
*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*
Pagi-pagi, rombongan Prabu Dira Pratakarsa Diwana sudah meninggalkan Istana Baturaharja. Pertemuannya dengan Prabu Banggarin tadi malam telah selesai dengan menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama.
Meski saat ini Kerajaan Baturaharja berubah menjadi kerajaan yang masih rapuh dengan raja barunya, tetapi tetap ia memiliki pengalaman lebih lama sebagai sebuah sistem pemerintahan.
Prabu Banggarin akan membeli kayu sonokeling milik Kerajaan Sanggana Kecil, yang tumbuh banyak di Kadipaten Hutan Malam Abadi. Ia akan membangun istana dan bentengnya agar lebih kuat, termasuk membuat peralatan perang dengan bahan kayu pilihan. Karenanya, Kerajaan Baturaharja memesan kayu dalam partai besar.
Kekurangan tenaga pekerja membuat Joko Tenang menawarkan kerja sama, yaitu separuh tenaga kerja akan dari warga Kerajaan Baturaharja, dengan imbalan harga akan lebih dimurahkan.
Untuk mempermudah pengiriman kayu, pemerintahan kedua kerajaan akan membuat jalan yang bisa mudah dilalui kendaraan. Sebagai kerajaan yang bergelimang pendekar, Sanggana Kecil juga penyiapkan pasukan yang akan mengawal perjalanan barang.
Sebagai mantan Adipati Gunung Prabu, Prabu Banggarin juga akan mengimpor beberapa jenis kacang-kacangan dari Kadipaten Gunung Prabu.
Pemerintahan Baturaharja kini tidak kekurangan pejabat, sebab para pejabat veteran yang dipenjarakan oleh mendiang Prabu Menak Ujung telah dibebaskan. Mereka yang sehat kembali diberi kedudukan oleh Prabu Banggarin.
Pada pertemuan tadi malam, Joko Tenang juga mengajukan nama Duri Manggala, mantan senopati kerajaan itu. Apakah Prabu Banggarin mau memberinya pengampunan dan mengangkatnya kembali sebagai pejabat, atau tidak? Akhirnya, berkat jaminan yang diberikan oleh Joko Tenang, Prabu Banggarin bersedia mengampuni Duri Manggala dan akan menempatkannya sebagai Panglima Perbatasan Utara dan Barat.
Joko Tenang pulang dengan tambahan sepuluh pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana. Sebelumnya, Joko Tenang mengirim separuh dari Pasukan Hantu Sanggana untuk membantu keamanan di ibu kota Baturaharja. Kini tinggal ada lima belas pendekar yang tinggal di Ibu Kota.
Namun, dalam perjalanan pulang, rombongan Joko Tenang sedikit mendapat sengketa kecil.
Ketika rombongan sampai di sebuah persimpangan empat, tiba-tiba dari arah jalan samping berlari kencang dua ekor kuda putih yang ditunggangi oleh dua kakek putih. Putih maksudnya adalah keduanya berpakaian serba putih dan semua rambutnya juga berwarna putih. Keduanya membawa sebatang toya pendek setebal jari warna putih, yang diselipkan di pinggang belakangnya.
Bertepatan ketika prajurit pejalan kaki terdepan menyeberang persimpangan, dua kuda putih itu justru tidak berhenti dan hendak menerabas barisan prajurit pejalan kaki dari samping.
“Berhenti!” teriak para prajurit terkejut sambil mereka buru-buru berlompatan ke samping menjatuhkan diri.
Hindaran para prajurit itu membuat kedua kuda bisa lewat dengan leluasa. Tindakan membahayakan itu membuat geram para pendekar di dalam rombongan.
Sess! Wezz! Bluar!
Seorang pendekar dari Pasukan Hantu Sanggana melesatkan satu sinar kuning berwujud komet berekor, mengejar dua penunggang kuda itu.
Rupanya kedua kakek serba putih itu tahu bahwa mereka diserang. Salah seorang dari mereka cepat menengok sambil satu tangannya melesatkan sebuah bola sinar putih. Pertemuan dua sinar kesaktian pun terjadi keras, membuat pendekar Pasukan Hantu Sanggana itu terjengkang dan mengalami luka dalam. Berbeda dengan si kakek putih, ia tetap duduk dengan tenang di punggung kudanya.
Namun, serangan itu membuat kedua kakek putih mengerem kudanya. Tampaknya mereka berdua marah mendapat serangan. Mereka jadi membalikkan kudanya dan berlari kecil menghampiri pasukan Kerajaan Sanggana.
Sementara itu, sembilan pendekar lainnya dari Pasukan Hantu Sanggana cepat berlarian dan mengepung kedua kuda kakek tua tersebut.
