8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 41: Joko Tenang Datang


*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)* 


 


Zersss!


Kiiik!


Semua orang yang mengetahui Permaisuri Tirana jatuh ke jurang, khususnya para permaisuri yang lain, jadi terkejut saat mendengar suara dari dalam jurang, di susul suara pekikan yang khas, yang pernah didengar oleh para permaisuri.


Itu suara yang menyenangkan dari Cincin Mata Langit. Selanjutnya, makhluk sinar merah raksasa muncul melesat terbang dari dalam jurang. Burung raksasa bersayap capung, itulah penghuni Cincin Mata Langit yang ditunggangi oleh Permaisuri Tirana.


Putri Aninda Serunai yang berdiri menghadap ke luar gua jadi terkejut dan menengok ke belakang.


Wuss!


Makhluk burung sinar itu menyambar kepala Aninda Serunai, bertepatan ketika dia menengok. Namun, sambaran itu tidak membuat Aninda Serunai terbakar yang biasanya berlaku pada orang kebanyakan.


“Jangan ambil risiko!” teriak Tirana sambil mendarat di antara para madunya.


Sementara burung sinar merah ambyar di udara, lalu serbuk sinarnya melesat masuk ke dalam tubuh Tirana.


Para pendekar kebanyakan yang menyaksikan pertunjukan menakjubkan itu hanya bisa menganga takjub.


“Perintahkan semua pasukan mundur!” perintah Tirana.


“Pasukan Pengawal Bunga, mundur!” teriak Kerling Sukma selaku permaisuri yang membawahi Pasukan Pengawal Bunga.


“Pasukaaan, munduuur!” teriak Senopati Batik Mida pula dengan lantang.


Maka, Pasukan Pengawal Bunga dan pasukan prajurit yang mengeroyok habis Kelompok Tinju Dewa dan Jago Sodok semuanya bergerak mundur. Mereka yang sedang bertarung atau sedang terluka, semuanya menjauhi mulut gua.


Pergerakan pasukan Kerajaan Sanggana Kecil membuat para pendekar yang menjadi penonton sejak tadi jadi was-was juga, sebagian ikut bergerak menjauh dari mulut gua. Sementara Dewi Bayang Kematian memilih bertahan.


“Minggiiir! Hihihi!” teriak Sandaria nyaring yang disusul dengan tawanya.


Ternyata permaisuri mungil itu sudah memasang diagram sinar kuning berbentuk lingkaran yang berdiri tegak di udara. Ia siap menembakkan ilmu Putaran Dewa Perang.


Zeeeng!


Lingkaran itu berputar cepat pada posisinya. Suara dengungannya terdengar menyeramkan di telinga.


Kini tidak ada yang menghalangi antara diagram dengan mulut gua, di mana ada Aninda Serunai berdiri menunggu.


“Satu, dua, sepuluuuh!” teriak Sandaria.


“Hahaha…!” tawa para pendekar yang mendengar hitungan Sandaria.


Zeng zeng zeng…!


Blar blar


Dari diagram itu melesat bola-bola sinar kuning tanpa henti menghujani sosok Aninda Serunai.


“Ye ye ye!” sorak Sandaria sambil menggenjot-genjot tubuhnya tanpa melompat, membuatnya terlihat lucu.


“Waw!”


“Gila!”


“Uedaaan!”


Para pendekar kebanyakan hanya bisa terperangah dan memuji dengan kata-kata negatif.


Sedemikian gencarnya serangan bola sinar kuning sampai-sampai sosok Aninda Serunai tidak terlihat, tertutupi oleh ledakan yang begitu rapat.


Zerzzz!


Namun, tiba-tiba dari balik ledakan-ledakan sinar kuning itu melesat aliran sinar merah tanpa putus.


“Awas, Sandaria!” teriak Sri Rahayu memperingatkan.


Sandaria yang sedang berjoget koplo jadi terkejut lalu buru-buru melompat mundur.


Bluar!


Ketika ujung aliran sinar itu mengenai diagram sinar kuning, ledakan hebat terjadi. Para permaisuri, Murai Manikam dan Dewi Bayang Kematian berjengkangan. Berbeda dengan Sandaria, ia terlempar dahsyat terlalu jauh dan jatuh menabrak akar pohon.


“Gusti Permaisuri!” sebut Sugigi Asmara dan Nyi Mut bersamaan sambil, berlari mendapati junjungannya.


Para serigala juga segera berlarian mendapati tuannya.


Dengan hancurnya Putaran Dewa Perang, maka berhenti pula serangan terhadap Aninda Serunai. Dengan cepat wujud Aninda Serunai kembali terlihat terang tanpa tabir. Ia baik-baik saja. Terlihat kini ketinggian dagunya semakin naik yang menunjukkan kebanggaan dan kepongahannya.


“Hihihi…!” Semakin kencang tawa kebanggaan Aninda Serunai.


“Roh Langit Empat!” teriak Tirana memanggil. Lalu teriaknya lagi, “Serentak ilmu tertinggi!”


