
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
Joko Tenang merasakan ada sesuatu yang mengusapi wajah hingga bibirnya berulang-ulang. Ketika Joko membuka matanya, ia kembali terkejut karena mendapati wajah seekor kucing besar sedang menjilati wajahnya.
“Akhr!”
Joko Tenang yang refleks ingin bangun menjauh, mengerang kesakitan. Tubuhnya sakit sekali, di seluruh tubuhnya. Ia merasakan otot tangan dan kakinya nyaris lumpuh tidak bertenaga.
Namun kemudian, kucing besar yang adalah singa betina itu bergerak pergi meninggalkan Joko yang terkapar tidak berdaya. Joko melihat bahwa dirinya berada di tengah sebuah padang rumput yang luas.
Kepergian singa itu digantikan oleh kedatangan singa yang lain, singa yang ditunggangi oleh wanita cantik berambut kuning. Wanita bermata biru indah itu tersenyum kepada Joko.
Singa berhenti di dekat Joko Tenang. Wanita cantik itu lalu turun di sisi Joko. Ia berjongkok tanggung. Baru kali ini Joko melihat jelas wajah jelita itu dari jarak yang begitu dekat. Wajah yang sempurna. Jika mau dilukiskan secara rinci keindahannya, akan panjang ceritanya.
“Joko Tenang,” ucap wanita itu dengan aksen yang kaku, aksennya sama seperti ketika mendengar Barbara di Negeri Burma berbicara. Jika di Indonesia seperti mendengar Cinta Laura Kiehl berbicara.
Serr!
Seperti pemuda kampung yang pertama kali merasakan sensasi disebut namanya oleh gadis metropolitan. Berdesir indah perasaan Joko Tenang dengan tingkat keawetan kwalitas ori.
“Siapa kau?” tanya Joko Tenang.
“Hihihi!” wanita itu hanya tertawa cekikikan, tapi tidak seperti kunti.
Wanita tersebut lalu mengulurkan tangannya yang berjemari lentik kepada Joko, agar pemuda itu menyambutnya. Dengan wajah mengerenyit karena otot-otot yang sakit, Joko Tenang perlahan menyambut tangan wanita indah itu.
Sless!
Ketika tangan keduanya saling bersentuhan dan berpegangan, tiba-tiba mengalirlah kilatan sinar putih pada tubuh mereka berdua. Seiring itu pula, ada rasa enak yang menjalar hingga ke bagian bawah Joko Tenang.
Joko Tenang tidak tahu, kenapa ada rasa indah seperti itu yang salah alamat. Namun, itu tidak bisa ia pikirkan lebih lama karena tiba-tiba alam di sekitarnya berubah menjadi ruangan sebuah gua.
Joklo Tenang yang awalnya diam seperti orang mati dan tidak bernapas, tiba-tiba tersentak kecil dengan mata terbuka terbelalak dan bangun dengan mulut terbuka lebar, seolah hendak menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Joko Tenang sadar betul bahwa ia tadi bermimpi bertemu dengan wanita penunggu Pedang Singa Suci dan kini ia telah terbangun lagi. Namun, Joko Tenang merasakan tangannya masih dipegang. Ketika fokus pandangan mata Joko telah kembali, ia cukup terkejut saat melihat keberadaan wanita bergaun putih masih memegang tangannya, yang artinya wanita jelita itu kini benar-benar hadir di alam nyata.
Seraya tersenyum, wanita itu menarik tangan Joko Tenang agar bangun berdiri.
“Hiii…!” Makhluk-makhluk halus yang melayang di langit-langit gua menjerit melengking menunjukkan wajah marah melihat keberadaan Joko dan si wanita.
Setelah Joko Tenang berdiri di sisinya, wanita rambut kuning menunjuk Pedang Singa Suci yang tergeletak begitu saja di lantai gua.
Tap!
Joko Tenang yang paham maksud wanita di sisinya itu segera mengarahkan tangan kanannya ke posisi pedang. Pedang Singa Suci kemudian melesat tertarik ke genggaman Joko.
Wanita rambut kuning tersenyum lebar, menunjukkan bahwa ia senang Joko memahami maksudnya. Ia dan Joko kemudian menatap ke atas, memberi isyarat bahwa mereka berdua siap menghadapi makhluk-makhluk halus di atas sana.
“Hiii…!” jerit para wanita makhluk halus di atas.
Wess…!
Sepuluh sosok wanita halus menyeramkan melesat terbang turun menyerang ke arah Joko Tenang dan wanita barunya.
Zess! Zess! Zess!
Grr grr grr…!
Joko Tenang menggunakan Pedang Singa Suci menebas cepat beberapa wanita setan hingga buyar dan hilang.
Sementara wanita rambut kuning dengan tenang mengangkat kedua tangannya dengan telapak terbuka. Telapak tangannya cukup ia arahkan ke arah serangan yang datang dan juga makhluk yang mengincar Joko Tenang.
