8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Darah Keras 7: Tingkah Nenek Genit


*Darah di Kerajaan Siluman (Darah Keras)*


 


Setelah kepergian para pendekar siluman sekitar tiga puluh orang, Arya Mungga muncul ke tempat itu.


“Hahahak…!” Siluman Pedang Botak dan kedelapan rekannya masih tertawa, menciptakan suasana berisik.


Arya Mungga terkejut melihat jalanan yang menjadi lautan mayat. Parahnya, kondisi mayat-mayat itu mengerikan.


“Ada apa, Arya Mungga?” tanya Joko Tenang yang melihat keterkejutan pemuda dewasa itu.


“Maafkan hamba, Gusti Prabu. Bidadari Wajah Kuning kondisinya memburuk karena racun!” lapor Arya Mungga.


“Oh, baik,” jawab Joko Tenang singkat, seraya tersenyum. Lalu katanya, “Kau bisa mengeksekusi mereka.”


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Arya Mungga.


“Aku akan memeriksa Nenek Bidadari,” izin Joko Tenang kepada istrinya.


“Bagaimana bisa Bidadari Wajah Kuning keracunan?” tanya Sri Rahayu.


“Jika ada serangan racun, dia pasti akan mengorbankan dirinya,” jawab Joko Tenang seraya tersenyum, membuat Sri Rahayu hanya kerutkan kening, tidak mengerti maksud dari “mengorbankan diri”.


Joko Tenang lalu melesat pergi. Sementara Sri Rahayu menemani Arya Mungga yang siap melakukan eksekusi terhadap Siluman Pedang Botak.


“Sekarang giliran kalian yang akan merasakan sakitnya dibantai!” desis Arya Mungga di depan kesembilan calon korbannya.


Arya Mungga lalu membuat kedua telapak tangannya bersinar merah gelap, seolah mengandung maut yang menyakitkan.


“Apa yang mau kau lakukan? Hahahak…!” tanya Siluman Pedang Botak terkejut, tetapi wajahnya tetap tertawa.


“Membalas kematian orang-orang Jurang Lolongan!” jawab Arya Mungga dengan tatapan penuh ***** membunuh. Ketika bicara pun giginya tidak terpisah.


“Jangan! Hahaha! Jangan! Hahaha! Jangan! Hahaha!” teriak Siluman Pedang Botak sambil tertawa-tawa. Ia berusaha mengesot mundur menjauh.


“Hiaat!” teriak Arya Mungga.


Set!


Sekali mengibaskan kedua tangan, Arya Mungga melesatkan sekelebatan sinar merah tipis seperti kelebatan pedang sinar melengkung. Tawa Siluman Pedang Botak seketika berhenti dengan tubuh diam mengejang.


Secara perlahan leher Siluman Pedang Botak bergerak menggeser pada bagian batangnya, seiring itu muncul rembesan darah segar. Selanjut kepala itu bergerak memisah dengan jelas dari leher dan jatuh ke tanah mendahului badannya.


“Waak hahaha!” pekik pendekar siluman lainnya yang juga terus tertawa.


Rasa takut bercampur pada wajah mereka yang tertawa terbahak-bahak. Wajah tertawa, tetapi pancaran mata mereka yang berair menunjukkan ketakutan. Tawa tanpa henti itu membuat tubuh mereka lemah dan sakit.


“Delapan orang lagi!” desis Arya Mungga.


Sementara di sisi lain bukit. Joko Tenang sudah tiba di tempat Riskaya berada.


“Gusti Prabu!” ucap Riskaya seraya tersenyum manis kepada Joko Tenang. Senyum itu begitu manis, lebih manis dari senyum Joko Tenang.


“Gusti Prabu, kau harus segera mengobatiku,” ucap Bidadari Wajah Kuning merintih dalam kondisi terbaring lemah. Wajah kuningnya terlihat agak menghitam.


“Hahaha!” tawa rendah Joko Tenang melihat ketidakberdayaan si nenek cantik. “Oh ya, Riskaya, puluhan pendekar siluman itu berhasil kabur, tapi lebih banyak yang aku bunuh. Kakakmu sedang membunuh yang tersisa.”


“Aku di sini saja, Gusti Prabu, menemani Tetua Bidadari, mungkin dia membutuhkan bantuan,” kata Riskaya yang lebih suka bila berada di sekitar sang prabu.


“Tidak tidak tidak! Kau harus pergi, Riskaya. Aku akan malu jika ada orang lain di saat aku diobati!” kata Bidadari Wajah Kuning.


“Pergilah. Kau harus pastikan kakakmu membunuh semua yang masih tersisa!” kata Joko Tenang pula.


“Baik, Gusti Prabu,” ucap Riskaya patuh. Ia lalu melangkah pergi.


Joko Tenang lalu menghampiri Bidadari Wajah Kuning. Riskaya yang sudah berjalan agak jauh, masih menyempatkan diri menengok ke belakang, seakan berat meninggalkan Joko hanya berdua dengan si nenek genit. Namun akhirnya, dia berkelebat pergi.


“Sepertinya Riskaya benar-benar jatuh hati kepadamu, Gusti Prabu,” kata Bidadari Wajah Kuning sambil mengerenyit menahan lemah dan sakit.


“Sama seperti dirimu, Tetua,” kata Joko Tenang.


“Kenapa kau melakukannya?” tanya Joko Tenang sambil membantu membangunkan badan Bidadari Wajah Kuning.