Kerling Sukma segera melompat maju dengan kedua tangan bersinar ungu menyilaukan. Ia mengeluarkan ilmu Roh Langit Empat, ilmu tertinggi dari semua ilmu yang para permaisuri itu miliki.


“Permaisuri Yuo Kai, jangan gunakan benangmu!” teriak Sri Rahayu memperingatkan saat melihat Permaisuri Negeri Jang hendak mengandalkan benang saktinya.


Tirana kembali naik ke udara dengan bola sinar dua warnanya. Murai Manikam menggenggam gumpalan sinar hitam dengan kedua tangannya yang siap dilepaskan, mirim gaya Goku mengeluarkan Kamehameha.


Ceklek!


Sebelum lawan-lawannya melepaskan ilmu-ilmu tertinggi mereka, Aninda Serunai memutar satu lingkaran pada tengah tongkat, membuat tongkat miliknya kian memanjang menjadi setengah depa.


Sess! Brossr! Swiit! Siuut!


Zerzz…!


Bluar bluar blar…!


Kerling Sukma melesatkan dua sinar ungu menyilaukan mata, Tirana melepaskan dua sinar dua warnanya, Murai Manikam melesatkan bola sinar hitam, dan Dewi Bayang Kematian melesatkan sinar hijau berbentuk spiral.


Tidak seperti tadi, kali ini Aninda Serunai menyambut semua serangan itu dengan menghentakkan tangan kanannya. Dengan lebih panjangnya Tongkal Jengkal Dewa, maka cara kerjanya pun bertambah.


Keenam sinar ilmu kesaktian itu disambut oleh aliran sinar merah yang berujung pada ledakan dahsyat di tengah jarak.


Yang terjadi adalah Tirana, Kerling Sukma, Murai Manikam, dan Dewi Bayang Kematian terpental semua dengan luka dalam parah yang bervariasi.


Zerzz zerzz zerzz…!


Zwersss…!


Menyusul serangan petir bersusul-susulan dari sisi atas, di mana Sri Rahayu melayang di udara dengan asap hitam yang menyeramkan. Namun, petir-petir yang menghujani tubuh Aninda Serunai tidak memberi efek apa pun.


Pada saat yang sama, Yuo Kai mengerahkan ilmu Bulan Biru. Sinar biru besar yang mengambang di atas kepalanya ia lesatkan ke depan. Bola sinar biru besar itu melesat lalu pecah menjadi ratusan sinar biru kecil, menghujani tubuh Aninda Serunai.


Serzz!


Bluar! Blaar!


Dua aliran sinar merah dari Tongkat Jengkal Dewa melesat membalas. Satu menyerang ke atas dan satu menyerang Yuo Kai.


Sinar dari Tongkat Jengkal Dewa menghantam sebuah dinding gaib yang tidak terlihat, menimbulkan ledakan di tengah jarak. Namun, ledakan akibat aliran sinar merah yang menghantam ilmu perisai Dinding Tanpa Wujud itu, melempar tubuh Sri Rahayu jauh.


Tubuh Yuo Kai juga terpental jauh, saat ilmu perisai Ruang Darah Naga yang berwujud lapisan sinar merah dihantam ujung aliran sinar merah.


Yuo Kai jatuh keras di tanah kering lalu muntah darah.


Lebih beruntung nasib Sri Rahayu, dia jatuh dari atas tanpa menghantam bumi, karena sepasang lengan kekar menangkap tubuhnya, meski pada akhirnya ia juga memuntahkan darah panas.


“Hormat sembah kami, Gusti Prabu!” ucap seluruh prajurit Kerajaan Sanggana Kecil yang melihat kemunculan rajanya. Suara penghormatan dari ratusan orang itu menggema penuh semangat.


“Hormat sembah kami, Kakang Prabu!” ucap para permaisuri yang dalam keadaan terluka parah semua.


“Bangkitlah!” seru Joko Tenang lalu pergi menghampiri Yuo Kai dan membantunya berdiri.


Semua prajurit segera berdiri.


“Joko!” sebut Limarsih dan Dewi Bayang Kematian bersamaan. Mereka senang melihat kedatangan Joko. Dan secara kebetulan, posisi keduanya hanya berjarak dua tombak.


Limarsih dan Dewi Bayang Kematian jadi saling pandang dengan tatapan tajam. Dewi Bayang Kematian menyeka darah pada dagunya akibat luka dalam yang dideritanya.


“Aku akan berhadapan dengan adikku. Jika terjadi sesuatu denganku, pimpin semua permaisuri dan pasukan untuk mundur ke Jurang Lolongan. Ingat, taati perintah, jangan turuti perasaan!” kata Joko Tenang kepada Tirana setengah berbisik.


“Baik, Kakang Prabu!” ucap Tirana.


“Jadi ini pewaris Tongkat Jengkal Dewa yang istrinya banyak itu,” ucap Murai Manikam, tapi dalam hati, sehingga tidak terdengar oleh Kerling Sukma yang ada di sisinya.


Joko Tenang lalu melangkah menuju mulut gua yang bentuknya sudah porak-poranda dan penuh kubangan besar yang kering, akibat berbagai serangan yang mendera Aninda Serunai. (RH)