
*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*
“Kau yang lebih mengenal muridmu, Kunsa Pari. Jika seandainya Joko Tenang tahu bahwa Nara adalah mantan kekasihmu, bahkan baru saja aku dengar dari Serigala Perak, salah satu istri Joko adalah murid Nara sendiri, apakah Joko akan mungkin melakukannya dalam kondisi normal?” tanya Dewa Kematian yang berdiri di sisi Ki Ageng Kunsa Pari yang murung, sambil memandang alam lepas.
Ki Ageng Kunsa Pari hanya terdiam, tidak menjawab.
“Joko Tenang tidak bisa menceritakan apa alasannya kepadaku. Aku hanya menduga, ada hal yang mungkin sifatnya sangat rahasia, sehingga dia tidak mau mengatakannya. Kita adalah dua lelaki yang sama-sama pernah mencintai Nara, meski pada masa yang berbeda. Meski sekarang kita bukan siapa-siapa dari Nara, tetapi aku adalah kakek buyut Joko dan kau adalah gurunya Joko. Mau tidak mau mungkin kita akan sering berjumpa dengan Nara, membuat kenangan hadir hanya untuk menyayat perasaan kita,” kata Dewa Kematian lagi.
“Apakah mereka bahagia?” Ki Ageng Kunsa Pari akhirnya bersuara.
“Aku melihatnya demikian. Apakah kau mengharapkan mereka tidak bahagia?”
“Aku guru yang menyayangi murid.”
“Nara adalah salah satu Dewi Bunga. Itu posisi yang sangat dia tolak ketika dia menjadi kekasihku. Tidak mungkin dia akan menerima itu lagi jika bukan karena alasan yang sangat kuat. Lapangkanlah dada dan hatimu demi kepentingan dunia persilatan. Aku melihat Joko orang lurus. Dia lebih lurus dibandingkan aku yang dulu memiliki dosa. Kau bisa bayangkan, bagaimana istri-istrinya bisa bersatu berjuang bersama-sama di Gua Lolongan. Ini sudah suratan takdir bagi Nara untuk bersuamikan Joko. Aku rasa Nara juga sudah memikirkan risiko yang dia hadapi jika menikah dengan Joko, yang bahkan di antara istri Joko adalah muridnya sendiri. Jika dia mau memikirkan rasa malu itu, mungkin dia tidak akan hadir dalam pertemuan ini. Namun, kepatuhannya kepada suaminya membuat ia rela menerima amarah dan caci maki kita,” tutur Dewa Kematian.
Ki Ageng Kunsa Pari hanya terdiam ketika Dewa Kematian berhenti berkata.
“Aku rasa kita semua sepakat, tidak ada larangan murid menikahi mantan kekasih guru. Atau guru berbagi suami dengan muridnya. Hanya, memang terasa kurang elok. Kau bisa menanyakannya langsung kepada Joko Tenang nanti. Meski Joko adalah bagian dari keluarga kita, tetapi ketika sebelum menikah, Nara sudah bukanlah siapa-siapa kita,” kata Dewa Kematian.
Setelah itu, tahu-tahu tubuh Dewa Kematian ambyar menjadi partikel-partikel yang sangat kecil dan jutaan jumlahnya, melesat terbang meninggalkan bibir tebing batu itu. Ki Ageng Kunsa Pari diam saja, merenung.
Pada saat yang sama, Minati Sekar Arum alias Malaikat Kipas Merah juga sedang berbicara kepada Dewi Mata Hati dari hati ke hati. Dari semua tokoh tua sakti yang hadir di tempat itu, hanya Minati yang layak dan mungkin untuk mempengaruhi pendirian Nara. Minati memiliki usia yang sedikit lebih tua dari Nara.
Inti dari bujukan Minati Sekar Arum kepada Nara adalah agar istri Joko itu tidak pergi bertindak mengikuti amarah dan dendam, agar Nara mau ikut dalam pertemuan nanti malam, meski berisiko mendapat tatapan sinis dari tokoh yang lain, kecuali Joko memerintahkan yang lain.
Bujukan dan nasihat Minati Sekar Arum ternyata mengena dan Nara mengaku mengerti. Ia akan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, sebagaimana pelajaran kewarganegaraan yang pernah dimakan di bangku sekolahan dahulu.
Sementara itu, terlihat ada kesibukan yang dilakukan oleh murid-murid Perguruan Bukit Dalam di pinggang bukit. Kegiatan itu dipimpin oleh Gentabaya, salah satu murid senior di perguruan itu.
Puluhan murid itu membentuk sebuah formasi. Mereka duduk dalam bentuk tiga baris yang tingginya bersusun. Mereka semua duduk menghadap ke arah tebing yang pada sisi atasnya ada Awan Batu, tempat sejumlah tokoh tua bersantai ria bak sedang liburan di negeri cowboy.