Serangan gelombang pertama akhirnya bisa dimusnahkan semua. Tinggal sepuluh makhluk lagi yang ada di atas.
“Hiii…!”
Para makhluk itu kembali menjerit melengking panjang lalu berlesatan menyerang. Joko Tenang dan wanita rambut pirang kembali melakukan hal yang sama. Hasilnya pun sama.
Akhirnya, suasana gua itu kembali tenang dan keseramannya telah hilang. Wanita rambut pirang kembali tersenyum manis kepada Joko Tenang, Joko pun membalasnya dengan senyum tampannya yang masih belepotan dengan darah.
“Siapa namamu, Nisanak?” tanya Joko Tenang yang sudah yakin bahwa wanita itu adalah penunggu di dalam Pedang Singa Suci.
“Avabella,” jawab wanita rambut kuning.
“Avabella!” sebut ulang Joko Tenang.
“Yes, I’m Avabella!” ucap wanita itu menegaskan.
“Yes aem Avabella?” sebut ulang Joko Tenang lagi.
Wanita bernama Avabella itu menggeleng seraya tersenyum.
“Avabella!” sebut Avabella dengan menyebut namanya saja.
“Hahaha! Avabella!” ulang Joko yang disertai dengan tawa santai. Lalu tanyanya lagi, “Kau mengerti apa yang aku katakan?”
Avabella tidak menjawab selain menaikkan kedua alisnya dan kedua bahunya, isyarat bahwa ia tidak mengerti maksud perkataan Joko.
“Oh, akan sulit sekali hubungan ini,” keluh Joko Tenang.
Avabella hanya tersenyum lebar melihat ekspresi kecewa pemuda tampan di depannya. Ia lalu menyeka darah yang mengotori wajah dan sekitar bibir Joko Tenang dengan kain gaunnya. Joko Tenang hanya terkesiap.
Cup!
Joko Tenang terkejut dan mendelik lebih lebar, saat di balik sekaan kain putih itu ada bibir Avabella yang datang menempel ke bibirnya. Hanya kecupan tempel, itupun tidak pakai lama.
“Hihihi…!” tawa Avabella panjang. Terlihat reaksinya dalam tawa tampak malu-malu. Seiring itu, sosok Avabella menghilang seperti terhapus oleh angin. Hingga sosoknya hilang, suara tawanya masih tersisa.
Joko Tenang berdiri terpaku dengan pikiran yang traveling tanpa tujuan.
“Ah sudahlah, biarkan hidupku bergelimang wanita, apa daya tidak bisa ditolak,” pikir Joko Tenang ketika tersadar dari lamunannya.
Joko Tenang lalu memusatkan pikirannya kepada urusan Mutiara Ratu Panah. Ia melangkah ke arah tiang batu yang di atasnya ada benda bersinar. Pedang Singa Suci masih tergenggam di tangan kanannya. Ia masih merasakah sakit pada seluruh tubuhnya, meski sudah tidak sesakit seperti di awal sebelum ia mati sekejap.
“Mungkin masih ada serangan lain yang menjaga benda itu,” pikir Joko Tenang.
Joko Tenang berhenti melangkah, ditatapnya puncak tiang yang setinggi tiga kali tubuhnya.
Joko lalu melompat ke dinding gua. Pada dinding yang tidak rata itu, Joko menolakkan kakinya dan naik mendarat di atas tiang.
Maka terlihatlah sebuah cangkang kerang selebar telapak tangan yang terbuka menganga lebar. Di dalam cangkang ada sebutir mutiara yang memancarkan sinar ungu.
Joko Tenang terdiam sejenak menatap mutiara di depan kakinya. Mutiara itu memang indah. Ia sedang berpikir dan menimbang-nimbang cara mengambil mutiara itu.
Terus terang Joko Tenang agak trauma ketika ia pertama menyentuh Pedang Singa Suci yang hampir membunuhnya.
“Jika mengambil bersama cangkangnya, aku yakin justru akan berbahaya. Aku yakin bahwa pemilik awal Mutiara Ratu Panah ini tahu bahwa orang yang berhasil akan berpikir tidak langsung mengambil mutiaranya, karena takut di mutiaranya ada jebakan berbahaya. Jadi dia menduga orang akan mengambil bersama cangkangnya. Sehingga pemilik awal memasang jebakan pada cangkangnya, bukan pada mutiaranya,” pikir Joko Tenang.
Joko lalu memasukkan kembali Pedang Singa Suci-nya ke dalam tubuhnya.
Lalu dengan keyakinan yang tinggi, Joko Tenang mengulurkan tangan kanannya ke bawah, langsung mengambil mutiara di cangkang kerang. Dengan tersentuhnya mutiara itu oleh jari tangan Joko, sinar ungunya seketika padam.
Joko Tenang langsung bersiaga dengan mata melirik ke sana ke mari. Tidak ada serangan apa-apa. (RH)