
*Pendekar Raja Kawin (Perjaka)*
Janila yang tangan kirinya telah berdarah karena ada anak panah yang tertancap, telah beradu punggung dengan Manar, madunya.
Tidak jauh dari mereka ada dua lelaki berpakaian cokelat bersenjata pedang. Ketegangannya sama seperti ketegangan yang Janila dan Manar alami. Di sisi lain, ada setubuh mayat lelaki berpakaian cokelat pula, yang tewas bersimbah darah akibat luka sayatan yang banyak.
Kondisi yang membuat tegang adalah pengepungan yang dilakukan oleh para prajurit panah. Busur-busur mereka sudah diarahkan untuk melepaskan anak panah yang sudah terpasang. Ada pula enam prajurit panah yang tergeletak tewas di semak-semak.
Pengepungan pasukan panah itu dipimpin oleh seorang punggawa prajurit bertubuh kekar bertelanjang dada. Ia adalah Komandan Pasukan Panah Kerajaan Balilitan, namanya Gada Kalang.
Meski berkesaktian, tetapi Janila dan Manar cukup ragu, apakah mereka bisa lolos dari serangan panah jarak dekat itu. Namun, jika mereka berdua bisa lolos dari serangan panah pertama yang akan terjadi, mungkin mereka berdua bisa di atas angin.
Arah bidikan pemanah hanya kepada Janila dan Manar, tidak kepada kedua lelaki besar berpedang. Itu menunjukkan bahwa kedua lelaki yang bernama Rewa dan Gandang adalah pihak pasukan panah.
“Siapa yang memerintahkanmu, Prajurit?” tanya Janila.
“Orang yang kemarin kalian hajar di rumah makan,” jawab Gada Kalang.
“Beraninya kalian menyerang tamu Ratu!” seru Manar.
“Hahaha! Jika kalian mati, ini semua bisa diatasi!” kata Gada Kalang. Lalu teriaknya memberi komando kepada pasukannya, “Bidiiik!”
Set set set …!
“Akk! Akh! Akr …!”
Sebelum Komandan Gada Kalang berteriak “tembak”, tiba-tiba satu bayangan putih muncul berkelebat cepat di belakang barisan prajurit panah. Bayangan wanita bercadar putih itu menggariskan pedangnya pada punggung-punggung prajurit.
Prajurit yang mendapat goresan pedang pada punggungnya berjeritan susul-menyusul.
Serangan tiba-tiba tersebut mengejutkan semua pihak. Sebelum pasukannya dilukai semua, Komandan Gada Kalang cepat bertindak. Ia berkelebat cepat memotong pergerakan wanita bercadar putih.
Ting!
Serangan keris Gada Kalang memaksa wanita bercadar menangkis dengan pedangnya, sekaligus menahan serangannya terhadap para prajurit.
Wuss!
“Akh! Akk! Akr …!”
Janila yang dalam kondisi menahan sakit cepat memanfaatkan momentum. Ia menghentakkan lengan kanannya, melepaskan angin pukulan bertenaga tajam. Serangannya mengarah kepada Rewa dan Gandang, dua lelaki berpedang. Serangan itu juga langsung mengarah kepada sebagian prajurit panah.
Rewa dan Gandang yang tidak mau bernasib sama dengan rekannya, cepat melompat jauh menghindari angin berbahaya itu. Namun, beberapa prajurit panah harus berteriakan karena angin tajam itu menyayat-nyayat tubuh dan wajah mereka, bahkan ada yang mengiris leher.
“Panah!” teriak seorang prajurit panah yang melihat kondisi kacau tersebut.
Set set set …!
Akhirnya, sebagian dari parjurit panah yang tersisa melepaskan anak panah di busur mereka. Janila melakukan lompatan berputar silinder di udara menghindari serangan anak panah.
Berbeda dengan Manar yang menahan dua anak panah dengan kedua telapak tangannya. Namun, ….
Seb!
“Akk!” pekik Manar tertahan, karena ada satu anak panah yang melesat dari arah samping kanan, padahal pada sisi itu tidak ada prajurit panah yang berdiri.
Kecepatannya yang lebih cepat dari panah lainnya, membuat anak panah itu menancap telak di lambung kanan Manar.
“Manaaar!” pekik Janila terkejut bukan main.
Manar terhuyung ke sisi kiri dengan mulut yang menganga lebar karena menahan sakit dan sesak napas.
Rewa dan Gandang yang baru mendarat dari lompatannya, cepat merangsek maju mendapati tubuh Manar dengan tusukan dan sabetan pedang.
Dalam kondisi yang terluka parah itu, Manar menghindari tebasan pedang Gandang. Namun, ….
Tseb!
“Hekr!” keluh Manar yang tidak bisa mengelaki tusukan pedang Rewa pada perutnya.
“Manaaar!” jerit Janila lagi begitu terkejut melihat madunya ditusuk.
Janila cepat melesatkan sinar merah berwujud kepala ular dan menghantam dada Rewa yang belum mencabut pedangnya dari perut Manar. Dada itu jadi berlubang pecah, sementara Rewa terjengkang sejauh tiga langkah. Ia langsung tewas.
Gandang terkejut melihat kematian Rewa. Ia langsung beralih menyerang Janila dengan serangan pedang yang membabi buta. Janila terpaksa bergerak mundur-mundur sambil mengelaki serangan pedang yang mengamuk.