Para tokoh tua itu hanya menonton dari atas tebing sambil membincangkan isu terhangat agar tidak ketinggalan gosip terbaru.
Apa yang dilakukan oleh para murid Perguruan Bukit Dalam itu, berlatar informasi dari Dewa Kematian yang ia sampaikan hanya kepada Tiga Malaikat Kipas dan Ganesa Putih.
“Salah satu jalan keluar yang mungkin dilalui oleh Dewi Geger Jagad adalah Pintu Bawah Awan. Apakah kau tahu tentang Pintu Bawah Awan itu, Rawa Banggir?” kata Dewa Kematian.
“Tidak,” jawab Rawa Banggir.
“Rupanya ayahmu tidak memberi tahu kepadamu. Pintu Bawah Awan ada di bawah Awan Batu,” jelas Dewa Kematian.
“Hah!” kejut Rawa Banggir. “Kira-kira kapan Dewi Geger Jagad akan tiba jika dia melewati Pintu Bawah Awan?”
“Appa?!” pekik Ki Rawa Banggir. “Jika begitu, akan aku sambut kedatangannya dengan Badai Timur Perusak Harapan!”
Seorang murid perguruan datang menghadap Ki Rawa Banggir di kediamannya itu.
“Hormatku, Guru! Hormatku Tetua!” ucap pemuda berusia empat puluhan tahun itu seraya menghormat dua kali.
“Bagaimana pengamatanmu di Gua Lolongan?” tanya Ki Rawa Banggir.
“Kisruh di Gua Lolongan sudah berakhir, Guru. Pusaka di Gua Lolongan berhasil dimiliki oleh seorang wanita. Dia tidak terkalahkan….”
“Bagaimana dengan Joko?” tanya Ewit Kurnawa cepat, memotong perkataan murid tersebut.
“Mati jatuh ke jurang, Tetua!” jawab murid itu dengan nada lebih bersemangat.
“Apa?!” kejut kelima orang tua itu.
“Tidak. Aku rasa Joko tidak mati, tapi jangan-jangan…” ucap Dewa Kematian lalu mengambang kata-katanya.
“Maksudmu, Joko adalah orang yang membangkitkan Dewi Geger Jagad?” terka Minati Sekar Arum.
“Benar. Joko memiliki Rompi Api Emas. Jika dia jatuh ke jurang masih dalam kondisi hidup, dia tidak akan mati meski jatuh ke dalam jurang sedalam apa pun,” kata Dewa Kematian.
“Kenapa kondisi yang terjadi bisa sekusut ini?” tanya Ki Rawa Banggir yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.
“Mungkin Joko tidak akan mati bila jatuh ke jurang, tetapi mungkin dia akan mati di tangan Dewi Geger Jagad,” kata Iblis Timur yang membuat semua memandang kepada lelaki tua kurus itu.
“Jika Joko Tenang jatuh ke jurang, lalu bagaimana dengan para permaisurinya?” tanya Dewa Kematian kepada sang utusan.
“Pasukan Joko Tenang dan para istrinya sedang mundur ke mari, Guru. Mereka sudah tiba di dasar jurang pertama!” kata murid utusan tersebut.
“Sampaikan kepada penjaga Gerbang Bukit Dalam agar membiarkan mereka semua masuk!” perintah Ki Rawa Banggir.
“Baik, Guru!”
Ketika matahari mulai condong ke barat, para permaisuri Kerajaan Sanggana Kecil dan seluruh pasukannya akhirnya melewati Gerbang Bukit Dalam.
Layaknya tamu agung yang datang, rombongan itu disambut langsung oleh Ki Rawa Banggir dan keempat istrinya, bersama hampir oleh semua tamu yang sudah tiba. Para tokoh sakti itu sangat penasaran dengan cerita yang digembar-gemborkan oleh Datuk Kramat, orang yang pada hari itu ditolong oleh para istri Joko dan menyaksikan langsung kesaktiannya.
Ternyata rasa tidak pernah mengenal usia. Kendati sudah pada tua-tua martabak bangka, tetapi para tokoh senior itu tetap saja terpesona melihat kecantikan para permaisuri yang menunggangi serigala, meski saat itu wajah-wajah mereka terlihat lelah dan lusuh karena lukanya.
Luka dalam para permaisuri serta Murai Manikam dan Dewi Bayang Kematian sudah tidak separah sebelumnya. Ilmu pengobatan Kecupan Malaikat Tirana membuat luka mereka menjadi lebih ringan. Membutuhkan pengobatan lanjutan dan istirahat yang cukup untuk sembuh. (RH)