8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 26: Bertemu Sang Pengkhianat


*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*


“Kakang Prabu, aku mendengar suara pertarungan di sisi barat,” ujar Permaisuri Sandaria yang saat itu berada di punggung Satria.


“Ayo kita lihat. Mungkin ada sahabat yang butuh bantuan,” kata Joko Tenang yang juga mendengar suara pertarungan di kejauhan.


Kelima serigala itu lalu mengubah arah langkahnya. Sementara Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih hanya mengikuti. Mereka bertiga tidak punya kuasa untuk mengendalikan serigala yang mereka tunggangi.


Bluar!


Terdengar suara ledakan yang nyaring.


Di sebuah lembah kecil yang diapit oleh dua bukit berumput ilalang, terlihat ada pertarungan antara dua orang wanita, yang satu tua dan yang satu muda.


“Sepertinya nasib mujur bagi kita, Sayang,” kata Joko Tenang saat mengenali siapa adanya dua wanita yang bertarung tersebut.


Petarung yang membuat Joko Tenang senang adalah petarung wanita tua. Nenek berjubah hitam itu berpipi kempot. Lucunya, dia memiliki satu gigi tonggos yang menonjol di celah bibirnya. Nenek yang sedang duduk bersila itu tidak lain adalah Kuming Rara yang berjuluk Nenek Peti Terbang, buronan nomor satu Kerajaan Sanggana Kecil dan Barisan Putih.


Kuming Rara sedang mengendalikan peti terbangnya dari jarak jauh tanpa setir kemudi. Wanita muda lagi cantik yang menjadi lawannya tidak lain adalah Bidadari Wajah Kuning, nenek cantik awet muda yang warna kulit wajahnya memang kuning.


Bidadari Wajah Kuning baru saja menghantamkan sinar kuningnya ke peti terbang yang menyerangnya, sehingga menimbulkan suara ledakan tenaga sakti tanpa merusak peti terbang sedikit pun.


“Prabu Joko!” pekik girang Bidadari Wajah Kuning saat melihat kedatangan Joko bersama empat wanita cantik dan lima serigala menyeramkan.


Alangkah terkejutnya Kuming Rara melihat kemunculan Joko Tenang yang berjalan santai menuju ke titik pertarungan.


“Sial! Bagaimana bisa raja itu muncul tiba-tiba di sini?” maki Kuming Rara.


Buru-buru Kuming Rara berkelebat di udara dan mendarat di atas peti terbangnya.


Wess!


Selanjutnya Kuming Rara langsung melesatterbangkan petinya meninggalkan tempat itu.


“Kuming Rara! Jangan kabur, kau!” teriak Bidadari Wajah Kuning terkejut atas tindakan Nenek Peti Terbang.


Clap!


Joko Tenang tiba-tiba hilang dari atas punggung Bintang.


“Prabu Joko!” teriak Bidadari Wajah Kuning terkejut, karena lelaki idamannya tahu-tahu menghilang tanpa menyapanya lebih dulu.


“Hihihi!” tawa Sandaria mengetahui keterkejutan Bidadari Wajah Kuning.


Nenek genit itu segera berlari kecil mendatangi Sandaria dan rombongannya.


“Gusti Permaisuri, ke mana Prabu Joko pergi? Apakah dia tidak melihatku?” tanya Bidadari Wajah Kuning sambil merengut seperti seorang gadis.


“Aku juga tidak tahu Kakang Prabu ke mana. Mungkin Kakang Prabu terkejut melihatmu, Tetua. Hihihi!” jawab Sandaria.


“Siapa mereka bertiga? Jangan katakan jika mereka bertiga juga istri-istri Prabu Joko,” tanya Bidadari Wajah Kuning dengan lirikan tidak bersahabat kepada Janila dan dua mantan madunya.


“Hihihi! Kakang Prabu belum memutuskan apakah mereka akan dijadikan para permaisuri atau selirnya,” jawab Sandaria yang ingin memanasi perasaan Bidadari Wajah Kuning.


