
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Ketika Joko Tenang dan Permaisuri Sri Rahayu pergi mencari Ratu Aninda Serunai, tanpa dikehendaki mereka berdua bertemu dengan Raksasa Biru yang berjalan sendiri di sebuah lorong.
“Hormat hamba, Gusti Prabu, Gusti Putri!” ucap Raksasa Biru dengan suara besarnya yang serak-serak sumbang.
“Oh, Raksasa Biru. Bangkitlah!” sapa Joko Tenang seraya tersenyum manis. Lalu katanya setelah orang besar berkulit biru itu tegak kembali, “Kita berjumpa kembali.”
“Raksasa Biru, Prabu Dira adalah suamiku. Kami ingin menjatuhkan Ratu Aninda Serunai dari tahta. Aku bertanya kepadamu. Kau memilih mengabdi kepada Ratu Aninda Serunai atau Prabu Dira dan aku?” tanya Sri Rahayu.
“Aku memilih mengabdi kepada Gusti Prabu Dira. Pada pertandingan dulu, nyawaku ada di tangan Gusti Prabu!” jawab Raksasa Biru seraya menjura hormat.
“Jika demikian, pergilah periksa para pendekarku yang sedang bertarung di dalam Istana ini!” perintah Joko Tenang.
“Baik, Gusti Prabu!” ucap Raksasa Biru.
“Pergilah!” perintah Joko Tenang.
“Hamba mohon diri, Gsuti Prabu!”
Setelah menghormat, Raksasa Biru pergi. Melalui jalan yang berbeda dengan yang ditempuh oleh rombongan Raja Anjas, Raksasa Biru pergi mencari para pendekar yang bertarung di dalam Istana.
Brasss!
Setelah ke sana dan ke mari, pada satu waktu, Raksasa Biru mendengar suara ledakan yang berbeda dari biasanya. Namun, ia yakin bahwa itu adalah suara ledakan tenaga sakti.
Raksasa Biru segera berjalan ke arah satu ruangan. Ketika ia masuk, dilihatnya seorang lelaki tua gemuk berkulit hitam dalam kondisi berlutut lemah. Lucunya lagi, selain sebagian baju depan, wajah dan kepalanya hangus, ia hanya mengenakan cawat warna kuning, warna yang pas dengan warna kulitnya. Itulah Setan Ngompol yang baru menang melawan Lemak Iblis.
Kondisi Setan Ngompol sudah lemah dan tidak berdaya. Ia menderita luka parah, termasuk ia mengalami rasa sakit pada *********** yang baru saja usai mengeluarkan senjata rahasia.
Raksasa Biru juga melihat tergeletaknya tiga tubuh, yaitu dua orang kakek dan seorang nenek rambut merah. Ketiganya tidak lain adalah Lemak Iblis, Ki Bandel Perawan dan Nenek Rambut Merah.
Karena Setan Ngompol yang terlihat masih hidup, Raksasa Biru mendatangi Setan Ngompol. Lelaki bau pesing itu hanya pasrah. Ia pun sudah tidak bisa mengeluarkan tenaga dalam atau ilmu apa pun.
“Siapa kau?” tanya Raksasa Biru sambil mengerenyitkan hidung, saat ia berhenti di depan Setan Ngompol.
“Kau siapa?” Setan Ngompol justru balik bertanya.
“Aku Raksasa Biru, abdi di istana ini,” jawab Siluman Biru. “Siapa kau?”
“Aku adalah Setan Ngompol,” jawab Setan Ngompol jujur.
“Pantas baumu seperti bau kakus neraka!” rutuk Raksasa Biru.
“Hahahak!” Mendengar perkataan Raksasa Biru, tawa Setan Ngompol langsung meledak. “Eh eh eh! Yaaa bocor. Aaak!”
Benar-benar jorok Setan Ngompol. Karena dia hanya bercawat, jadi terlihat jelas air pipisnya yang mengalir membasahi kedua pahanya dan yang menetes ke lantai. Kali ini pipisnya membuat ia menjerit kesakitan, karena kelelakiannya memang sedang sakit, akan semakin sakit jika ia kencing.
“Dasar kakek jorok!” maki Raksasa Biru. Lalu tanyanya, “Kau bertarung untuk siapa?” tanya Raksasa Biru.
Setan Ngompol tidak langsung menjawab. Ia sedikit mendongak menatap tajam Raksasa Biru.
“Jika aku menjawab Ratu Aninda Serunai, dia pasti tidak akan membunuhku,” kata Setan Ngompol, tapi di dalam hati.
“Jawab!” bentak Raksasa Biru.
“Aku bertarung untuk Prabu Dira!” jawab Setan Ngompol lantang. Ia adalah pendekar dan harus berani mati sebagai seroang pendekar.
