8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Mis Kekar 15: Pangeran Mabuk


*Misteri Kematian Pendekar (Mis Kekar)*


 


“Raja itu agak aneh,” kata Tebaklupa kepada rekannya, sambil melangkah menuju rumah makan yang mereka mampiri.


Kedua kuda putih mereka sudah ditambatkan di depan rumah makan sederhana itu.


“Apanya?” tanya Serak Buto sambil menengok memandang Tebaklupa.


“Bibirnya merah. Mungkinkah dia ada hubungannya dengan Ratu Bibir Darah, seperti Putri Bibir Merah adalah anak dari Ratu Bibir Darah?” kata Tebaklupa sambil memasuki rumah makan.


Kedatangan mereka berdua menjadi pusat perhatian. Selain karena warnanya yang mencolok, gaya langkah mereka juga begitu membumi sebagai seorang sakti.


“Setahuku tidak ada keluarga Ratu Bibir Darah yang memiliki hubungan dengan kerajaan manapun,” kata Serak Buto.


“Selamat datang, Pendekar. Silakan, silakan!” sambut pemilik rumah makan, yang adalah seorang lelaki gemuk berusia empat puluhan dan berblangkon warna hitam.


“Jika permaisurinya saja sesakti itu, apalagi raja tadi,” kata Tebaklupa tanpa mengindahkan sapaan pemilik rumah makan.


Pemilik kedai hanya mengikuti keduanya sambil tersenyum-senyum sebagai wujud pelayanan yang ramah kepada pelanggan.


“Dalam kondisi terluka seperti ini, bagaimana bisa kita membunuh korban berikutnya?” kata Serak Buto.


Mendelik terkesiap pemilik kedai mendengar kata “membunuh korban berikutnya”. Ia jadi was-was.


Kedua kakek serba putih itu akhirnya berhenti di sebuah meja pendek kosong.


Serak Buto lalu meraih tengkuk pemilik kedai dan agak menariknya dengan cengkeraman yang cukup kuat.


“Akk!” pekik pemilik kedai kesakitan plus ketakutan.


“Bawakan kepada kami makanan yang terbaik dan yang lengkap!” perintah Serak Buto.


“Ba… baik, Pendekar!” ucap pemilik kedai patuh dalam ketakutan.


Serak Buto lalu mendorong lepas tengkuk pemilik kedai sampai lelaki gemuk itu nyaris terjatuh.


Serak Buto dan Tebaklupa lalu duduk bersila berseberangan meja di lantai bambu kedai. Sementara pemilik kedai buru-buru ke dalam dan menyuruh pelayannya untuk menyiapkan sajian.


“Kurang ajar sekali Pangeran Mabuk itu, mau dibunuh malah keluyuran!” rutuk Tebaklupa.


“Apakah perlu kita cari korban baru?” tanya Serak Buto.


“Tidak masalah. Tujuan Gusti Ratu menurunkan kita hanya untuk menebar ketakutan di kalangan aliran putih. Namun, jika kita lakukan setiap hari dan terus-menerus, itu justru akan membahayakan kita. Setelah pertemuan di Jalur Bukit besok siang, kita istirahat dua hari lamanya, setelah itu kita lanjutkan lagi,” kata Tebaklupa.


“Menurutmu, apakah ada orang yang mengejar kita?” tanya Serak Buto.


“Sepertinya iya, tapi mereka tidak akan bisa tahu siapa yang mereka kejar. Saat kita membunuh Tambak Boyo dan Sombajolo, tidak ada saksi mata. Para pendekar tua pun tidak akan tahu tentang Racun Bening Mati, karena hanya kita yang memilikinya.”


“Tebaklupa, sepertinya ini hari mudah kita!” kata Serak Buto setengah berbisik sambil memandang ke arah pintu masuk.


Tebaklupa cepat melirik ke arah pintu.


Seorang kakek berpakaian hitam mengilap datang memasuki kedai. Dia berambut putih gondrong, tetapi tersisir rapi. Di pinggangnya menggantung sebuah guci perunggu berpenutup. Kakek itu adalah Linglung Pitura alias Pangeran Mabuk, guru Rara Sutri dan Surya Kasyara.


Linglung Pitura langsung menuju ke bagian pelayanan. Ia menyodorkan gucinya kepada seorang pelayan.


“Isi dengan tuak!” pinta Linglung Pitura kepada pelayan.


“Baik, Pendekaaak!” ucap pelayan lelaki itu lalu terkejut, ketika menerima guci yang diberikan Pangeran Mabuk. Kedua tangannya langsung tertarik ke bawah karena ternyata guci itu berat seperti batu.


“Aku lupa katakan bahwa guciku itu sangat berat,” kata Linglung Pitura.


