8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Pepes 6: Pasukan Maju


*Perang Pendekar Sanggana (Pepes)*


 


“Maju!” teriak Siluman Angin Api kencang kepada pasukannya.


Breg breg breg…!


Sebanyak dua ribu lebih pasukan bergerak maju memasuki Lereng Tiga Mata yang tanahnya miring, dari Gunung Prabu miring ke Hutan Malam Abadi. Sebanyak tiga ratus pasukan berkuda berada di belakang. Sementara Senopati Siluman Pagar Maut dan pasukannya tetap di tempatnya di belakang.


“Berhenti!” teriak Siluman Angin Api lagi.


Pasukan yang sudah maju sejauh seratus kaki kembali berhenti. Sementara pasukan Sanggana Kecil tetap menunggu, baik mereka yang terlihat maupun mereka yang bersembunyi di atas gunung atau di dalam hutan.


“Sepuluh Siluman Angin, maju sampai musuh!” perintah Siluman Angin Api.


Terkejut sepuluh orang yang termasuk kelompok Sepuluh Siluman Angin, sebab itu sama saja seperti tindakan bunuh diri.


“Siap!”


Namun, kesepuluh pendekar siluman itu tetap menjawab patuh.


Sepuluh orang lelaki muda berusia kisaran tiga puluh sampai empat puluh tahun segera berkelebat lalu berlari cepat. Kesepuluh lelaki berpakaian putih-putih itu berlari cepat memasuki dan melintasi Lereng Tiga Mata.


Mereka berlari seperti tidak menginjak tanah. Ilmu peringan tubuh mereka terbilang tinggi. Mereka terus maju.


“Hihihi…!” tawa Ratu Puspa girang melihat musuh sudah ada yang maju.


“Bayi Kelinciku, sepertinya mereka mengirim kelompok pendekar hanya sebagai pancingan. Mereka curiga kita akan menjebak mereka,” kata Abna Hadaya.


“Puspa tidak peduli mereka mengirim kecoa terbang atau kecoa pasrah. Mana tanda perangnya?” kata Puspa mulai tidak sabaran. Ia menunggu tanda tiupan terompet tanduk.


“Sabar,” kata Abna Hadaya.


“Mereka sudah melewati separuh lereng!” kata Puspa jengkel. Ia lalu berteriak kencang, “Getara Cintaaa! Mana terompetnyaaa!”


Sementara di dalam Hutan Sanggana, Ratu Getara Cinta terus mengamati pergerakan musuh.


“Mereka semakin dekat, kenapa Gusti Ratu belum memulai perang?” tanya Tirana.


“Biarkan sepuluh orang itu tidak menjadi bagian dari perang kita, tapi biarkan menjadi korbannya Ratu Puspa dan Ki Renggut Jantung,” jawab Ratu Getara Cinta.


Sementara itu, di kubu musuh, Siluman Angin Api tampak gusar melihat kondisi yang berkembang.


“Keparat! Mereka membiarkan Siluman Angin datang kepada mereka!” maki Siluman Angin Api. Lalu teriaknya, “Panglima Siluman Merah! Jika pasukanku sudah sampai di tengah lereng, kirim pasukanmu menyerang!”


“Baik, Panglima!” jawab Siluman Merah.


Siluman Merah adalah seorang lelaki tinggi tetapi berperut buncit. Dia seorang yang berkulit putih, tidak ada warna merah pada tubuh atau pakaiannya. Ia dinamai Siluman Merah karena jika dia sudah marah, kulit wajahnya akan memerah benar-benar seperti warna kepiting rebus. Ia bersenjatakan pedang berwarna biru gelap.


“Pasukan Siluman Tingkat Dua, majuuu!” teriak Siluman Angin Api lantang.


Maka sebanyak seratus lebih pendekar bernama “Siluman” segera berlari bersama-sama memasuki medan perang. Ada yang berlari, ada yang berkelebat dengan ilmu peringan tubuhnya, bahkan ada yang melompat-lompat seperti kodok.


Sementara itu, Sepuluh Siluman Angin semakin mendekati posisi Ratu Puspa dan pasukannya yang belum diperintahkan maju menyongsong musuh.


“Woiii, Getara Ulat! Terompet perangnyaaa!” teriak Puspa kesal.


Setelah menunggu sebentar dan tidak ada juga suara terompet, akhirnya Puspa kehabisan kesabaran.


“Kerbau Ganteng! Ayo garuuuk!” teriak Puspa lalu melesat maju menyongsong kesepuluh Siluman Angin.


“Siap, Bayi Kelinciku!” teriak Abna Hadaya bersemangat, lalu ikut melesat maju.


Begitu cepat tubuh Puspa maju, lalu melompat menerjang dengan gaya tubuh berputar silinder. Puspa menjadikan kedua ujung kakinya yang menyatu sebagai tombak hidup, mengarah tengah-tengah rombongan sepuluh orang itu. Kandungan tenaga dalam tinggi begitu terasa pada kaki Puspa.


Dengan sigap dua orang yang diterjang oleh Puspa mengelak ke samping.


Crass! Crass!


Saat tubuh Puspa melesat seperti tombak di sisi tubuh dua lawan yang menghindar, kedua tangan Puspa merentang dengan cakaran menyambar leher samping kedua musuh yang terjangkau. Sepuluh cakaran Puspa yang menyala kuning seperti warna lava, merobek hangus leher kedua lawannya.


Kedelapan anggota Sepuluh Siluman Angin terkejut melihat kematian kedua rekannya dalam satu gebrakan saja.