“Apa yang terjadi, Hantam Buta?” tanya Joko Tenang yang mendengar suara keributan itu.
“Dua orang pendekar tua berkuda menerabas pasukan kita, Gusti Prabu. Pendekar Pasukan Hantu marah dan menyerangnya, tapi mereka lebih sakti,” jawab Hantam Buta dari kudanya yang berjalan di sisi kereta kuda.
Joko Tenang lalu memutuskan untuk keluar dari bilik keretanya. Ia yang mengenakan pakaian kebesaran seorang raja, memandang ke depan sana. Kerling Sukma jadi ikut keluar dengan pakaian megahnya.
“Tahan!” seru Joko Tenang lantang.
Joko Tenang menghampiri pemuda pendekar Pasukan Hantu yang tadi terjengkang dan dari mulutnya termuntah darah. Ia membantu prajuritnya itu untuk berdiri. Sejenak Joko Tenang menempelkan telapak tangannya pada dada prajuritnya, memberikan sedikit pengobatan ilmu Serap Luka.
Setelah itu, Joko Tenang pergi menemui dua orangtua yang melukai prajuritnya. Sementara pendekar yang baru diobati kondisinya jauh lebih baik.
“Biarkan!” perintah Joko Tenang kepada para pendekar Pasukan Hantu Sanggana.
Kesembilan pendekar segera bergerak mundur dan berdiri berbaris di belakang rajanya. Meski orang yang berdiri di depan kuda mereka adalah seorang raja, tetap saja kedua kakek itu tidak turun dari kudanya, mereka justru melecehkan Joko Tenang.
“Raja ingusan!” sebut kakek putih yang berkumis tipis seraya tersenyum meremehkan. Ia bernama Tebaklupa.
“Hahaha!” tawa pendek temannya yang berhidung besar. Ia bernama Serak Buto.
Alangkah gusarnya para prajurit, terutama Permaisuri Kerling Sukma, melihat kelakuan kedua kakek tersebut.
“Kesombongan kalian sebagai orang sakti, nanti akan membuat kalian merasakan akibatnya!” kata Joko Tenang lantang, tapi tetap tenang tanpa menunjukkan kemarahan.
Baru saja Joko Tenang selesai berkata seperti itu, tiba-tiba jauh di belakang melejit sosok Permaisuri Mata Hijau naik ke angkasa. Kedua lengannya sudah diselimuti sinar kuning emas bergelombang.
Tindakan Kerling Sukma itu mengejutkan kedua kakek putih, karena mereka bisa merasakan kesaktian yang tidak rendah.
Zess! Zos zos! Bluarr!
Kerling Sukma menebaskan tangan kanannya dengan pola menyamping tapi ke arah depan bawah. Maka selengkungan sinar kuning emas yang tipis melesat menyerang kedua kakek itu sekaligus.
Begitu cepatnya serangan dari ilmu Tebasan Mata Batin itu, membuat kedua kakek hanya sempat menahan dengan salah satu ilmu tertinggi mereka. Dua bola sinar putih sebesar kelapa atau kepala, mereka lesatkan dan hancur bersamaan ditebas oleh sinar kuning emas.
Kompak kedua kakek itu terlempar jauh dari atas punggung kudanya dengan mulut memuncratkan darah kental. Keduanya jatuh keras di tanah kering.
“Hoekh!” kedua kakek putih itu langsung muntah darah. Mereka benar-benar dibuat terkejut. Sungguh mereka tidak menyangka bahwa ilmu perempuan muda itu begitu tinggi kekuatannya.
Mereka buru-buru bangkit duduk. Sambil memegangi dadanya yang begitu sesak dan seolah ingin jebol, keduanya memandang tajam kepada sosok Kerling Sukma yang mendarat lembut di sisi suaminya.
“Gila, siapa wanita muda sakti itu?” ucap Serak Buto.
“Hanya sekali serang kita dibuat terkapar,” kata Tebaklupa pula.
“Apakah mereka perlu aku bunuh, Kakang Prabu?” tanya Kerling Sukma dengan ekspresi wajah yang masih menunjukkan kemarahan terhadap kedua orang tua itu.
“Luka itu cukup memberi mereka pelajaran,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum kepada Kerling Sukma.
Sebelumnya, Joko Tenang sudah menduga bahwa Kerling Sukma akan menyerang, karena ia tahu istrinya itu memiliki amarah yang mudah tersulut.
Pelajaran yang diberikan kepada kedua kakek itu sontak membuat para prajurit dan pendekar gembira puas.
“Kita lanjutkan perjalanan!” perintah Joko Tenang sambil berbalik menuju ke kereta kudanya. (RH)