8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 3: Kematian Pendekar Ternama


*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


Joko Tingkir memacu kudanya sendirian. Ia sudah berjanji akan menyusul gurunya yang akan singgah di kediaman kerabatnya di Kerajaan Baturaharja, yaitu Resi Tambak Boyo.


Guru Joko Tingkir yaitu Ki Sombajolo, memang sebelumnya bertemu dengan Resi Tambak Boyo di pertemuan para tokoh tua aliran putih di Jurang Lolongan. Resi Tambak Boyo mengundang khusus kakaknya tersebut ke Padepokan Hati Putih. Keduanya adalah kakak adik tetapi lain ibu.


Joko Tingkir sebelumnya meminta izin untuk tinggal di Kerajaan Sanggana Kecil dua hari lagi. Ia ingin menghabiskan waktu bersama Joko Tenang dan berkunjung ke kediaman Parsuto. Setelah puas berbagi cerita dengan Joko Tenang yang menjadi orang sibuk, ia pun pergi meninggalkan kawasan Gunung Prabu. Ia dibekali seekor kuda dan sejumlah uang untuk bekal dalam perjalanan.


“Heran, sedemikian banyak wanita cantik di Sanggana Kecil, kenapa tidak ada yang tertarik padaku? Joko Tenang pasti memasang guna-guna sehingga wajahku terlihat seperti bokong kuali jika dilihat oleh wanita. Biasanya, jika sudah pergi jauh, pengaruh guna-guna bisa hilang. Artinya aku bisa menggaet gadis cantik lagi. Hahaha!” ucap batin Joko Tingkir sambil tersenyum sendiri.


Ketika kudanya berlari menuju ke sebuah persimpangan tiga, Joko Tingkir terperanjat sumringah, pasalnya dari arah lain ada kuda lain yang berlari dan ditunggangi oleh seorang wanita muda lagi cantik.


“Wah! Joko Tingkir, kau memang beruntung!” sorak Joko Tingkir di dalam hati.


Ia lalu sedikit memperlambat lari kudanya agar nanti bisa tiba bersamaan dengan kuda wanita itu di titik persimpangan.


Wanita berkuda itu mengenakan baju merah terang dan celana hitam. Ia membawa sebuah tombak pendek berwarna emas yang menggantung pada pinggangnya. Pendekar wanita cantik yang memiliki senjata tombak emas tidak lain adalah Tembangi Mendayu. Ia sudah sembuh dari luka-lukanya usai bertarung dengan Kerling Sukma.


Ketika kedua kuda itu bertemu di titik pertemuan jalan, ternyata keduanya berbelok ke arah yang sama lalu berlari berdampingan.


“Hahaha!” tawa Joko Tingkir sambil memandang Tembangi Mendayu yang juga memandangnya dengan tatapan tajam.


“Hei! Kenapa kau tertawa?!” hardik Tembangi Mendayu galak.


“Aku tertawa karena aku menduga kita ini berjodoh. Buktinya, bisa-bisanya tanpa kesepakatan dan rencana, kita bisa berdampingan hanya berdua berkuda di jalan ini. Sungguh romantis penuh warna-warni bunga-bunga pelangi,” kata Joko Tenang seraya tersenyum lebar.


“Kau pikir dengan ketampananmu seperti itu lalu kau bisa sembarangan memungut gadis di tengah jalan?!” hardik Tembangi Mendayu.


Mendelik Joko Tingkir mendengar kata-kata pedas Tembangi.


“Eh! Sepertinya aku mengenalmu. Kau itu adalah temannya Joko Tenang yang aku benci!” kata Tembangi Mendayu tanpa mengendorkan laju kudanya.


“Oh iya! Hahaha!” teriak Joko Tingkir pula sambil tertawa dan menunjuk wajah Tembangi Mendayu. “Aku juga ingat. Kau adik kakak bercadar itu. Iya iya iya. Hahaha! Benar-benar jodoh kita!”


“Huh!” dengus Tembangi Mendayu kesal. “Hiah!”


Tembangi Mendayu menggebah kudanya agar lebih kencang berlari. Joko Tingkir juga mempercepat kudanya sehingga tetap berlari seiringan dengan kuda Tembangi Mendayu.


“Tidak mengapa jika kau membenci Joko Tenang. Dia itu memang ayam tukang kawin. Kita berdua tetap bisa akrab, apa lagi sama-sama pendekar muda aliran putih,” kata Joko Tingkir sambil berulang kali memandang kepada Tembangi Mendayu, yang justru enggan memandang wajahnya.


“Aku tidak membenci Joko Tenang, tapi aku membencimu sejak dulu!” sahut Tembangi Mendayu tanpa memandang Joko Tenang.


Kedua kuda itu terus berlari beriringan. Ketika tiba di sebuah persimpangan empat, kompak kedua kuda berbelok ke kiri.


Merasa diikuti oleh Joko Tingkir, Tembangi Mendayu secara mendadak menghentikan kudanya, hingga-hingga kedua kaki depannya terangkat. Hal itu membuat Joko Tingkir buru-buru menghentikan pula kudanya.