Ki Renggut Jantung datang pula dengan serangan tangan dan kaki yang cepat, tetapi sanggup diladeni oleh para pendekar muda itu.


Crak! Crak!


“Hekh! Hekh!” keluh dua orang pemuda yang mengepung Abna Hadaya.


Baru saja mereka hendak menyerang Abna Hadaya dengan ilmu anginnya, tiba-tiba mereka merasakan sakit yang teramat sangat pada jantungnya. Setelahnya, darah termuntah melalui mulut. Kedua pemuda itu tumbang tanpa nyawa karena jantung mereka telah hancur digenggam oleh Abna Hadaya dari jarak jauh.


Wuss! Wuss! Bsuss!


Dua angin pukulan dilepas bersamaan menyerang Puspa. Namun hebatnya Puspa, ia justru melompat meluncur seperti putaran mata bor menembus kekuatan angin yang seharusnya menerbangkannya.


Pemilik angin pukulan terkejut lalu buru-buru menghentakkan tangannya yang lain dengan kepal tinju berbayang bola udara.


Tsuk! Bluar!


“Aakk!”


Ujung jari-jari tangan Puspa yang menjadi mata bor putaran tubuhnya, menancap tepat pada tinju si pemuda. Ledakan tenaga sakti terjadi keras. Tinju sakti pemuda itu beradu dengan ilmu Genggam Inti Bumi Puspa.


Puspa memang terpental liar, tetapi dia dengan tangguh mendarat normal di tanah. Sementara lawannya terpental liar dengan nyawa yang sudah melayang. Tangan kirinya hancur hingga lengan.


Wuss!


Abna Hadaya meloncat tinggi saat ada serangan angin beracun dari lawannya. Setelah selamat dari serangan angin, Abna Hadaya langsung melesat menyerang si penyerang tadi. Terkesiap pemuda itu, gerak serang Abna Hadaya terlalu cepat baginya. Memang dasarnya level mereka berbeda.


Suk suk!


“Akk!” jerit pemuda Siluman Angin saat dalam waktu singkat jari-jari bersinar hijau Abna Hadaya sudah membuat sepuluh lubang jari di dadanya.


Gerakan yang terlalu cepat oleh Puspa dan Abna Hadaya membuat Sepuluh Siluman Angin tidak bisa berbuat banyak, meski mereka memiliki kesaktian yang bukan kaleng-kaleng. Hanya menggunakan ilmu Genggam Inti Bumi, Renggut Jantung dan Jari-Jari Lumut, sepasang suami istri itu dengan cepat membunuh Sepuluh Siluman Angin.


Ketika Sepuluh Siluman Angin gugur semua, Siluman Angin Api dan pasukan pendekar silumannya sudah sampai di tengah Lereng Tiga Mata.


“Rapatkan barisaaan!” teriak Mahapatih Turung Gali kepada tiga ratus prajurit yang dia ambil alih.


Barisan sepanjang seratus lima puluh orang itu segera bergerak merapat, membentuk pagar manusia tanpa celah yang terdiri dari dua saf.


“Bersiaaap! Tombak siap lempar!” teriak Turung Gali lagi.


Ketiga ratus prajurit segera memasang posisi siap perang. Tameng dipasang di depan badan, sementara tangan kanan memegang batang tombak dengan posisi siap lempar, bukan siap tusuk.


Fuuut!


Tiba-tiba terdengar suara tiupan terompet tanduk yang menandakan bahwa Kerajaan Sanggana resmi memulai perang kembali.


“Majuuu!” teriak Turung Gali membahana keras.


“Seraaang!” teriak ketiga ratus pasukan itu sambil berlari maju, siap menyongsong pasukan lawan yang sudah sampai di tengah lereng.


“Pertahankan barisan kalian!” teriak Turung Gali yang berlari paling depan.


Fot fot fooot…!


Kembali terdengar tiupan terompet tanduk dengan nada berbeda.


“Majuuu!” teriak Reksa Dipa yang sudah menunggu sejak tadi. Ia lebih dulu yang berlari cepat ke depan. “Berlari di belakang pasukan terdepan!”


“Maju!” teriak Babat Seta memimpin Pasukan Hantu Sanggana.


“Majuuu!” teriak Manik Cahaya yang memimpin para pendekar wanita.


“Maju!” teriak Garis Merak pula kepada Pasukan Penguasa Telaga.


Sebanyak empat belas Pengawal Bunga, dua puluh lima Pasukan Hantu Sanggana, tiga puluh Pasukan Pedang Putri, dan tiga belas Pasukan Penguasa Telaga, berlari kencang di belakang barisan prajurit bertombak yang maju seperti pagar manusia yang rapat.


“Pasukan Panglima Siluman Merah, majuuu!” teriak Siluman Merah keras, menyeru pasukannya. Sesuai perintah Siluman Angin Api, jika Pasukan Siluman Tingkat Dua sudah sampai di tengah, maka ia dan seribu pasukannya harus maju memasuki arena.


“Seraaang…!” teriak seribu pasukan itu sambil berlarian penuh semangat masuk ke tanah lereng yang sedikit miring.


Di dalam Hutan Sanggana, Ratu Getara Cinta memberi satu perintah lagi.


“Permaisuri Serigala, Serigala Perak, pangkas pasukan militer musuh dari sisi utara!” perintah Ratu Getara Cinta.


“Baik, Gusti Ratu!” ucap Sandaria dan neneknya, Serigala Perak. (RH)