8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 20: Pasukan Ikan Raksasa


*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


 


Permaisuri Yuo Kai, Permaisuri Sandaria, Ratu Puspa, dan Abna Hadaya satu perahu dengan Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat. Perahu mereka sudah berada cukup jauh di tengah telaga, masih terjangkau mata dari dermaga.


Sementara di sisi lain dermaga yang bertaman, duduk santai Joko Tenang tiga istrinya, kedua orangtuanya, dan Ratu Sri Mayang Sih. Mereka duduk santai tapi obrolannya serius.


“Ada yang datang!” teriak Sandaria, orang yang memiliki tingkat kepekaan paling tinggi di antara mereka.


Mereka yang tidak buta, segera mencari ke dalam air sekeliling perahu, tetapi mereka tidak melihat apa-apa pun di dalam air.


“Ada yang datang!” seru Abna Hadaya pula.


“Bersiap untuk hantaman tiba-tiba, Gusti!” seru Garis Merak yang sudah berpengalaman menghadapi serangan ikan besar yang tiba-tiba.


“Hantaman tiba-tiba apa, Merak? Puspa tidak mengerti seperti kambing mabuk,” tanya Puspa bingung.


“Semakin dekat!” ucap Yuo Kai pula.


“Mana, mana, mana?” tanya Puspa sambil melongok ke dalam air mencoba melihat ke dalam air tepat di bawah perahu.


Dug!


Namun, belum juga Puspa melihat bayangan makhluk di dalam air, tiba-tiba satu hantaman mengguncang keras perahu tersebut, membuat semua oleng dalam berdiri.


“Ak!” jerit terkejut Puspa.


Jbur!


Paspa terlempar ke dalam air telaga.


“Swara, cepat tolong!” teriak Sandaria sambil mendorong punggung Swara Sesat.


“Aaa!” pekik Swara Sesat terkejut dengan tubuh terlompat ke dalam air pula.


“Eh, salah! Kerbau Ganteng, cepat tolong istrimu!” kata Sandaria lalu dia pun cepat mendorong punggung Abna Hadaya dengan ujung tongkatnya.


“Aww!” pekik Abna Hadaya sambil terlompat meninggalkan perahu dan masuk ke dalam air juga, sebab tusukan tongkat Sandaria memberi rasa sakit seperti suntikan jarum jahit.


“Hihihi…!” tawa Sandaria terkikik-kikik, menunjukkan bahwa dia sengaja mendorong kedua lelaki itu.


Hanya Sandaria yang tertawa, sebab yang lainnya justru tegang.


“Ada dua ikan yang datang!” teriak Kurna Sagepa tegang sambil menyiapkan senjata pengait balok esnya.


Mereka yang di atas perahu bisa menyaksikan ada dua bayangan besar dari arah yang berbeda berenang cepat ke arah posisi Puspa, Abna Hadaya dan Swara Sesat. Namun yang manarik, satu bayangan ikan berwarna merah terang.


“Ikan yang berbeda!” ucap Garis Merak terkejut, karena baru kali ini ia melihat ikan berwarna merah terang. “Cepat naik, Gusti!”


“Kutu udang! Ayo maju, siapa berani lawan Puspa!” teriak Puspa sambil memukul-mukul permukaan air.


Seet!


Swara Sesat cepat melesatkan besi kecil bersenarnya. Benda itu lalu melilit pada tiang pendek perahu. Swara Sesat kemudian menggulung senarnya, membuat tubuhnya tertarik ke perahu.


Abna Hadaya pun segera berenang menggapai lambung perahu besar itu. Namun, ia terkejut melihat tindakan istri liarnya.


“Bayi Kelinciku, apa yang kau lakukan? Itu ikan besar!” teriak Abna kepada istrinya yang berada agak jauh dari lambung perahu.


“Kutu udang itu mau menjajal kehebatan Ratu Puspa, biar Puspa beri sedikit Pendidikan!” sahut Puspa.


“Pendidikan apa yang mau kau berikan? Pendidikan baca tulis?” teriak Abna Hadaya.


“Hihihi!” tawa mereka yang ada di atas perahu.


Puspa tidak hirau dengan tawa mereka karena ia sudah berenang cepat, meluncur ke arah kedatangan ikan besar yang berwarna merah.


Sreekr!


Tegang yang tercipta, ketika tubuh Puspa bertemu dengan ikan yang besarnya tiga kali lipat dari besar tubuh manusia. Namun, ketika pertemuan terjadi, Puspa yang meluncur seperti torpedo tiba-tiba sedikit berbelok, membuat ikan raksasa yang sudah menganga hanya menelan air. Sementera tubuh Puspa melesat di sisi tubuh ikan sambil menggaruk sisiknya dengan kuku-kuku yang menyala kuning.


Garukan kesepuluh kuku Puspa itu jelas melukai badan ikan. Setelah itu, si ikan raksasa bersisik merah berenang dengan liar dan menjauh, seolah sedang kesakitan.


Sementara ikan yang lainnya berenang cepat ke arah Abna Hadaya. Ki Renggut Jantung yang panik cepat menghentakkan tangan kanannya. Namun, ia jadi terkejut.


“Hah! Dia tidak punya jantung!” pekik Abna Hadaya semakin terkejut.


“Cepat naik! Itu jantung ikan, bukan jantung orang!” teriak Sandaria dari pinggir perahu sambil menyodorkan ujung tongkat kecilnya kepada Abna Hadaya.


“Aaak!” jerit Sandaria saat tarikan Abna Hadaya lebih kuat dari tarikannya. Mau tidak mau Sandaria tertarik terjun ke dalam air.