“Jadi kau adalah orangnya Gusti Prabu Dira. Jika begitu, katakan, apa yang bisa aku bantu!” kata Raksasa Biru.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Setan Ngompol.
“Aku abdi di istana ini. Aku abdi Gusti Prabu Dira dan Putri Sri Rahayu,” jawab Raksasa Biru.
Raksasa Biru mengedarkan pandangannya untuk mencari celana dan sarung. Ia melihat keberadaan celana dan sarung yang dimaksud.
Raksasa Biru pergi memungut celana dan sarung pesing Setan Ngompol. Jika bukan karena baktinya kepada Joko Tenang dan Sri Rahayu, ia tidak akan sudi melakukan hal itu, terlebih harus memungut celana dan sarung yang benar-benar mengganggu fungsi panca indera.
Raksasa Biru lalu melayani Setan Ngompol. Ia bahkan memakaikan celana bagi Setan Ngompol. Sarungnya diikatkan di leher pemiliknya.
“Tolonglah Nenek Rambut Merah, dia masih hidup,” kata Setan Ngompol.
Maka kemudian, dipanggullah kedua orang tua itu di bahu kanan dan kiri.
Raksasa Biru lalu pergi membawa kedua saudara seperguruan tersebut. Setibanya di sebuah koridor yang lantai dan dindingnya berantakan, Raksasa Biru mendapati keberadaan Petra Kelana dan Bidadari Wajah Kuning.
“Turunkan kedua teman kami!” seru Bidadari Wajah Kuning cepat kepada Raksasa Biru.
Petra Kelana yang baru saja mengalahkan Raja Tanpa Istana, melangkah menghadang makhluk besar biru itu.
“Aku hanya menolong mereka,” jawab Raksasa Biru.
“Menolong?” ucap ulang Petra Kelana, seakan tidak percaya.
“Aku diperintahkan Gusti Prabu Dira untuk memeriksa kondisi para pendekar Gusti Prabu,” jelas Raksasa Biru.
“Oh,” desah Petra Kelana mengerti.
“Aku semakin terkagum dengan Prabu Joko. Bahkan di sarang musuh pun dia memiliki abdi seperti ini,” ucap Bidadari Wajah Kuning seraya tersenyum kesemsem mandiri.
“Ratu Aninda Serunai telah kalaaah!” teriak seorang prajurit yang tiba-tiba datang berlari.
“Waw!” ucap Petra Kelana dan Bidadari Wajah Kuning bersamaan.
Mereka jelas-jelas tidak menyangka bahwa Joko Tenang dan Sri Rahayu bisa mengalahkan orang tersakti di dunia.
“Gila. Prabu Joko bisa mengalahkan orang tanpa tanding dalam waktu yang cepat. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa kita dapat merebut Kerajaan Siluman dalam waktu yang begitu singkat?” kata Petra Kelana.
“Karena pemimpin kita memang lelaki yang luar biasa, dambaan semua wanita,” kata Bidadari Wajah Kuning.
“Apa hubungannya dengan dambaan semua wanita?” tanya Petra Kelana sambil melirik si nenek cantik.
“Hihihi…!” tawa Bidadari Wajah Kuning berkepanjangan.
“Turunkan keduanya, biar aku memperingan luka mereka!” perintah Petra Kelana kepada Raksasa Biru.
Dengan bantuan Petra Kelana, maka Setan Ngompol dan Nenek Rambut Merah bisa diringankan lukanya. Pengobatan itu tidak bisa memulihkan sehat sepenuhnya, tetapi setidaknya bisa membuat Setan Ngompol dan Nenek Rambut Merah berjalan kembali.
Sementara itu di taman batu.
Terjadi dialog antara Raja Anjas dan Ropo Bunang, di saat Guru Peri Setan sedang dikeroyok oleh empat orang wanita muda.
“Siapa kau sebenarnya, Kisanak? Apa hubunganmu dengan Ki Ageng Kunsa Pari?” tanya Ropo Bunang, setelah dia melihat Anjas melepaskan ilmu Surya Langit Jagad terhadap ilmu Putri Mata Merah.
“Aku Raja Anjas, calon suami Ratu Kerajaan Siluman yang sesungguhnya. Ki Ageng Kunsa Pari adalah abdiku,” jawab Anjas.
Terkejutlah mendengar status Anjas.
“Sebentar lagi teman wanitamu itu kalah. Bagaimana denganmu, Tetua? Saat ini jumlah kami lebih banyak,” kata Anjas.
Ropo Bunang terdiam. Ketika ia bertarung dengan Raja Anjas beberapa saat lalu, ia bisa mengukur setinggi apa kesaktian lawannya itu.
Akhirnya perkiraan Anjas terjadi, Guru Setan Merah kalah dan berujung kematian.
Tiba-tiba seorang prajurit datang berlari ke sisi taman dan berteriak.
“Ratu Aninda Serunai sudah kalaaah!” (RH)