“Iya, Pendekar,” ucap pelayan itu sambil senyum kambing. Ia lalu pergi ke bagian dapur dengan membawa guci yang berat, tapi masih bisa dibawa.


“Sepertinya aku kenal,” ucap Linglung Pitura lirih.


Kakek berpenampilan seperti bangsawan itu lalu melangkah mendekati meja Tebaklupa dan Serak Buto.


Tiba-tiba terdengar suara ramai lari sekelompok kuda yang berhenti di depan rumah makan. Kebisingan suara ringkik kuda membuat Pangeran Mabuk dan pengunjung lainnya beralih memandang ke luar.


“Guru!” panggil salah seorang wanita sambil berlari ke pintu rumah makan setelah melompat turun dari punggung kudanya.


Sementara itu, Serak Buto menggerakkan alisnya kepada Tebaklupa, karena saat itu posisi Pangeran Mabuk tidak jauh dari mereka dan membelakangi.


Namun, Tebaklupa menggeleng samar memberi tanda kepada Serak Buto.


“Guru!” panggil wanita cantik yang adalah Rara Sutri alias Putri Cemeti Bulan. Ia berlari kepada gurunya dan meraih tangan tuanya. Ia menarik pergi gurunya ke tempat kosong di dalam kedai itu.


“Guru sedang diburu seseorang dan akan membunuh Guru!” kata Rara Sutri.


“Kau dapat kabar dari siapa?” tanya Linglung Pitura lalu memandang ke luar, kepada rekan-rekan asing muridnya. “Kenapa Gadis Cadar Maut ada bersamamu?”


“Merekalah yang memberi tahu, karena Resi Tambak Boyo dan Ki Sombajolo sudah tewas dibunuh,” jelas Rara Sutri.


“Apa?!” kejut Pangeran Mabuk.


“Iya, jika Guru kemarin masih ada di rumah, mungkin Guru juga sudah mati. Pembunuh itu sempat datang ke rumah dan memecahkan semua guci tuak yang kita miliki,” kata Rara Sutri.


“Pendekar, tuaknya,” kata pelayan yang mendatangi mereka berdua dengan membawa guci perunggu Pangeran Mabuk.


“Terima kasih,” ucap Linglung Pitura sambil menerima guci tuaknya. Ia lalu membayar kepada pelayan itu.


“Ayo ikut kami, Guru!” ajak Rara Sutri sambil menarik paksa gurunya.


“Eh eh eh! Kenapa harus seperti ini?” tanya Pangeran Mabuk, tapi tetap menurut.


Kedua kakek putih hanya memandang diam-diam.


“Jika kondisi kita tidak terluka, tidak masalah jika kita harus bertarung. Meski mereka muda-muda, tetapi jumlah mereka cukup banyak,” kata Tebaklupa.


“Tapi sepertinya mereka tidak tahu siapa yang mau membunuh Pangeran Mabuk,” kata Serak Buto pula.


“Ya sudahlah, biarkan Pangeran Mabuk selamat. Kondisi kita lebih penting. Jangan sampai pertarungan justru memperparah luka kita,” kata Tebaklupa.


Sementara itu di luar kedai makan.


“Karena kami menafsirkan bahwa tuak dan air sama, adalah orang yang meminum tuak sama seperti dia minum air. Artinya, jika orang itu meminum tuak, dia tidak akan mabuk. Tokoh tua sakti yang tempat tinggalnya paling dekat dengan Padepokan Hati Putih, lalu dia peminum tuak, hanya kau, Linglung Pitura,” jelas Gadis Cadar Maut.


“Seperti apa ciri-ciri kematian mereka?” tanya Linglung Pitura.


“Lubang sebesar jari di leher dan kondisi mayat mengandung racun ganas,” jawab Joko Tingkir.


“Siapa kau, Anak Tampan?” tanya Linglung Pitura.


“Aku Joko Tingkir, murid Ki Sombajolo,” jawab Joko Tingkir.


“Lubang sebesar jari dan mengandung racun ganas,” ucap ulang Linglung Pitura sambil berpikir mencoba mengingat-ingat. Ia lalu menengok memandang kepada dua kakek putih yang sedang makan di dalam kedai.


“Aku tahu siapa yang mau membunuhku,” kata Linglung Pitura. Ia lalu kembali berjalan ke dalam kedai.


Mendelik Joko Tingkir, Lanang Jagad dan Arya Permana mendengar perkataan Linglung Pitura. Mereka bertiga cepat mengikuti Pangeran Mabuk masuk ke kedai.


“Tebaklupa! Serak Buto!” seru Linglung Pitura memanggil kedua kakek putih yang sedang makan.


Terkejutlah kedua kakek putih karena mereka telah dikenali oleh Linglung Pitura. (RH)