
*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*
Pasukan Siluman Generasi Puncak yang dipimpin oleh Siluman Raksasa sedang bersiaga dalam ketegangan. Tegang yang serius.
Mereka telah kehilangan tiga anggota, yang menurut saksi bahwa seorang di antaranya diculik oleh genderuwo.
“Apakah kalian melihat siapa yang menculik ketiganya?” tanya Siluman Raksasa kepada empat siluman yang menjadi saksi hilangnya Siluman Tongkat Mungil.
“Tidak!” jawab mereka kompak.
“Kalian semua, waspadalah!” teriak Siluman Raksasa kepada semuanya.
Sing! Sing!
Maka semuanya bersiaga tingkat tinggi dengan meloloskan senjata-senjata bagi mereka yang bersenjata. Mereka mengitarkan pandangan ke segala arah, terutama memandang ke area atas tebing bukit.
“Tapi, tadi ada aroma mawar seperti aroma tubuh Bidadari Asap Racun,” ujar Siluman Gatal.
“Bidadari Asap Racun?” sebut ulang Siluman Panah Kosong.
“Apakah terjadi sesuatu dengan pasukan yang dikirim menyerbu ke Kerajaan Sanggana Kecil, Panglima?” kata Siluman Delapan, wanita pemimpin pasukan berbadan gemuk.
“Jika yang menculik mereka adalah Bidadari Asap Racun, berarti kita sedang diburu,” ucap Siluman Raksasa pelan berpikir. Lalu teriaknya memanggil, “Siluman Mata Kucing!”
“Hamba, Panglima!” sahut seorang lelaki berusia tiga puluhan tahun sambil berlari mendatangi Siluman Raksasa. Ia memiliki sepasang mata yang berwarna abu-abu kusam, seperti ada lapisan plastik tipis yang menutupi bola matanya. Ia bernama Siluman Mata Kucing.
“Lihat ke alam gaib, apakah ada keberadaan orang lain yang sedang mengintai kita!” perintah Siluman Raksasa.
“Baik!” ucap Siluman Mata Kucing patuh.
Ia lalu menarik napas dalam, kemudian melakukan gerakan tangan yang bertenaga dalam. Sejenak ia katupkan sepasang kelopak matanya. Sebentar kemudian kembali ia buka. Maka….
Tus!
Satu ledakan kecil tiba-tiba terjadi yang mengejutkan Siluman Raksasa dan mereka yang berdiri di dekat Siluman Mata Kucing. Ketika mata Siluman Mata Kucing terbuka, satu kerikil kecil tiba-tiba melesat meledakkan kepalanya, seperti tembakan peluru dari sisi kanan ke kiri.
Siluman Mata Kucing tumbang dengan kepala berlubang dan bersimbah darah.
Hal itu membuat satu pasukan semakin tegang.
“Serang ke segala penjuru!” teriak Siluman Raksasa kepada pasukannya.
Sess! Sess! Zess…!
Blar blar blar…!
Busrak!
Pasukan yang kebingungan itu serentak melakukan serangan membabi buta ke segala arah dengan berbagai macam ilmu kesaktian yang mereka miliki. Ledakan berbarengan dan bersusulan itu menciptakan suasana tempur secara sepihak. Tebing-tebing bukit berhancuran dalam skala kecil, menimbulkan longsoran batu dan tanah yang berserakan di jalan. Beberapa pohon pun tumbang setelah batangnya dihancurkan.
Puluhan orang yang melakukan serangan secara random itu tidak mendapatkan hasil satu pun, kecuali kekacauan dan kerusakan alam. Pada hakikatnya, Bidadari Asap Racun yang mereka duga ada di tempat itu, sosoknya sedang melayang tinggi di atas kepala pasukan tersebut. Permaisuri Sri Rahayu yang bersembunyi di alam gaib, melayang di langit. Tidak ada satu pun dari siluman itu yang menyerangkan kesaktiannya lurus ke langit.
Aroma mawar yang dikeluarkan oleh tubuh Sri Rahayu tidak berembus ke bawah, tetapi menguap ke atas dan terbawa angin.
“Apa yang terjadi?” tanya Joko Tenang yang berada di sisi lain bukit bersama Bidadari Wajah Kuning yang keracunan, Arya Mungga dan Riskaya. Suara ledakan yang ramai di kejauhan mengejutkannya. Lalu katanya kepada yang lain, “Kalian tetap di sini!”
Joko Tenang lalu melesat pergi meninggalkan tempat yang sudah berhias tiga mayat siluman. Bidadari Wajah Kuning jadi terkejut.
“Gusti Prabu, bagaimana dengan racunku!” teriak Bidadari Wajah Kuning yang dalam kondisi lemah karena keracunan. Lalu ucapnya lirih, “Bagaimana kalau Gusti Prabu telat kembali?”
“Biar aku bantu perlambat serangan racunnya, Tetua,” kata Riskaya menawarkan bantuan.
