8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 3: Guru Peri Setan


*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


Di taman batu, terjadi ramai pertarungan. Ada tiga kelompok pertarungan, yaitu antara Anjas Perjana Langit melawan Ropo Bunang alias Dedemit Bukit Lumut, Ratu Sri Mayang Sih bersama Putri Embun dan Putri Pelangi mengeroyok Putri Mata Merah, serta Pangeran Mayat dan Pangeran Basah yang mengeroyok Guru Peri Setan.


Set set!


Putaran pedang besar si nenek rambut keriting putih begitu kencang dan berbahaya, membuat Pangeran Mayat dan Pangeran Basah tidak berani ambil langkah ceroboh untuk coba-coba mendekat.


Meski pedangnya besar, tetapi Guru Peri Setan memainkannya seringan memainkan pisau dapur.


Wezz wezz…!


Ketika serangan Guru Peri Setan mengincar Pangeran Basah, Pangeran Mayat melepaskan dua bola sinar merah dari ilmu Telur Iblis. Kedua sinar merah itu melayang diam di udara.


Guru Peri Setan cukup mendelik ketika melihat keberadaan dua bola sinar merah yang melayang diam itu.


Wezz wezz…!


Giliran Pangeran Basah mengeluarkan dua bola sinar merah yang melayang, sehingga ada empat bola sinar Telur Iblis yang mengepung posisi si nenek rambut putih.


“Mau menjebakku?” teriak si nenek hidung mancung bengkok.


Set!


Bluar bluar bluar…!


Tanpa tedeng aling-aling, Guru Peri Setan mengibaskan pedangnya satu putaran penuh yang menebas keempat bola sinar Telur Iblis sekaligus. Maka empat ledakan dahsyat terjadi hebat yang menyelimuti tubuh Guru Peri Setan. Sejenak si nenek tertutupi oleh debu akibat ledakan rapat itu.


Pangeran Basah dan Pangeran Mayat yakin bahwa lawan mereka akan hancur oleh kekuatan empat Telur Iblis itu.


Set! Tes! Crass!


“Aaak!”


Tiba-tiba Guru Peri Setan melesat keluar dari dalam gumpalan debu yang langsung menyerang Pangeran Basah. Pedang besar si nenek langsung berkelebat cepat, mengeksekusi Pangeran Basah yang kurang siap.


Pangeran Basah terpaksa menangkis dengan benang bajanya. Namun, pedang Guru Peri Setan bukan pedang biasa. Pedang itu memutus benang baja Pangeran Basah dan juga sekaligus menebas putus lengan kiri pemuda tampan itu.


Pangeran Basah pun menjerit setelah tangan kirinya jatuh ke lantai. Ia sendiri terdorong jatuh terduduk, sambil tangan kanannya memegangi luka potongan pada lengannya.


Pangeran Mayat yang terkejut melihat nasib rekannya, cepat melakukan serangan membokong.


Zess! Zeerr! Bluar!


Pangeran Mayat melesatkan satu sinar kuning berpijar dari arah belakang si nenek. Tepat sebelum sinar kuning itu menghantam punggung Guru Peri Setan, ada kilatan sinar putih yang menjalari tubuh si nenek.


Ledakan pun terjadi ketika sinar kuning berpijar Pangeran Mayat menghantam punggung si nenek. Di sinilah terbukti bahwa Guru Peri Setan kebal terhadap tenaga sakti. Jangankan satu sinar ilmu kesaktian, ledakan empat sinar Telur Iblis saja tidak bisa melukainya.


Setelah itu, Guru Peri Setan beralih cepat menyerang Pangeran Mayat dengan pedangnya. Pangeran Mayat melesat mundur sambil melepaskan dua sinar Telur Iblis.


Bluar bluar!


Tanpa khawatir terluka, Guru Peri Setan menabrak dua bola sinar merah Telur Iblis, sehingga dua ledakan dahsyat terjadi, tetapi tubuh si nenek terus melesat memburu Pangeran Basah.


Set! Tseb!


“Hekkr!” keluh Pangeran Mayat dengan tubuh melesat mundur lebih cepat karena perutnya didorong oleh tusukan kuat pedang lawan.


Guru Peri Setan tiba-tiba melesatkan pedang besarnya mengejar Pangeran Mayat yang melesat mundur. Lesatan pedang yang lebih cepat menusuk tembus perut Pangetan Mayat.