“Hiat!” pekik Tembangi Mendayu sambil berkelebat dari kudanya menerjang Joko Tingkir di atas kuda.


Dak!


Joko Tingkir terkejut mendapat terjangan cepat seperti itu, tetapi ia menangkis dengan kedua tangannya. Ia terkejut karena tenaga terjangan itu begitu kuat. Mau tidak mau Joko Tingkir terjungkal dari atas kudanya dan jatuh terjengkang ke tanah berumput.


Dengan gelagapan, Joko Tingkir buru-buru bangkit dan menahan emosi.


“Kenapa kau mengikutiku, hah?!” balas Tembangi pula tidak kalah garang.


“Aku tidak mengikutimu. Aku memang ke arah itu!” sangkal Joko Tingkir.


“Bohong kau, Tingkir!” tukas Tembangi Mendayu melotot cantik. Ia sudah ingat nama sahabatnya Joko Tenang itu.


“Eh, kau sudah ingat namaku. Memang jodoh, hehehe,” kata Joko Tingkir cengengesan, senang namanya telah diingat. Namun, mendadak ia kembali galak juga, “Aku mau pergi ke Padepokan Hati Putih, apakah aku salah jika memilih jalan ini?”


Tembangi Mendayu jadi terdiam dengan tatapan yang tetap tajam kepada Joko Tingkir. Ia lalu meraih tali kekang kudanya dan melompat naik duduk di pelana.


“Jangan mengikutiku, Tingkir!” ancam Tembangi Mendayu.


“Aku tidak akan mengikutimu, Nisanak Galak. Suatu saat nanti, kau pasti akan mengejar-ngejar aku!” kata Joko Tingkir kesal.


“Namaku Tembangi Mendayu, bukan Nisanak Galak. Ingat itu. Jika sekali lagi kau menyebutku Nisanak Galak, aku hajar kau!” ancam Tembangi Mendayu.


Tembangi Mendayu lalu menggebah kudanya meninggalkan Joko Tingkir.


“Aku akan merindukanmu, Tembangi!” teriak Joko Tingkir setelah gadis dan kudanya agak menjauh. Setelah itu, Joko Tingkir tersenyum senang. Lalu ucapnya lirih, “Tembangi Mendayu.”


Joko Tingkir lalu kembali meraih kuda dan naik ke punggungnya. Ia melanjutkan perjalanannya ke arah kepergian Tembangi Mendayu.


“Orang banyak mengerumuni apa itu?” tanya Joko Tingkir dalam hati, setelah beberapa lama ia berkuda sendiri lagi.


Joko Tingkir melihat di depan sana ada kerumunan orang. Memang tidak banyak, tetapi bisa disebut kerumunan karena mereka berdiri berdekatan di satu titik. Di sana pun ada seekor kuda.


“Sepertinya itu kuda Tembangi Mendayu,” batin Joko Tingkir. “Hah! Jangan-jangan Tembangi Mendayu….”


Joko Tingkir mempercepat kudanya dan dalam waktu singkat sudah tiba di belakang kerumunan. Orang-orang yang berkumpul adalah warga desa terdekat yang saat itu melintas dari area sungai.


“Permisi, permisi!” kata Joko Tingkir bernada agak panik sambil menembus celah-celah tubuh warga.


Saat ia menyibak rapatnya kerumunan yang menghadap kepada semak-semak ilalang pinggir jalan, Joko Tingkir melihat keberadaan Tembangi Mendayu. Gadis itu sedang berjongkok, membuat Joko Tingkir lega.


Namun, Tembangi Mendayu sedang menekuni sesosok tubuh lelaki tua yang tergeletak di semak dalam kondisi telah menjadi mayat. Lelaki tua itu berpakaian serba putih, kumis dan jenggotnya panjang. Tubuh atasnya hanya mengenakan kain putih selempangan.


“Resi Tambak Boyo!” sebut Joko Tingkir terkejut setelah mengenali sosok mayat lelaki tua itu.


“Jangan sentuh mayatnya!” seru Tembangi Mendayu cepat sebelum Joko Tingkir menyentuh mayat itu. “Mayatnya beracun.”


Di sisi kanan leher ada lubang sebesar jari yang menjadi pintu keluarnya darah yang deras. Pada kain selempangan yang menutupi badan atas Resi Tambak Boyo tertera serangkai kalimat.


“Penghuni Bukit Biru mati di Gerbang Hati Putih,” baca Joko Tingkir dengan wajah terkejut.


“Kau mengerti maksud tulisan itu?” tanya Tembangi Mendayu, kali ini tidak galak lagi.


“Bukit Biru adalah tempat perguruanku. Apakah yang dimaksud aku yang mati?” ucap Joko Tingkir bingung.


“Berarti kau akan mati di gerbang Padepokan Hati Putih!” sahut seorang wanita dari antara kerumunan warga.


Joko Tingkir dan Tembangi Mendayu cepat menengok ke belakang.


“Kakak!” sebut Tembangi Mendayu yang langsung mengenali sosok wanita berpakaian kuning dan bercadar kuning. Wanita bertombak kayu itu adalah Gadis Cadar Maut, kakak dari Tembangi Mendayu. (RH)