Riskaya hanya menarik kedua sudut bibirnya, kecewa. Bidadari Wajah Kuning sendiri memilih melakukan upaya penahanan terhadap racun yang sudah menyerap masuk ke dalam tubuhnya. Beruntung bahwa racun itu bukan Racun Bening Mati seperti milik Lima Siluman Putih yang ganas.
Joko Tenang dengan cepat tiba di lokasi menyergapan terhadap Pasukan Siluman Generasi Puncak. Ia dalam kondisi menggunakan ilmu Merah Raga, sehingga tidak terlihat oleh siapa pun, kecuali Sri Rahayu yang sedang melayang di atas angkasa.
Joko Tenang melihat area itu sudah porak-poranda, sisa dari serangan berjemaah para pendekar siluman. Ia kini berdiri di bibir tebing.
“Bagaimana, Sayangku?” tanya Joko Tenang kepada Sri Rahayu yang jauh di atas.
Pertanyaan itu mengejutkan Siluman Raksasa dan pasukannya. Mereka mendengar suara yang tanpa terlihat wujudnya.
Wes wes wes…!
Bluar bluar bluar…!
Setelah memperdengarkan suaranya, Joko Tenang langsung mendapat serangan berupa sepuluh sinar kuning menyilaukan. Ledakan hebat terjadi beruntun di satu lokasi. Bebatuan dan tanah tebing bahkan jadi longsor sebagian yang nyaris menimbung beberapa siluman, jika mereka tidak cepat-cepat mengelak.
“Apakah kita perlu panen nyawa di sini?”
Pasukan Siluman Generasi Puncak itu kembali mendengar suara lelaki yang sama, menunjukkan bahwa serangan dahsyat Siluman Raksasa tadi tidak berbuah hasil. Suara yang bertanya menunjukkan bahwa lelaki yang tidak terlihat itu memiliki teman wanita.
“Mereka semua layak mati!” seru Sri Rahayu.
Perkataan Sri Rahayu langsung mengejutkan semua pendekar Pasukan Siluman Generasi Puncak. Sebagian dari mereka langsung mengenali suara itu.
“Bidadari Asap Racun!” ucap sebagian siluman terkejut.
Semakin tegang para pendekar sakti itu. Meski mereka sakti-sakti, tetapi mereka sulit menghadapi lawan yang bermain di lain alam. Apalagi baru saja mereka mendengar istilah “panen nyawa”. Mereka semakin siaga, bahkan beberapa di antaranya telah berkeringat dingin di dahi.
Wes wes wes…!
Bluar bluar bluar…!
Siluman Raksasa berkelebat cepat sambil melesatkan sepuluh sinar kuning menyilaukan ke tempat yang ia duga ada penunggunya, dikiranya Joko Tenang jurig penunggu bukit. Sepuluh ledakan dahsyat kembali terjadi yang menciptakan kehancuran hebat.
Bak!
“Hekh!”
Joko Tenang yang dengan mudahnya menghindari serangan kesepuluh sinar kuning itu, langsung membalas dengan Pukulan Tapak Kucing, ilmu yang sudah lama tidak medapat korban. Pukulan yang tanpa wujud itu langsung menghantam dada Siluman Raksasa yang masih berada di udara.
Siluman Raksasa hanya mengeluh tertahan dengan nyawa yang sudah melayang, sebelum tubuhnya jatuh di tanah depan kaki sejumlah pendekar siluman. Dada Siluman Raksasa jebol hangus.
Semakin tegang dan terkejut para pendekar sakti itu. Mental mereka mulai terguncang melihat sang panglima dengan mudahnya dibunuh.
Tes! Tes!
Sri Rahayu yang masih melayang di atas menyentilkan jari kelingking kanannya dua kali. Maka dua sinar putih kecil sebesar biji buah sawo melesat nyaris tidak terlihat.
Bluk bluk!
Dua sosok pendekar siluman wanita tumbang tanpa nyawa ketika dahi mereka ditembus oleh sinar ilmu Bibit Kematian.
Hal itu semakin membuat pasukan siluman resah dan takut. Sebab musuh yang tidak terlihat bisa menargetkan mereka sewaktu-waktu, tahu-tahu tumbang tanpa nyawa.
“Gusti Putri Bidadari Asap Racun! Kenapa kau membunuhi kami?!” teriak Siluman Panah Kosong gusar dan panik. Ia memandang ke atas, tetapi tidak terpaku memandang ke satu titik, sebab ia tidak melihat keberadaan Sri Rahayu, meski ia yakin bahwa Permaisuri Asap Racun ada di langit.
“Pembantaian yang kalian lakukan di Jurang Lolongan membuat kalian harus mati semua!” jawab Sri Rahayu.
Semakin panik pasukan itu. Mereka memang telah melakukan pembantaian, seolah hal itu bukan sebuah kejahatan.
“Hukum mati!” seru Joko Tenang. (RH)