“Pangeran Mayaaat!” teriak Pangeran Basah histeris. Dengan terhuyung dia berusaha berdiri.


Sementara itu, Pangeran Mayat terhenti dengan duduk terpojok pada sebongkah batu besar di taman. Banyak darah keluar dari mulutnya. Tusukan pedang besar itu benar-benar merusak perut Pangeran Mayat.


Teriakan Pangeran Basah yang kencang mengejutkan Anjas, Ratu Sri Mayang Sih dan kedua putri.


“Pangeran Mayaaat!” jerit Putri Embun dan Putri Pelangi bersamaan. Keduanya seketika menangis tanpa isakan melihat Pangeran Mayat mengembuskan napas terakhir, setelah Guru Peri Setan mencabut pedangnya.


Seerss! Press! Bluaar!


Di saat kubu Ratu Sri Mayang Sih dan kedua pengawalnya lengah, Putri Mata Merah melesatkan seberkas sinar hijau besar ke arah Ratu Sri Mayang Sih. Namun, dari arah samping melesat cepat pula sinar putih menyilaukan mata yang dilepas oleh Anjas.


Satu ledakan dahsyat berjadi. Hasilnya, di luar dugaan bagi Putri Mata Merah. Ia terpental deras ke belakang dan punggungnya menghantam batu besar taman, tidak jauh dari posisi mayat Pangeran Mayat.


“Hoekh! Hoekh!”


Putri Mata Merah langsung muntah darah dua kali. Meski belum mati, tapi adu kuat dengan ilmu Surya Langit Jagad jelas bukan kondisi yang bagus.


Apa yang dialami oleh Putri Mata Merah membuat Ropo Bunang yang berhadapan dengan Anjas, jadi terbelalak. Ia sendiri belum merasakan ilmu yang dikenalnya itu.


“Siapa orang ini sebenarnya? Kenapa ia memiliki ilmu Surya Langit Jagad?” batin Ropo Bunang.


Seet! Ting!


Tiba-tiba sebatang tombak melesat menyerang Guru Peri Setan. Dengan sigap si nenek keriting menangkis serangan tombak kayu yang menyerangnya, membuat tombak itu terpental.


Ting ting ting…!


Peraduan tombak dan pedang terjadi sengit dan beritme cepat. Meski tombak kayu, tapi tombak Gadis Cadar Maut sama kerasnya dengan baja.


Pada saat itu, muncul pula Bidadari Payung Kematian dan para pemuda.


“Tembangi! Guru Peri Setan terlalu kuat, bantu dengan tombak emasmu!” teriak Gadis Cadar Maut yang sudah mengenal siapa Guru Peri Setan adanya.


Set!


Tembangi Mendayu cepat melesatkan tombak emasnya. Dalam lesatannya, tombak pendek itu diselimuti sinar emas yang membuatnya terlihat kian indah.


Tang ting tang ting…!


Guru Peri Setan benar-benar menunjukkan levelnya. Menghadapi serangan tombak Gadis Cadar Maut yang begitu gesit dan tombak emas Tembangi Mendayu yang datang dari berbagai arah, si nenek masih mampu mengatasi tantangan itu.


Namun, jadi berbeda ketika Putri Embun dan Putri Pelangi berkelebat masuk ke dalam pertarungan. Pertarungan pun berlangsung tidak adil, empat lawan satu. Meski kesaktian keduanya masih berada di bawah Gadis Cadar Maut, tetapi keterlibatan keduanya justru menjadi duri kecil bagi Guru Peri Setan.


Sementara itu, Lanang Jagad segera mengobati luka Pangeran Basah.


Putri Embun mengandalkan permainan pedang dan Putri Pelangi mengandal tongkat seperti Tongkat Jengkal Dewa, yang bisa dipanjangpendekkan. Karena musuh menggunakan pedang, maka Putri Pelangi memilih tongkat panjang agar jangkauannya lebih maksimal.


Pengeroyokan empat senjata itu membuat Guru Peri Setan jadi kewalahan.


“Aku balas kematian Pangeran Mayat!” teriak Putri Pelangi sambil melompat cepat ketika melihat ada celah di sisi kiri Guru Peri Setan.