“Melakukan apa?” tanya si nenek.


“Selalu mengorbankan diri jika ada serangan racun.”


“Hanya cara itu yang terpikir di dalam benak tuaku untuk mendapat sentuhanmu. Sebab aku tidak bisa menikah denganmu, karena kau sudah memperistri dua nenek cantik, Nara dan Dewi Ara. Apalagi aku dan Dewi Geger Jagad memiliki dendam masa lalu. Kami tidak bisa bersatu,” kilah Bidadari Wajah Kuning.


Joko Tenang lalu memposisikan dirinya bersila di belakang punggung si nenek.


“Buka sedikit pakaianmu!”


Bidadari Wajah Kuning sudah paham akan perintah itu. Ia lalu membuka bagian dada pakaiannya agar bisa kendor menurunkan bagian belakang bajunya, karena Joko Tenang akan menapak punggungnya.


Tiga kali sudah Joko Tenang harus melihat dan menyentuh leher serta punggung mulus itu.


“Kenapa kau tidak jatuh cinta saja kepada Tetua Petra Kelana?” tanya Joko Tenang.


“Dia itu mata kuali, suka jelalatan,” ucap si nenek lirih.


“Lebih buruk aku. Aku sudah punya banyak istri, sedangkan dia tidak. Aku tidak mungkin kau nikahi, sedangkan dia tidak ada halangan,” kata Joko Tenang.


“Aku sudah bosan lihat wajahnya selama berpuluh-puluh tahun. Aku pernah dibuatnya pata hati waktu muda. Aku jatuh hati kepadanya, tapi dia selalu mengabaikanku demi mengejar cinta Dewi Ara. Aku seolah wanita yang tidak pantas memiliki cinta.”


“Jadi, sampai sekarang kau masih perawan?” tanya Joko Tenang.


“Eh, jangan tanyakan itu, membuatku malu saja. Hihihi,” hardik Bidadari Wajah Kuning lalu tertawa malu. “Aku sudah tidak perawan. Orang yang merenggut kesucianku mati beberapa hari setelahnya.”


“Kau bunuh?”


“Tidak. Dia dibunuh musuhnya. Untung aku tidak sampai hamil. Tapi aku yakin, aku masih rasa perawan, karena sudah lama tidak ada yang bertamu. Hihihik!”


Paks!


Joko Tenang menapak telapak tangannya agak keras ke punggung si nenek, membuat tawanya terhenti seperti menabrak tembok. Proses pengobatan Serap Luka pun berjalan.


Dalam proses itu, Bidadari Wajah Kuning lebih banyak diam, menikmati proses pengobatan yang membuatnya bergairah. Karena dasarnya sudah berpikir cabul, si nenek cantik jadi bergairah. Namun apalah daya, jika tidak ada tali untuk mengikat, tidak boleh mencari alat pengikat lain. Jangan seperti Helai Sejengkal, lelaki perjaka mana saja bisa dia cium asal dapat ludah perjaka.


Setelah melalui proses pengobatan itu, Joko Tenang akhirnya selesai. Ia sudah membuang racun dan memberikan tenaga penyegaran. Kini Bidadari Wajah Kuning kembali segar bugar. Joko Tenang menaikkan bagian belakang baju si nenek ke pundak.


“Gusti Prabu!” panggil Bidadari Wajah Kuning lirih tapi agak mendesah.


“Hmm?” sahutan bergumam Joko Tenang seakan memberi angin yang kian meluapkan gairah cinta si nenek.


“Aku bergairah,” kata Bidadari Wajah Kuning.


Belum lagi Joko Tenang menanggapi, dari arah belakang datang Sri Rahayu bersama Arya Mungga dan Riskaya.


“Kakang Prabu!” panggil Sri Rahayu.


“Aku sudah selesai mengobati Tetua Bidadari,” ujar Joko Tenang.


Meski melihat pakaian Bidadari Wajah Kuning agak terbuka, tetapi Sri Rahayu tidak menunjukkan sikap curiga atau cemburu. Berbeda dengan apa yang terbesit di dalam pikiran Riskaya dan Arya Mungga. Tergambar rona kecemburuan yang samar di wajah Riskaya.


Sementara si nenek cantik segera merapikan pakaiannya. Darahnya serasa bergolak mendidih karena harus menahan kenikmatan batinnya.


“Bagaimana selanjutnya, Kakang Prabu?” tanya Sri Rahayu lagi.


“Kita langsung menuju ke Kerajaan Siluman. Semoga saja mereka yang berhasil kabur tidak melakukan perburuan balasan,” kata Joko Tenang. Lalu katanya kepada Arya Mungga dan adiknya, “Sebagian besar pembantai Bukit Dalam telah kita bunuh, apakah kalian masih ingin ikut menyerang ke Kerajaan Siluman?”


“Kami akan ikut berjuang di Kerajaan Siluman,” jawab Arya Mungga.


“Mati pun kami tidak akan menyesal, asalkan dendam ini terbalaskan!” tandas Riskaya.


“Dendam itu suatu hari nanti harus dibuang,” kata Joko Tenang lalu melangkah, tangannya sempat mengacak-acak rambut di kepala Riskaya, sambil memberi senyuman manis kepada gadis itu.


Terdiamlah Riskaya mendapat tindakan seperti itu dari sang raja. Ia pun bingung menafsirkan makna memegang kepala itu, tetapi itu memberinya kebahagiaan di dalam hati. (RH)