8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
De Bude 24: Cara Menjinakkan Nara


*Dewi Bunga Kedelapan (De Bude)*


Kondisi Dewi Ara yang digantung di langit jelas adalah kondisi kritis baginya. Terlebih ia digantung dalam kondisi luka dalam yang parah. Bisa saja Nara merenggut nyawa Dewi Ara setiap saat. Joko Tenang dan para permaisuri tidak mau itu terjadi.


“Nara!” seru Joko Tenang sambil berkelebat cepat mendatangi Nara yang masih mendongak, seolah masih memainkan kekuatannya pada Dewi Ara di atas sana.


Nara menurunkan wajahnya menjadi lurus, seolah melepaskan kekuatannya yang sedang bekerja, tetapi tubuh Dewi Ara tetap melayang nun jauh di atas.


“Nara, maafkan Dewi Ara,” ucap Joko Tenang lembut.


“Tidak!” tegas Nara.


“Sayangku, aku memohon kepadamu. Memaafkan lebih cenderung kepada sifat yang mulia dan kebahagiaan. Bukankah dengan menjadi calon Dewi Bunga, mengajarkan dan melatih kita untuk berkorban demi kebahagiaan orang lain? Dewi Ara pun layak hidup dan menikmati kebahagiaan setelah siksaan batin yang dia terima sepanjang hidupnya,” kata Joko Tenang dengan nada yang lembut.


“Kenapa Kakang Prabu berpihak?” tanya Nara.


Joko Tenang menarik napas agak dalam. Ia lalu meraih tangan lembut istri kelimanya itu.


“Aku tidak berpihak. Arda Handara membutuhkan ibu kandungnya, bukan ibu tiri,” jawab Joko Tenang.


“Tidak!” teriak Nara keras.


Blar blar blar…!


Tiba-tiba tercipta ledakan di tanah, di sekeliling tempat mereka berdiri. Itu adalah pelampiasan kemarahan Nara.


Namun, Nara tiba-tiba terdiam, ketika Joko Tenang memeluknya dengan erat.


“Nara, aku mohon kepadamu, jadilah baik, demi aku, demi keluarga besar kita. Jangan nodai kecantikan, kesaktian, dan nama besarmu hanya karena menuruti dendam yang seharusnya sudah lama terkubur,” pinta Joko, dengan lembut berbisik di telinga Nara, sementara ia terus memeluk tubuh hangat istrinya.


Nara terdiam. Dia tidak menjawab. Namun, napasnya yang sebelumnya cukup menderu-deru, mulai menghalus.


Joko Tenang lalu menarik kepalanya dan memegang lembut batang leher Nara dengan kedua tangannya. Ia tempelkan dahinya ke dahi Nara.


“Kehormatan nama besarmu lebih berharga dibandingkan membunuh Dewi Ara. Dia sudah pernah mati ribuan tahun di dasar bumi, kematian tidak akan merugikannya lagi, tetapi akan merugikan bayi yang tanpa dosa itu. Bersatunya kau dan Ara justru akan menguatkan aliran putih,” kata Joko lagi dengan kata-kata yang lembut.


Wust!


Tiba-tiba tubuh Dewi Ara yang melayang tinggi di langit bergerak meluncur jatuh menuju bumi, seolah lepas dari gantungannya.


“Dewi Ara jatuh!” seru Sandaria cepat.


Zerzz!


Makhluk Cincin Mata Langit melesat keluar dari tubuh Tirana. Burung sinar merah itu melesat cepat ke atas dan menyambar tubuh Dewi Ara.


Joko Tenang yang melihat keputusan Nara itu jadi tersenyum gembira. Ia pun refleks memeluk kembali tubuh Nara dan mencium pipi kanannya.


Melihat kemesraan muridnya dengan mantan kekasihnya, Ki Ageng Kunsa Pari hanya bisa menarik napas dalam. Ia harus berbesar hati dan berlapang dada. Nara kini bukan siapa-siapanya. Nara memang jodoh bagi Joko Tenang. Jika Sang Pencipta sudah berkehendak demikian, apa yang mau diprotes.


Clap!


Setelah Joko Tenang memeluknya, tiba-tiba Nara menghilang begitu saja, mengejutkan Joko Tenang yang kini memeluk angin.


“Hihihi!” tawa Sandaria yang mengetahui suaminya jadi memeluk angin.


Melihat Dewi Ara sudah berada dalam perlindungan Ratu dan para permaisuri, Joko Tenang segera berkelebat pergi menemui para gurunya.


“Hormatku kepada para guru!” ucap Joko Tenang seraya menghormat kepada para tamunya.


“Hahaha! Seharusnya kami yang menghormat kepadamu, Gusti Prabu!” ucap Ewit Kurnawa yang didahului tawanya.


Mereka lalu menghormat kepada Joko Tenang.


“Bangunlah, Guru! Bangunlah, Tetua!” kata Joko Tenang cepat.


“Hahaha! Joko, hidupmu sekarang tidak pernah lepas dari perempuan, sampai nenek-nenek cantik pun kau bisa taklukkan!” celetuk Joko Tingkir tanpa sungkan sambil tertawa.


“Murid tidak tahu adab!” hardik Ki Sombajolo sambil memukul kepala muridnya.


“Hahaha!” tawa Joko Tenang rendah.