Putri Pelangi mengangkat tinggi tongkatnya yang bersinar biru untuk digebukkan ke kepala si nenek. Tindakan Putri Pelangi itu mengejutkan para pendekar yang menonton, meski serangannya sangat berbahaya, tetapi ia membuka pintu pertahanannya sendiri lebar-lebar.


Guru Peri Setan yang menangkis tombak kayu dan emas sekaligus dengan pedangnya, melirik kepada kedatangan Putri Pelangi. Ia langsung bisa melihat lubang peluang yang besar.


Blam!


Tangan kiri Guru Peri Setan cepat menangkis tongkat sinar biru Putri Pelangi dengan seberkas sinar merah. Membuat tongkat itu terpental balik ke atas dan lepas dari genggaman Putri Pelangi. Pada saat yang sama, mata pedang Guru Peri Setan menusuk ke perut Putri Pelangi. Dalam kondisi di udara seperti itu, Putri Pelangi tidak bisa mengelak karena tubuhnya yang mendatangi, bukan didatangi.


“Pelangiii!” teriak Ratu Sri Mayang Sih, Putri Embun dan Pangeran Basah bersamaan.


Buk! Set!


Namun, seiring pedang Guru Peri Setan menusuk, melesat satu kekuatan tanpa wujud yang lebih dulu menghantam lambung Putri Pelangi. Ketika pedang menusuk, tubuh Putri Pelangi telah terpental ke samping, sehingga pedang menusuk ruang kosong.


Putri Pelangi jatuh keras ke bebatuan kecil taman dan mulutnya mengeluarkan darah. Orang yang menyelamatkan Putri Pelangi dengan serangan adalah Bidadari Payung Kematian


Tseseb!


“Akh!” pekik Guru Peri Setan tertahan, ketika Gadis Cadar Maut dan Tembangi Mendayu memanfaatkan momentum bagus menusuk perut dan punggung Guru Peri Setan.


Meski Guru Peri Setan kebal terhadap ledakan tenaga sakti, tetapi ternyata ia tidak kebal terhadap senjata.


Set!


Sambil menahan rasa sakit yang membuat darah terlompat keluar melalui mulutnya, Guru Peri Setan masih bisa mengibaskan pedangnya kepada Gadis Cadar Maut. Gadis bercadar itu cepat menghindar dengan melompat mundur, meninggalkan tombak kayunya tetap tertancap pada perut si nenek tangguh.


Menggunakan kendali dengan tenaga dalamnya, Gadis Cadar Maut dan Tembangi Mendayu sama-sama menarik lepas tombaknya dari jarak jauh.


“Aaak!” pekik Guru Peri Setan panjang ketika dua tombak itu melesat mencabut diri. Darah mengalir deras.


Dari sisi belakang Guru Peri Setan melesat Putri Embun, tetapi ia tidak langsung menikam dari belakang. Ia membawa tubuhnya ke depan Guru Peri Setan, rapat.


Guru Peri Setan yang sudah lemah, masih berusaha menghabisi Putri Embun.


Tang! Tseb!


“Aaa…!”


Putri Embun mampu menangkis, lalu pedangnya ia putar sehingga memiliki jalan untuk menusuk dada tua si nenek.


“Hiaaat!” teriak Putri Embun sambil mendorong terus pedangnya yang sudah mentok pada gagang.


Guru Peri Setan melangkah mundur dengan cepat mengikuti dorongan itu. Pedangnya sudah terlepas dari tangan. Hingga akhirnya punggungnya tertahan oleh sebongkah batu.


Baks!


Satu hantaman pukulan masih bisa Guru Peri Setan daratkan ke dada Putri Embun, membuat gadis cantik itu terjengkang keras.


Seet!


Akhirnya, tombak emaslah yang menghabisi nyawa Guru Peri Setan. Tombak emas bersinar emas itu melesat menembus batang leher si nenek.


Ropo Bunang hanya diam menyaksikan pengeroyokan terhadap rekannya. Ia hanya bisa merelakan Guru Peri Setan tumbang dengan penuh luka tikaman. Jika ia pun turun membantu, pasti banyak pendekar yang turun mencegahnya, terlebih ada Bidadari Payung Kematian yang dikenalnya.


“Ratu Aninda Serunai sudah kalaaah!” teriak seorang prajurit kerajaan yang tiba-tiba datang hanya untuk meneriakkan pengumuman itu. (RH)