“Aku tidak akan rela jika mereka melangkahiku menjadi permaisuri Prabu Joko!” tandas Bidadari Wajah Kuning. Namun, tiba-tiba dia terkejut, “Ya Dewa! Kuming Rara melarikan diri!”


Bidadari Wajah Kuning cepat berkelebat ke arah kepergian Kuming Rara.


“Kejar!” perintah Sandaria kepada kelima serigalanya.


Permaisuri Sandaria dan kelima serigalanya cepat berlari kencang mengejar Bidadari Wajah Kuning. Janila, Wuri Semai dan Iing Bulih harus merunduk dan berpegangan pada leher serigala tunggangan mereka.


Sementara itu, Kuming Rara terus melesat terbang mengendarai petinya. Jangan ditanya peti itu terbang menggunakan bahan bakar apa.


“Sepertinya mereka tidak bisa mengejarku,” batin Kuming Rara yang tegang. Dia menengok kebelakang, khawatir kalau-kalau para serigala itu mengejar.


Press!


Namun, sungguh tidak terduga sedikit pun, dari arah depan laju lesatan peti, muncul melesat sinar hijau menyilaukan mata.


Desis suara lesatannya yang mengerikan sangat mengejutkan Kuming Rara. Ia sontak kembali memandang ke depan.


Bluarr!


Tahu-tahu sinar hijau menyilaukan yang adalah sinar kesaktian dari ilmu Surya Langit Jagad, menghantam bagian depan peti. Meski peti itu tidak lecet sedikit pun oleh kesaktian Bidadari Wajah Kuning saat pertarungan tadi, tapi dihantam oleh Surya Langit Jagad yang merupakan ilmu legenda, peti itu langsung hancur berkeping-keping.


“Hoekh!” Kuming Rara muntah darah. Itu masih untung karena tidak langsung mati terkena efek ledakan ilmu Surya Langit Jagad.


Kuming Rara berusaha bangun dengan kokoh, tetapi ia terhuyung. Kemudian dia terdiam dengan mata tua yang mendelik terkejut.


“Bagaimana bisa?” ucap Kuming Rara lirih. Ia sungguh tidak percaya jika Joko Tenang bisa mendahului kecepatan terbang petinya.


Joko Tenang muncul berjalan tenang, seperti momok bagi Kuming Rara.


Kuming Rara yang merasa ngeri jika harus berhadapan dengan Joko Tenang, tetap harus berbuat. Tidak mungkin dia akan dibunuh tanpa perlawanan. Kini ia tidak bisa lari lagi.


“Kenapa dunia bisa sesempit ini?” tanya Kuming Rara yang sulit percaya dengan kenyataan bahwa tanpa sengaja ia bertemu dengan orang tersakti di dunia saat ini.


Kuming Rara tidak pernah tahu bahwa dunia novel itu sangat sempit. Dan Kuming Rara juga tidak tahu bahwa Joko Tenang memiliki ilmu yang bernama Langkah Dewa Gaib. Secepat apa pun lari orang yang dikejar, pasti akan selalu terhadang oleh ilmu Langkah Dewa Gaib.


Bress!


Tiba-tiba kedua tangan Kuming Rara telah memegang sinar kuning masing-masing. Ia berjalan tertatih maju menyongsong kedatangan Joko Tenang.


“Nenek Peti Terbang!” seru Joko Tenang setelah cukup dekat. Ia sedikit pun tidak terlalu peduli dengan ilmu yang sudah dikeluarkan oleh si nenek. “Kenapa kau melarikan diri melihat kedatanganku? Bukankah kita sama-sama aliran putih?”


“Cuih!” ludah Kuming Rara dengan tatapan penuh kebencian. Ludahnya berwarna merah. “Tidak usah berlagak tidak mengerti, Murid Kunsa Pari. Kini kau adalah orang nomor satu di dunia persilatan ini dan aku adalah buruan nomor satu!”


