hitam membentuk persatuan, setidak-tidaknya di dalam usia senja seperti ini kita memiliki kerjaan, tidak selalu mencari nenek-nenek mandi karena tidak adanya pekerjaan yang jelas,” ujar Nenek Lembah Perawan Tua, seorang nenek yang berfisik sewajarnya, mengenakan pakaian warna serba ungu muda. Yang menarik, si nenek membawa dua pedang besar tapi pendek di punggungnya.
“Yang selalu mencari nenek-nenek mandi itu, maksudnya aku, Perawan Tua?” tanya Abna Hadaya merasa tersindir.
“Aku tidak menyebutmu, aku hanya mengumpamakan. Tidak perlu berperawan hati seperti itu, Renggut Jantung,” kata Nenek Lembah Perawan Tua.
“Coba saja kalau yang kau maksud aku, aku ajak kau bercocok tanam…. Eh, kok bercocok tanam? Bertarung maksudku!” kata Abna Hadaya.
“Hahaha!” tawa para peserta musyawarah.
“Pertama, tunjuk saja siapa yang pantas menjadi pemimpin di antara kita. Aku bersumpah akan mendukungnya!” seru Iblis Lontar Sumpah, seorang nenek bertongkat kayu merah berukir seperti sisik ular, tetapi tidak memiliki ukiran kepala ular. Kepala tongkatnya hanya berbentuk tumpul bersisik.
“Setuju!” pekik Raja Pisau Langit, seorang kakek berambut putih pendek. Ia berjubah hitam besar.
“Aku mendukung Pangeran Lidah Putih untuk menjadi pemimpin!” teriak Bidadari Wajah Kuning.
“Tidak bisa! Dia terkenal mata keranjang. Jika dia menjadi pemimpin, aku khawatir itu dimanfaatkan untuk menarik banyak wanita cantik!” sanggah Bidadari Payung Kematian, seorang nenek bertubuh gemuk meriah. Ia membawa payung warna merah dan hijau yang terlipat.
Petra Kelana alias Pangeran Lidah Putih mendelik mendengar sanggahan Bidadari Payung Kematian. Ia tidak menyangka bahwa citranya akan seburuk itu di mata orang lain.
“Baik, nama Pangeran Lidah Putih gugur!” seru Iblis Timur.
Pangeran Lidah Putih hanya mengelus dada.
“Aku mendukung Ki Ageng Kunsa Pari!” seru Pendekar Seribu Tapak.
“Tidak!” seru Ki Ageng Kunsa Pari cepat. “Aku telah mengabdi kepada keluarga istana cucu dari Dewa Kematian. Awalnya aku tidak bisa datang ke tempat ini. Kedatanganku hanya untuk melepas rindu kepada sahabat-sahabatku. Aku tidak bisa jika diserahi tanggung jawab dari kalian. Maafkan aku!”
“Sayang sekali, Kunsa Pari,” ucap Serigala Perak kecewa.
“Ah, bagaimana dengan Ki Ageng Kunda Poyo?” tawar Pendekar Seribu Tapak lagi kepada forum.
“Jangan, jangan!” seru Ki Ageng Kunda Poyo pula. “Aku baru saja bersalah karena telah menghilangkan pusaka Tongkat Jengkal Dewa!”
“Nama Kunsa Pari dan Kunda Poyo gugur. Nama Dewa Kematian juga gugur!” seru Iblis Timur.
Dewa Kematian mendelik saat namanya telah digugurkan sebelum dilempar ke forum. Namun kemudian, dia manggut-manggut kecil.
“Aku harus sadar diri,” ucap Dewa Kematian pelan.
“Aku mendukung Nenek Peti Terbang. Jangkauan jelajahnya jauh!” seru Ratu Naga Lembah Seribu.
“Tidak! Dia perempuan dan sudah tua!” sanggah Pangeran Lidah Putih.
“Jangan kurang ajar menyebutku tua, Petra Kelana! Kau pikir kau masih muda, hah?!” semprot Nenek Peti Terbang marah, mata tuanya mendelik lebar.
“Kenapa marah? Kau memang sudah tua!” balas Pangeran Lidah Putih sambil tetap tersenyum.
“Tapi tidak perlu kau sebut tuanya, tanpa kau sebut tua, semua orang sudah tahu bahwa aku tua!” tandas Nenek Peti Terbang.
“Hahaha! Itu jelas, Ratu Cantik. Selagi masih ada kaum lelaki, kaum wanita tidak bisa nomor satu!” kata Pangeran Lidah Putih.
“Itu aturan yang tidak adil. Buktinya banyak seorang ratu yang bisa menjadi pemimpin!” debat Serigala Perak pula.
