8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 25: Senjata Rahasia Setan Ngompol


*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


Bluar!


Adu pukulan bertenaga dalam tinggi terjadi antara Setan Ngompol dan Lemak Iblis membuat kedua pendekar terpental ke belakang. Keduanya hanya merasakan sesak pada dada.


Di saat itu, Setan Ngompol terkejut saat melihat saudara seperguruannya, yaitu Nenek Rambut Merah, berada di ambang maut. Ia cepat melemparkan sarung pusaka pesingnya kepada Ki Bandel Perawan, yang saat itu melompat naik ke udara sambil menghujani Nenek Rambut Merah dengan tinju-tinju sinar jarak jauh.


Sarung pesing itu berhasil menjerat Ki Bandel Perawan yang tidak melihat datangnya serangan, lalu menjatuhkannya. Itulah kondisi yang kemudian membuat Ki Bandel Perawan terbunuh oleh Nenek Rambut Merah.


Kehilangan sarung pesingnya untuk sementara ternyata berpengaruh besar bagi Setan Ngompol. Terbukti ketika Lemak Iblis bergulir seperti bola bowling di lantai. Ketika jaraknya dengan Setan Ngompol tinggal dua tombak, tubuh Lemak Iblis yang bisa membulat seperti bola tiba-tiba mencelat kepada Setan Ngompol.


Dengan pengerahan tenaga dalam tinggi pada kedua lengannya, Setan Ngompol menghentakkan tangannya.


Pass!


“Aak!” jerit Setan Ngompol saat kedua telapak tangannya menghantam bola manusia itu.


Ia terlempar mundur beberapa tombak, tapi kedua kakinya mampu mendarat dengan baik. Masalahnya, pada kedua telapak tangan Setan Ngompol ada tertancap duri-duri warna biru gelap tapi bercahaya redup. Karena memberi rasa sakit yang tinggi, kedua tangan Setan Ngompol sampai gemetar.


“Sebentar lagi kedua tanganmu akan lumpuh oleh racun Duri Landak Laut-ku, Setan Ngompol!” seru Lemak Iblis.


“Jika tanganku lumpuh, aku masih punya kaki dan senjata rahasia!” kata Setan Ngompol tidak mau kalah gertak.


“Jika begitu buktikan kehebatanmu itu!” teriak Lemak Iblis lalu kembali menggelindingkan tubuhnya seperti bola ke arah Setan Ngompol.


Setan Ngompol cepat melompat ke sana ke mari menghindari kejaran bola manusia itu. Pada saat melompat-lompat, Setan Ngompol merasakan kedua tangannya melemah, seolah tidak bertenaga. Berbeda dengan tubuh dan kakinya yang tetap normal.


Bdak!


Saat itu, tubuh Nenek Rambut Merah tumbang setelah membunuh Ki Bandel Perawan.


“Adik Rambut Merah!” teriak Setan Ngompol yang melihat kondisi saudara seperguruannya. Namun, ia harus memilih mengambil alih sarungnya daripada memeriksa kondisi Nenek Rambut Merah yang kritis, karena bola manusia Lemak Iblis terus mengejarnya.


Seperti binatang hidup, sarung pesing yang membelit mayat Ki Bandel Perawan bergerak sendiri melepaskan diri. Ketika lepas, kaki Setan Ngompol cepat menyambarnya dan melemparkannya ke atas.


Setan Ngompol sudah tidak bisa menggunakan kedua tangannya.


Ketika sarung bau itu melambung di udara, Setan Ngompol juga naik ke udara. Kakinya bermain mengait sarung lalu melemparkannya ke arah kedatangan bola manusia.


Pluk!


Sarung Setan Ngompol tidak melilit target, tetapi dia melesat dan menemplok pada bola tubuh Lemak Iblis, lalu terbawa berguling cepat, sehingga bola manusia itu memiliki variasi warna lain saat menggelinding.


Namun akhirnya, gelindingan tubuh Lemak Iblis memelan lalu berhenti.


“Kurang monyetan!” maki Lemak Iblis sambil bangkit berdiri dengan gelagapan.


Apesnya bagi Lemak Iblis, sarung itu melekat menutupi seluruh wajahnya. Bau pesing yang menyengat langsung menyerang penciuman hingga naik ke urat syarafnya. Rasa pusing yang berat langsung muncul.


“Sarung iblis!” maki Lemak Iblis sambil menarik kencang kain sarung yang melekat dan menggantung di wajahnya.


Blugk!


Kencangnya tarikan terhadap sarung itu membuat kepala Lemak Iblis ikut tertarik ke bawah, lalu ia pun jatuh tersungkur. Kain sarung tetap melekat di wajah, lebih kuat daripada lem tikus cap badak. Nahasnya lagi, kain yang tadi ditarik kencang jadi ikut menempel di tangan kanan.


Hal itu kian membuat Lemak Iblis kelabakan. Tangan kirinya cepat menarik pula kain sarung agar lepas dari tangan kanannya. Namun, justru tangan itu ikut melekat, seolah semua bagian sarung tersebut berlapis lem kuda.


Maka jadilah Lemak Iblis seperti serangga yang berusaha melepaskan diri dari lengketnya jaring laba-laba, tetapi justru semakin terjerat.


Setan Ngompol untuk sementara membiarkan Lemak Iblis sibuk sendiri. Nanti juga ia akan lemas sendiri teracuni oleh bau pesing yang membius. Ia lebih memilih untuk pergi memeriksa kondisi Nenek Rambut Merah.