Sementara itu, Komandan Gada Kalang terlihat mulai terdesak oleh permainan pedang wanita bercadar.
Di sisi lain, pasukan panah yang masih ada dua belas orang, kembali memasang anak panah di busur.
Seset seset …!
Namun, tiba-tiba dari sisi lain berlesatan dedaunan terbang, menyayat tangan-tangan para prajurit, membuat busur dan panah mereka terlepas. Dengan tangan yang terluka oleh sayatan daun, para prajurit itu serentak mencari pihak yang melepaskan dedaunan terbang tersebut. Namun, tidak ada sesiapa pun yang mereka lihat.
Gada Kalang memilih melesat mundur ketika pedang wanita bercadar putih melakukan kibasan berulang dalam ritme cepat sambil maju mendesak.
Set! Ting!
Dalam penghindarannya itu, Gada Kalang tiba-tiba melesatkan kerisnya kepada wanita bercadar. Wanita itu terkejut dan buru-buru berhenti sambil kayang ke belakang menggunakan satu tangan, sementara tangan kanan yang memegang pedang menangkis keris, membuat senjata berliuk itu terpental.
Ses! Zezz! Blarr!
Gada Kalang cepat memanfaatkan kesempatan dengan melesatkan sinar biru berbentuk seperti kecebong raksasa. Dengan sigap, wanita bercadar juga langsung melepaskan bola sinar kuning sebesar kepala manusia.
Pertemuan dua sinar di tengah jarak menciptakan ledakan tenaga sakti yang keras. Wanita bercadar terpaksa termundur beberapa tindak dan nyaris jatuh.
Berbeda dengan Gada Kalang yang justru terjengkang sejauh satu tombak.
“Hoekh!” Gada Kalang muntah darah panas ketika buru-buru hendak bangun.
Terlihat wajah Gada Kalang memerah dan kulit dadanya yang kekar rusak oleh luka melepuh. Ia telah beradu sakti dengan ilmu tinggi yang bernama Menapak Gerhana Bulan.
Melihat kondisi Gada Kalang, wanita bercadar melirik pertarungan Janila dan Gandang. Pertarungan itu cukup seimbang. Garangnya Gandang dan terlukanya Janila membuat pertarungan itu tidak jelas berpihak kepada siapa.
Namun, wanita bercadar memutuskan berkelebat dan mengambil alih pertarungan dengan Gandang. Adu jurus pedang pun terjadi. Ternyata, ilmu pedang Gandang kalah level.
Ting ting! Zleet!
Setelah beradu pedang dalam ritme cepat, pedang wanita bercadar dengan lihai bisa meliuk masuk menusuk lewat gesekan bilah pedang. Ujung pedang wanita bercadar mengenai jari-jari Gandang yang memegang pedang. Hal itu jelas membuat pedang Gandang terlepas dari pegangan.
Sadar akan situasinya berbahaya, Gandang cepat menghentak lengan kirinya hendak melepaskan satu ajian pukulan jarak jauh.
Zezz! Bluar!
“Huaakr!” pekik Gandang dengan tubuh terlompat ke belakang, seperti gerakan peloncat indah yang melompat terjun dengan cara mundur.
Pukulan bertenaga dalam Gandang yang tidak berwujud, beradu dengan bola sinar kuning panas dari ilmu Menapak Gerhana Bulan.
Akibatnya, Gandang terlempar oleh ledakan panas yang mematikan. Gandang seketika itu tewas dengan wajah melepuh parah dan pakaian depannya hangus berasap.
Janila cepat berlari mendapati tubuh Manar yang sudah tidak bernyawa. Ia hanya bisa menangis sejenak, karena kondisi belum begitu aman. Komandan Gada Kalang dan sejumnlah prajurit masih hidup, meski mereka menderita luka.
Janila cepat menatap kepada wanita bercadar. Ia pun mencari orang lain yang menyerang secara sembunyi-sembunyi.
“Siapa kau?!” tanya Janila agak membentak. “Apakah temanmu yang melesatkan panah pada Manar?”
“Aku sendiri, aku tidak bersama teman. Kau curiga kepadaku?” kata wanita bercadar.
“Masih ada satu orang yang bersembunyi, menyerang secara curang!” desis Janila yang di tangan kirinya masih tertancap sebatang anak panah.
Wanita bercadar jadi memandang ke sekeliling, mencari orang yang dimaksud Janila.
Terlihat Gada Kalang bergerak bangkit. Melihat hal itu, Janila cepat bertindak.
Set! Sess! Ctar!
Janila melesatkan sinar merah berwujud kepala ular ke arah Gada Kalang. Namun, dari arah samping tiba-tiba muncul sinar hijau berbentuk pisau terbang. Sinar hijau menghantam sinar merah dan menimbulkan ledakan nyaring. Janila sampai jatuh terjengkang. Ia merasakan dadanya sangat sesak.
“Uhhuk uhhuk!” batuk Janila yang mengeluarkan darah.
Mereka cepat mengalihkan pandangan ke arah orang yang menyelamatkan Gada Kalang. Mereka melihat rombongan lima serigala besar yang dua di antaranya ditunggangi oleh manusia, pemuda tampan berbibir merah dan berompi merah serta seorang wanita cantik jelita bermata tertutup.
“Joko Tenang!” ucap wanita bercadar lirih. Ia langsung berkelebat pergi meninggalkan tempat itu. (RH)