“Aku baru tahu cara untuk menjinakkan Nara, rupanya seperti itu. Hahaha!” kata Iblis Timur lalu tertawa terbahak yang diikuti oleh tawa Ewit Kurnawa dan Minati Sekar Arum.


Ki Ageng Kunsa Pari hanya menarik dua sudut bibir tuanya. Sementara Joko Tenang hanya tersenyum melihat gurunya dicandai.


“Maafkan aku, Paman Gujara. Aku tidak sempat menyapamu ketika di Jurang Lolongan!” ucap Joko Tenang kepada Gujara.


“Tidak apa-apa, Joko. Aku tahu situasinya cukup kacau saat itu,” kata Gujara seraya tersenyum.


“Aku saja, jika tidak aku yang memanggilnya, mungkin aku tidak dipedulikan!” gerutu Joko Tingkir, masih memendam rasa kesal.


“Jaga kelakuanmu, Tingkir!” hardik Gujara, membuat adik seperguruannya itu kian merengut.


Joko Tenang hanya tersenyum lebar mendengar keluhan sahabatnya, yang sejak mereka bertemu lagi memang tidak mendapat porsi dari Joko Tenang sebagai seorang sahabat karib.


“Silakan, Guru! Silakan, Tetua!” kata Joko Tenang sambil menyingkir untuk mempersilakan para guru dan tetua berjalan terlebih dulu.


Namun tiba-tiba….


“Joko Ayaaam!” teriak satu suara perempuan begitu kencang.


Sontak semuanya mendongak ke langit. Dari atas meluncur tubuh seseorang. Tidak, tetapi dua orang yang menyatu. Meluncur jatuh tepat ke arah kepala Joko Tenang.


Joko Tenang cepat mundur beberapa langkah, membiarkan orang itu jatuh di depannya.


Blug!


“Hihihi…!”


Seorang lelaki tua gagah berbaju biru bagus jatuh dari langit dan mandarat seperti kodok. Sementara di punggungnya duduk tertawa seorang wanita berwajah cantik sambil mengunyah sesuatu yang berdarah. Wanita itu berpakaian warna-warni berlapis-lapis. Kuku-kuku jarinya panjang menyeramkan dan satu tangannya menggenggam sepotong ular mati.


“Ki Renggut Jantung!” sebut Pendekar Seribu Tapak yang langsung mengenali kakek gagah itu.


“Joko Ayam!” sebut wanita liar yang adalah Ratu Puspa. Ia turun dari punggung Ki Renggut Jantung alias Abna Hadaya. “Puspa mau kawin dengan Kerbau Ganteng di istanamu!”


“Demi Ratu Puspa cantik, jangankan hanya sekedar kawin, mau bertelur pun di istanaku, dengan senang hati aku persilakan, Ratu,” kata Joko Tenang, mencoba mengimbangi gaya Puspa.


“Hahaha…!” tawa terbahak Tiga Malaikat Kipas.


“Hihihi!” tawa Puspa girang, mengabaikan keberadaan para tetua. “Joko Ayam memang baik kepada Puspa. Nanti setelah Puspa kawin dengan Kerbau Ganteng, kalau Joko Ayam mau kawin dengan Puspa, harus buat kendang dulu. Hihihi!”


Joko Tenang dan para tetua hanya mendelik mendengar omongan kacau Puspa.


Sementara itu, Abna Hadaya sudah berdiri sambil cengar-cengir karena menahan malu di depan Tiga Malaikat Kipas dan para sahabat tua.


“Syukuri saja apa yang kau dapat, Abna. Bersyukurlah kau mendapat wanita yang jauh lebih muda dan cantik. Hahaha!” kata Iblis Timur.


“Hahaha! Iya, sepertinya keperkasaanku sedang dipuji…. Eh, kok dipuji, maksudnya diuji!” kata Abna Hadaya.


“Kerbau Ganteng!” panggil Puspa.


“Siap, Bayi Kelinciku!” sahut Abna Hadaya sambil berbalik, menyiapkan punggungnya.


Dengan mudahnya Puspa melompat dan langsung melekat di punggung Abna Hadaya.


“Ayo kita ke Istana Joko Ayam. Kita harus buat kandang dulu, baru bertelur banyak! Hihihi!” perintah Puspa sambil menepuk-nepuk bokong sekal Abna Hadaya.


“Siap, Bayi Kelinciku!” teriak Abna Hadaya pula, lalu melesat sambil menggendong Puspa menuju gerbang benteng Istana.


“Hahaha!” Meledak keras tawa Tiga Malaikat Kipas melihat pasangan tersebut.


“Kerbau Ganteng!” teriak Minati Sekar Arum menirukan Puspa.


“Siap, Bayi Tikusku!” sahut Ewit Kurnawa.


“Hahaha…!” tawa Tiga Malaikat Kipas terpingkal-pingkal, membuat tokoh tua lainnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiga orang sakti itu.


“Hahaha! Kau memang cocok dipanggil Joko Ayam, ayam tukang kawin!” olok Joko Tingkir yang datang mendekati Joko Tenang sambil tertawa.


“Aku harap kau jangan mengikuti jejakku, karena kau tidak akan sanggup,” kata Joko Tenang.


“Kau meremehkanku, Joko!” tukas Joko Tingkir. “Akan aku buktikan bahwa aku pun bisa menjadi pendekar yang tukang kawin sepertimu!” (RH)