“Hentikan!” seru Ewit Kurnawa. “Aku tidak akan mencegah wanita untuk memimpin jika memang ada yang layak.”
“Nama Nenek Peti Terbang gugur!” teriak Iblis Timur.
Nenek Peti Terbang dan nenek-nenek pendukungnya hanya menarik sudut bibir karena kecewa.
“Bagaimana pendapatmu, Resi Kasa Sinatra dan Resi Buyut Putih?” tanya Ewit Kurnawa kepada kedua resi itu.
“Menurutku, tempat ini sudah mewakili siapa yang pantas untuk menjadi pemimpin,” jawab Resi Kasa Sinatra.
“Aku satu paham dengan Resi Kasa Sinatra, Ganesa Putih adalah calon pemimpin yang cocok, karena dia memiliki tempat untuk dijadikan pusat kepemimpinan, dia pun memiliki banyak murid yang bisa dengan mudah ditugaskan untuk berbagai permasalah dunia persilatan,” kata Resi Buyut Putih.
“Aku setuju!”
“Aku setuju!”
“Aku ya jika Ki Rawa Banggir yang menjadi ketua. Setidaknya, jika kita datang ke sini, kita bisa mendapat pelayanan yang istimewa.”
“Aku sangat setuju!”
Terdengarlah suara-suara yang mendukung Ki Rawa Banggir sebagai ketua golongan aliran putih.
“Bagaimana, Rawa Banggir?” tanya Ewit Kurnawa.
“Sebenarnya aku tidak mengharapkan itu. Namun, karena kalian tidak keberatan, aku pun tidak mau mengecewakan. Meski dengan berat hati aku terima, tetapi aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran, untuk menyelamatkan golongan aliran putih dari segala ancaman dan membuatnya berjaya memutihi Tanah Jawi ini,” kata Ki Rawa Banggir.
“Rawa Banggir Ganesa Putih sah sebagai ketua aliran putih!” teriak Iblis Timur.
“Agar lebih berbobot, alangkah bagusnya jika aliran putih itu diberi nama khusus,” kata Pendekar Mustika Pelingkar Dewa, seorang kakek bertubuh tinggi besar, sehingga ia masih terlihat gagah meski semua rambutnya sudah putih.
“Baiklah, persatuan tokoh-tokoh aliran putih ini langsung saja aku beri nama,” kata Ewit Kurnawa. Lalu tanyanya kepada Minati Sekar Arum, “Apa namanya, Minati?”
“Hah! Kenapa tiba-tiba kau tanya aku, Ewit?” sentak Minati Sekar Arum.
“Sudah, sebut nama apa saja!” perintah Ewit Kurnawa.
“Barisan Putih!” sebut Minati spontan.
“Kita beri nama Barisan Putih. Jadi, Ki Rawa Banggir adalah Ketua Besar Barisan Putih!” seru Ewit Kurnawa. “Dengan terbentuknya kesatuan ini dan adanya seorang pemimpin, maka nantinya, kewajiban kita bersama untuk mewartakannya kepada setiap pendekar aliran putih, bahwa sudah dipilih seorang pemimpin. Berikutnya, kita akan memilih ketua-ketua di bawah Ketua Besar berdasar wilayah. Adapun berbagai permasalahan, kita akan bahas secara rinci besok pagi, di bawah pimpinan Ketua Besar!”
Setelah terpilihnya Ki Rawa Banggir sebagai Ketua Besar Barisan Putih, mereka kembali melakukan musyawarah mufakat menunjuk lima ketua wilayah. Hasilnya, untuk Ketua Timur dipilih Raja Pisau Langit, Ketua Utara dipilih Nenek Peti Terbang, Ketua Barat dipilih Pendekar Seribu Tapak, Ketua Selatan dipilih Nyi Mentara Senyata, dan Ketua Tengah dipilih Siluman Kera Langit.
“Kerrr!”
Setelah kelima orang itu terpilih, tiba-tiba terdengar suara dengkuran kencang di antara mereka. Semua mata pun beralih kepada sosok lelaki cebol yang duduk tertunduk. Lelaki cebol tampan itu tidak lain adalah Malaikat Serba Tahu.
“Kerrr!” dengkur Malaikat Serba Tahu.
“Tahu Cebol, bangun!” colek Bidadari Wajah Kuning.
“Hmm, aku setuju, aku setuju!” ucap Malaikat Serba Tahu langsung setelah tergeragap. Ia buru-buru menyeka bibirnya saat sadar telah tertidur dalam kondisi duduk. Pantas saja sejak tadi dia tidak ikut bersuara. (RH)