8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Perjaka 23: Berhadapan


Gong!


Tiba-tiba terdengar keras pukulan gong yang menggema ke seantero Ibu Kota dan terdengar kencang di alun-alun, yang sudah dipagar oleh dua lapis barisan prajurit.


“Gusti Ratu Lembayung Mekar tibaaa!” teriak seorang prjurit.


Sebuah kereta kuda dengan bak terbuka datang yang ditarik empat ekor kuda gagah sekaligus. Meski tidak sebagus kereta kuda mewah Pendekar Raja Kawin, tetapi hiasan emas, perak dan mutiaranya membuat kereta kuda itu menyilaukan oleh kemegahan.


Di atas kereta kuda duduk dengan anggun wanita cantik jelita berusia matang, yaitu Ratu Lembayung Mekar. Pagi ini ia tampil dengan balutan busana kebaya warna kuning emas dengan sulaman warna perak dan jingga. Tiara di kepalanya yang bertabur permata merah memperkuat aura keratuannya yang tinggi.


Di belakang kereta kuda yang berjalan santai -maklum tidak ada jam masuk kantor- berjalan rombongan dayang dengan seragam warna kuning kunyit. Jumlah mereka sampai dua puluh orang. Di belakangnya lagi, berjalan sepuluh prajurit wanita berkuda yang dipimpin oleh pengawal pribadi sang ratu. Di belakang lagi ada seratus prajurit lelaki pejalan kaki bersenjata pedang lengkap dengan tamengnya.


Ratu Lembayung Mekar datang dengan penuh keagungannya.


“Hormat sembah kami kepada Gusti Ratu!” sebut seseorang yang mempelopori turun bersimpuh di tanah sambil menunduk menghormat, dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.


“Hormat sembah kami kepada Gusti Ratu!” ucap ratusan warga yang telah berkumpul di alun-alun, turut turun bersimpuh menghormat.


Ratu Lembayung Mekar tersenyum manis seraya memandang sejuk kepada seluruh rakyatnya. Ia pun mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka, memberi tanda bahwa ia menerima penghormatan dari semua rakyatnya.


Mendengar kedatangan sang ratu, Senggara Bolo dan istrinya akhirnya memutuskan untuk keluar dan turun dari dalam kereta kudanya.


Keluarnya Senggara Bolo seketika menarik perhatian para pejabat dan rakyat Ibu Kota.


Rombongan Ratu Lembayung Mekar memasuki alun-alun. Kereta kudanya pergi ke arah posisi kereta kuda Senggara Bolo. Setibanya, kereta kuda pun berhenti tepat di depan Senggara Bolo dan ketiga istrinya.


“Hormat sembah kami, Gusti Ratu!” ucap Senggara Bolo sambil turun berlutut menghormat yang diikuti oleh ketiga istrinya.


“Bangunlah!” perintah Ratu Lembayung Mekar tanpa bangun dari duduknya di kereta.


Senggara Bolo dan ketiga istrinya kembali bangun berdiri. Tidak seperti hari kemarin, kali ini Senggara Bolo menunjukkan wajah yang dingin dan lebih kalem.


“Di mana dua istrimu yang lain, Senggara?” tanya Ratu Lembayung Mekar.


“Ada musuh yang membunuhnya sepulang dari Istana kemarin, Gusti Ratu,” jawab Senggara Bolo.


“Kau memang pendekar yang bermasalah, Senggara. Seharusnya kau sudah tidak bisa melihat matahari di pagi ini. Hanya karena pengampunan dari Gusti Prabu Dira sehingga kau masih bisa bernapas sampai sekarang. Beraninya kau mencoba meracuni Gusti Prabu Dira!” ujar Ratu Lembayung Mekar datar dan dingin.


Terkesiaplah Senggara Bolo dan ketiga istrinya mendengar hal itu.


“Secara hukum Kerajaan Balilitan, jelas kalian semua harus dihukum mati di tempat. Namun, Gusti Prabu Dira mengampuni kalian hingga hari ini. Aku tanya kepadamu, Senggara Bolo. Apakah kau masih ingin merebutku dari suamiku?”


“Terima kasih atas kebijaksanaan Gusti Prabu Dira. Namun, aku tetap akan berusaha mendapatkanmu, Gusti Ratu,” jawab Senggara Bolo.


“Baiklah, Senggara. Nikmatilah waktu-waktu terakhirmu!” kata Ratu Lembayung Mekar.


Kereta kuda Ratu Lembayung Mekar lalu bergerak pergi untuk mengambil tempat.


“Gusti Prabu Dira tibaaa!” teriak prajurit penjaga pintu masuk.


Warga ibu kota Jayangga kembali dibuat heboh. Mereka segera memusatkan perhatiannya kepada Joko Tenang yang datang.