“Hahaha!” tawa Swara Sesat, seolah terbalaskan tindakan Sandaria kepadanya tadi.


Sementara yang lain semakin tegang, sebab ikan besar berbayang hitam semakin dekat kepada Abna Hadaya dan Sandaria yang sedang gelagapan di air.


“Awaaas, Gusti Permaisuri!” teriak Garis Merak panik.


“Wah!” desah Kurna Sagepa dan Swara Sesat terpukau, saat melihat ikan sebesar setengah perahu yang hendak memangsa sandaria atau Abna Hadaya langsung terpotong-potong.


Ikan besar itu tahu-tahu terpotong rapi menjadi enam bagian.


“Akk!” jerit Abna Hadaya saat mulut ikan yang menganga lebar dengan gigi-gigi tajam mencaplok bahu dan lengannya. Namun, Abna Hadaya cepat terdiam, karena gigi-gigi runcing itu hanya menempel, tidak menggigit.


“Hihihi…!” tawa Sandaria melihat Abna diterkam kepala ikan yang buntung.


Ikan besar itu mati terpotong-potong oleh ilmu Serat Sutra yang dilesatkan oleh Yuo Kai.


“Kerbau Ganteng sayang!” teriak Puspa yang tiba-tiba muncul melompat dan meninju potongan kepala ikan yang tersangkut di bahu Abna Hadaya.


Buk!


“Aaak!” jerit Abna Hadaya.


Terlemparnya kepala ikan besar yang ditinju oleh Puspa justru membuat bahu dan lengan Abna tergores oleh gigi-gigi runcing si ikan.


“Kerbau Ganteng sayang, kau terluka!” kata Puspa panik saat melihat darah mengucur ke air.


Sementara itu, Kurna Sagepa dan Swara Sesat cepat memanen daging ikan yang mengambang di air.


“Gusti, cepat naik, sebentar lagi akan ada serangan ikan yang banyak!” kata Garis Merak.


“Dari mana kau tahu?” tanya Yuo Kai.


“Dari darah yang masuk ke air,” jawab Garis Merak. Ia tahu karena sudah pernah mengalaminya. Serangan dari ikan raksasa yang banyak, membuatnya lari menyelamatkan diri kala itu.


Sandaria yang sejak tadi tertawa-tawa di air, mendadak berhenti tertawa.


“Ada yang datang, jumlahnya banyak!” kata Sandaria mendadak tegang.


Sandaria buru-buru berenang merapat dan naik ke perahu, dibantu oleh Garis Merak.


Puspa dan Abna Hadaya yang masih berada di air tiba-tiba memandang jauh ke permukaan air telaga. Mereka menengok ke arah lain juga.


“Banyak yang datang,” kata Abna Hadaya tegang. “Ayo cepat naik, Bayi Kelinciku!”


Cukup terkejut Yuo Kai ketika melihat rombongan ikan raksasa muncul di kejauhan, mereka datang dari berbagai arah. Sandaria yang tidak melihat, juga ikut terkejut. Ia tidak menyangka bahwa ikan raksasa yang datang cukup banyak.


Sementara Garis Merak, Kurna Sagepa dan Swara Sesat tidak terkejut lagi, karena mereka sudah pernah mengalami situasi seperti itu.


Puspa buru-buru naik lebih dulu ke atas perahu, Abna Hadaya yang ada di bawah mendorong bokong Puspa. Selanjutnya barulah Abna Hadaya yang naik.


“Pegangan yang kuat pada perahu!” seru Garis Merak sebagai nahkoda perahu.


Mereka pun mengikuti arahan Garis Merak.


“Waaah!” teriak Puspa takjub, saat melihat rombongan ikan rakasasa berdatangan dari berbagai arah.


Dug dug dug!


Sejumlah hantaman tabrakan kepala ikan pada bagian bawah perahu terjadi, mengguncang keras perahu itu. Jika tidak berpegangan, mungkin bisa terlempar ke air.


“Garis Merak! Apakah perahu ini bisa bertahan?” tanya Sandaria.


“Jika diam saja, pasti akan pecah!” jawab Garis Merak.


“Ayo jalankan!” perintah Sandaria cukup panik.


“Biar Puspa buat kucing-kucing itu jadi pesakitan!” teriak Puspa.


“Itu ikaaan, bukan kucing, Bayi Kelincikuuu!” kata Abna Hadaya kesal, sebab istrinya masih bercanda dalam situasi bahaya seperti itu.


“Hiaaat!” pekik Puspa sambil meloncat tinggi ke udara.


Sess! Sess!


Dua bola sinar hijau sebesar dua pelukan dilepas oleh Puspa ke arah rombongan ikan besar.


“Ratu Puspa jangan!” teriak Yuo Kai, tapi terlambat.


Blom blom!


Dua ledakan hebat terjadi di air telaga, di sisi kanan perahu. Air telaga terlompat dahsyat ke udara seperti ledakan bom besar di dalam air. Air yang tersembur ke udara juga menyiram keras mereka semua yang ada di atas perahu.


Sejumlah ikan memang terlihat terpental, bahkan langsung mati akibat ledakan itu. Namun, yang lebih fatal lagi, ombak besar yang ditimbulkan dari dua ledakan itu menghempas lambung kanan perahu sehingga terbalik.


Mereka semua sontak berlompatan ke dalam air. Puspa akhirnya mendarat langsung ke air.


Ikan-ikan terlihat semakin liar saat banyak umpan yang masuk ke air.


“Joko Ayaaam!” teriak Puspa yang mengandung tenaga dalam tinggi.


Panggilan Puspa itu mengejutkan Joko Tenang dan mereka yang sedang ngopi pagi di dermaga. (RH)