Nenek Rambut Merah masih dalam kondisi terlentang terdiam dengan mata terbuka. Ia masih hidup. Terlihat dari pergerakan napasnya yang naik turun dengan lemah.


“Sial, kedua tanganku lumpuh!” maki Setan Ngompol. Lalu katanya kepada adik seperguruannya, “Bertahanlah, Rambut Merah. Aku akan mengatasi Lemak Iblis lebih dulu.”


Mendengar perkataan Setan Ngompol, pupil mata Nenek Rambut Merah terlihat bergerak melirik. Bibir tuanya bergetar samar, tapi tidak sanggup berucap.


Di sisi lain, Lemak Iblis telah berubah semakin lemas.


“Setan Ngompol liciiik!” teriak Lemak Iblis marah bukan main.


Bduk!


Namun kemudian, Lemak Iblis tumbang karena tidak kuat lagi untuk berdiri. Tubuhnya terdiam sejenak dalam kondisi wajah dan kedua telapak tangan melekat pada kain sarung.


Lima detik kemudian, ketika Setan Ngompol pergi menghampiri Lemak Iblis, tiba-tiba tubuh yang gemuk berlemak itu bergerak dan meringkuk membulat, seperti kucing tidur dalam dinginnya malam yang kehujanan. Setan Ngompol berhenti dan waspada.


Blast!


Tiba-tiba muncul ledakan tenaga dari dalam tubuh Lemak Iblis, mementalkan kain sarung Setan Ngompol. Seiring ledakan tenaga itu, pada tubuh Lemak Iblis muncul sinar hijau berpijar yang menyelimuti.


Mendelik terkejut Setan Ngompol. Kegagalan sarung pusakanya seolah menunjukkan tanda kegawatan.


“Celaka! Upaya terakhir hanya dengan senjata rahasia!” desis Setan Ngompol.


Buru-buru Setan Ngompol menarik kempes perut gendutnya. Lalu kaki kanannya menginjak kain kaki celana kirinya. Ketika ia menarik kaki kirinya, maka bagian celana atasnya tertarik melorot. Hal yang sama ia lakukan pada kaki celana sebelahnya. Injak tarik injak tarik itu ia lakukan sehingga celananya melorot total.


Alhasil, kini Setan Ngompol tidak bercelana, tapi masih bercawat kuning.


Sementara Lemak Iblis masih diam meringkuk dengan tubuh bersinar hijau.


Setan Ngompol lalu berlari kecil seperti orang gila tanpa celana. Kemudian dia melompat ke udara, tepatnya ke atas posisi tubuh Lemak Iblis.


Suur!


Ketika berada tepas di udara tepat di atas Lemak Iblis, ada kucuran air yang jatuh dari cawat kuning Setan Ngompol, seolah air itu berasal dari sebuah keran. Air itu jatuh menyirami tubuh Lemak Iblis. Akibatnya….


“Aaak!” jerit Lemak Iblis keras dan panjang.


Brass!


Tiba-tiba sinar hijau yang menyelimuti tubuh Lemak Iblis meledak ke segala arah dan mementalkan tubuh Setan Ngompol. Kakek tanpa celana itu menghantam dinding dengan keras, lalu jatuh berdebam dalam kondisi baju depan hangus sebagian, termasuk sebagian wajah dan rambutnya sudah hangus.


Dalam kondisi yang buruk seperti itu, Setan Ngompol berusaha bangun dengan gontai. Dilihatnya ke arah Lemak Iblis.


Ternyata ledakan tadi adalah perlawanan terakhir Lemak Iblis. Pasalnya, dia kini tergeletak dalam kondisi lebih buruk dari Setan Ngompol. Tubuhnya mengalami lubang-lubang daging yang mengerikan seperti usai digerogoti hewan pemakan daging.


Yang terjadi sebenarnya adalah, Setan Ngompol mengerahkan ilmu Mata Air Kubur, yaitu ilmu yang memaksa dirinya kencing dalam kapasitas lima kali lebih banyak dari kencing biasanya. Karena itulah, meski masih bercawat, air kencing yang terkucur keluar cukup banyak. Kencing itupun bukan kencing biasa. Ia lebih ganas dari pada air raksa, daya hancurnya terhadap kulit, daging dan tulang sangat kuat. Itulah yang membunuh Lemak Iblis.


Sementara Lemak Iblis tidak tahu akan kesaktian senjata rahasia Setan Ngompol. Jika yang menyerangnya adalah kesaktian lain, mungkin akan lain ceritanya. Namun, kencing Mata Air Kubur itulah yang membunuhnya.


Setan Ngompol yang awalnya bisa berdiri, kini jatuh terlutut. Wajahnya mengerenyit menahan perih pada luka bakarnya akibat ilmu Lemak Iblis. Kelelakiannya pun menderita sakit berdenyut yang pedih akibat dari ia mengeluarkan ilmu Mata Air Kubur. Kakinya pun menjadi lemah dan tidak kuat berdiri.


“Apa itu?” ucap Setan Ngompol lirih tapi terkejut. Sepasang matanya mendelik melihat sosok yang muncul.


Sosok yang datang masuk ke ruangan itu adalah seorang raksasa berkulit biru. Lelaki tinggi besar itu hanya mengenakan celana besar yang cocok dengan ukurannya. Ia tidak lain manusia aneh yang bernama Raksasa Biru.


“Matilah aku,” ucap Setan Ngompol pasrah menghadapi nasibnya ke depan. (RH)