Joko Tenang ternyata datang dengan lima serigala milik istrinya. Bagi mereka yang kemarin belum melihat sang raja datang dengan serigala-serigala, ramai berbisik satu dengan yang lainnya. Banyak yang terperangah takjub.


“Itu binatang apa toh, Kang?” tanya seorang warga wanita kepada tetangganya yang laki-laki.


“Itu guguk, Soimah,” jawab lelaki itu, sok tahu, daripada dibilang berwawasan dangkal seperti sawah.


“Kok besar sekali toh, Kang?” tanya Soimah lagi.


“Karena ibunya menikah dengan sapi, jadi anaknya sebesar kerbau.”


“Hormat sembah kami, Gusti Prabu!” sebut seseorang yang kembali mempelopori turun bersimpuh di tanah sambil menunduk menghormat, dengan kedua telapak tangan bertemu di depan dahi.


“Hormat sembah kami, Gusti Prabu!” ucap ratusan warga yang telah berkumpul di alun-alun, turut turun bersimpuh menghormat.


Para prajurit pun segera turun menghormat.


Joko Tenang tersenyum manis menunjukkan ketampanan dan kewibawaannya. Ia begitu gagah duduk di punggung Satria, serigala berbulu hitam yang biasa ditunggangi oleh Permaisuri Sandaria. Namun anehnya, permaisuri yang periang dan menggemaskan itu tidak terlihat ada.


Joko Tenang memasuki alun-alun. Arah rombongan langsung kepada Senggara Bolo.


“Hormat sembah kami, Gusti Prabu!” ucap Senggara Bolo sambil turun berlutut menghormat yang diikuti oleh ketiga istrinya.


“Bangunlah!” perintah Joko Tenang yang sudah berhenti di depan Senggara Bolo.


Pendekar Raja Kawin dan ketiga istrinya segera bangkit berdiri tegak.


“Kenapa tidak sesuai janji? Ke mana kedua istrimu, Pendekar?” tanya Joko Tenang.


“Kedua istri hamba yang lain telah dibunuh oleh musuh, Gusti Prabu,” jawab Senggara Bolo.


“Baiklah, apa boleh buat. Pertaruhanmu sungguh tidak seimbang. Jika kau menang, kau akan mendapatkan ratuku dan sekaligus kerajaannya. Namun, kau hanya mempertaruhkan tiga orang wanita. Atau pertarungan ini kita batalkan saja, dan kau lebih baik aku tangkap dan aku hukum mati atas kelancangan dan kelicikanmu bermain racun,” kata Joko Tenang.


Terkejutlah Senggara Bolo dan ketiga istrinya.


“Maafkan hamba, Gusti Prabu!” ucap Segara Bolo sambil cepat turun berlutut lagi. “Aku memiliki kekayaan di Kademangan Linggarawa. Aku pertaruhkan semua kekayaan yang aku miliki dalam pertarungan ini,” kata Senggara Bolo.


“Kalian bertiga menjadi saksi dari ucapan suami kalian,” kata Joko Tenang.


“Baik, Gusti Prabu,” jawab Janila dan kedua madunya.


“Silakan, Pendekar. Kita akhiri acara ini!” kata Joko Tenang.


“Baik, Gusti,” ucap Senggara Bolo, lalu ia berkelebat di udara pergi mendarat di tengah alun-alun.


“Habisi Pendekar Tukang Kawin!” teriak seorang warga tiba-tiba.


“Habisi Pendekar Tukang Kawin!” teriak massa warga lainnya.


Kalimat itu diteriakkan berulang-ulang, membuat atmosfir duel tingkat tinggi itu terdengar rusuh.


“Kawinkan dengan kambing saja!” Kalimat baru kembali diteriakkan.


“Kawinkan dengan kambing!” teriak warga yang marah kepada Pendekar Raja Kawin.


Kalimat itu terus diteriakkan. Terdengar jelas nada kemarahan dari warga Ibu Kota. Buruknya lagi, para prajurit meneriakkan kalimat yang sama.


“Kawinkan dengan kambing!” teriak para prajurit pula.


Alangkah gusarnya Pendekar Raja Kawin mendengar teriakan itu. Wajahnya memerah. Teriakan itu jelas menghina dirinya.


Teriakan itu mau tidak mau membuat ketiga istri Senggara Bolo menahan rasa malu. Namun, mereka harus berlapang dada, sebab itu buah dari kekurangajaran suami mereka.


Kelima serigala merundukkan tubuhnya sehingga perut mereka menempel di tanah.


Clap!


Tiba-tiba Joko Tenang menghilang dari punggung Satria dan muncul beberapa tombak di depan Pendekar Raja Kawin.


Joko Tenang dan Senggara Bolo kini telah berhadapan. (RH)