“Kenapa kau tega melakukannya?” tanya Joko Tenang.


“Alasanku hanya satu. Dendam!” desis Kuming Rara. “Dendamku kepada aliran putih memaksaku menjadi pendekar aliran putih, agar kelak aku bisa membunuh pendekar aliran putih sebanyak-banyaknya.”


“Baiklah. Kau harus aku tangkap dan bawa ke Kerajaan Sanggana Kecil. Di sana kau akan diadili dan dihukum, terutama di depan keluarga Ki Rawa Banggir!” tandas Kuming Rara.


“Mati pun aku tidak akan menyesal,” kata Kuming Rara.


“Baiklah!” kata Joko Tenang.


Joko Tenang lalu maju dua langkah dengan maksud hendak berlari, tetapi ia tahan karena Kuming Rara maju sambil melesatkan dua sinar kuning. Joko Tenang memutuskan melompat bersalto, membiarkan dua sinar kuning lewat.


Bluar bluar!


Dua ledakan terjadi di kejauhan.


Wess! Bdak!


Joko Tenang tiba-tiba melesat nyaris tidak terlihat, sehingga yang terlihat hanya lintasan bayangan yang bersinar putih. Begitu cepat, sehingga Kuming Rara yang memang kondisinya sudah lemah dan terluka parah, tidak bisa menghindar.


Tubuh Kuming Rara terpental jauh ke belakang, saat tubuh Joko Tenang yang sudah dilapisi ilmu Putih Raga menabraknya.


“Aaak!” erang Kuming Rara yang sudah tidak bisa bangkit. Tubuhnya terasa sangat sakit, begitu menyiksanya. Darah keluar dari celah bibirnya dan kedua lubang hidungnya. “Apa yang terjadi?”


Jleg!


Tiba-tiba Bidadari Wajah Kuning telah mendarat di dekat tubuh Kuming Rara.


“Ayo bangun, Pengkhianat!” desis Bidadari Wajah Kuning sambil mencengkeram leher baju Kuming Rara lalu menariknya agar bangun.


Dengan tubuh yang memang sangat lemah, Kuming Rara berdiri dengan tanpa pijakan dan terkulai.


Plak! Plak! Plak …!


Tangan kiri Bidadari Wajah Kuning memegangi baju Kuming Rara, sementara tangan kanan melakukan sepuluh tamparan bolak-balik di wajah Kuming Rara. Tamparan itu bukan tamparan biasa. Darah pada mulut Kuming Rara sampai terlompat-lompat ke kanan dan ke kiri, seperti suatu permainan.


Ketika tamparan itu selesai, Kuming Rara hanya terkulai dengan wajah bengkak membiru, bibir pecah-pecah dan darah belepotan ke mana-mana.


“Aku paling benci lihat gigi pusakamu itu, Kumiiing!” teriak Bidadari Wajah Kuning gemas sambil tarik lengan kanannya ke belakang.


Buk!


Tinju kanan Bidadari Wajah Kuning menghantam mulut Kuming Rara dengan keras. Nenek itu sudah tidak menjerit lagi, bahkan ketika gigi tonggos tunggalnya tanggal, ia tidak merintih lagi, seolah sudah pasrah untuk mati dibunuh.


“Jangan sampai dia mati, Cantik!” kata Joko Tenang dari belakang.


Alangkah terkejutnya Bidadari Wajah Kuning disebut “Cantik”. Jiwa muda dan genitnya seketika merontah-rontah ingin beraksi.


Namun, Permaisuri Sandaria dan rombongan serigalanya telah tiba, memaksa Bidadari Wajah Kuning gagal untuk merayakan kebahagiaannya kepada Joko Tenang.


Sementara Kuming Rara sudah tergeletak tidak berdaya di tanah. Ia telah menjadi wanita tanpa kesaktian. (RH)