8 Dewi Bunga Sanggana

8 Dewi Bunga Sanggana
Rajungan 2: Rahasia yang Bocor


*Rahasia Jurang Lolongan (Rajungan)*


 


“Terik sekali siang ini, lama tidak hujan. Aku rindu hujan,” ucap si nenek berjalan sambil mengerenyitkan wajah. Ia seperti grub band Utopia yang merindukan hujan.


 


Aku selalu bahagia


Saat hujan turun


Karena aku dapat mengenangmu


Untukku sendiri oooh… ooo


 


Selalu ada cerita


Tersimpan di hatiku


Tentang kau dan hujan


Tentang cinta kita


Yang mengalir seperti air


 


Kira-kira seperti itulah kenapa Nenek Tongkat Lentur suka dengan hujan. Dia rupanya punya cerita dan kenangan indah saat hujan dengan mantan kekasihnya sekitar tiga puluh tahun yang lalu.


“Ah, itu ada daerah semak, pohonnya rindang. Aku banget rasanya. Bisa-bisa tidur aku. Hihihi!” kata si nenek yang berbicara sendiri kepada dirinya.


Nenek ini berjubah kuning. Pinggang jubahnya dililit oleh lingkaran bambu kuning. Bambu itu bukan sabuk, tetapi pada dasarnya itu adalah tongkat bambu yang bisa dilenturkan dengan mudah menjadi seperti sabuk. Meski memiliki tongkat, tetapi si nenek masih gagah berjalan tanpa topangan. Rambut putihnya disanggul sederhana, yang kadang-kadang sanggulannya lepas sendiri membuat rambutnya jatuh ke depan wajah. Kejadian seperti itu yang disukai oleh si nenek, mungkin karena mirip gaya penyanyi rocker wanita. Nenek Tongkat Lentur ini punya nama asli Emping Panaswati.


“Oalah, Dewa Gusti Maha Adem, adem sekali jemuran di sini. Uaaah!” ucap Emping Panaswati sambil langsung rebahkan diri di semak-semak tepat di bawah pohon besar yang rindang. Kepalanya berbantalkan akar pohon. Ia menguap dahsyat sehingga gigi berlubangnya dan amandelnya terlihat jelas, dua lubang hidungnya sampai mekar maksimal.


Emping Panaswati pun memejamkan matanya. Namun, rupanya si nenek tidak bisa langsung terlelap. Meski sepasang kelopak matanya tertutup berusaha untuk tidur, tetapi sangat jelas bahwa bola matanya bergerak-gerak tidak tenang.


Tiba-tiba sepasang mata Emping Panaswati terbuka lebar, keningnya berkerut menunjukkan bahwa ada yang dipikirkannya.


“Aku tidak habis pikir, kenapa Putri Bibir Merah menitipkan pusaka Tongkat Jengkal Dewa kepada Ki Ageng Kunda Poyo. Coba, jika Ki Ageng Kunda Poyo menyentuh pusaka itu, mampuslah dia. Apalagi kalau ada pendekar jahat yang mendengar tentang keberadaan pusaka itu. Jika mau mewariskan kepada keturunannya, kenapa tidak langsung diberikan. Kenapa harus lewat Ki Ageng Kunda Poyo?” ucap Emping Panaswati bicara sendiri seperti aktris sinetron negeri masa depan, yang suka bicara sendiri di depan kamera jika hatinya bertanya-tanya atau punya niat jahat.


Ia bergerak jadi duduk.


“Bagaimana tidak bahaya jika tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali keturunan Ratu Bibir Darah yang berbibir merah? Aku harus pergi menemui Ki Ageng Kunda Poyo, tapi aku harus tidur dulu. Di sini adem sekali,” katanya masih bicara sendiri, seolah ia bicara dengan malaikat atau setan yang mendampingi hidupnya.


Emping Panaswati kembali memperbaiki letak bokongnya lalu ia merebahkan kembali tubuhnya. Namun, tiba-tiba ia bangun kembali dengan wajah merengut.


“Bah! Kok ada bau kotoran orang? Wah, pasti di sini tempat kucing kambing buang isi perut!” gerutu Emping Panaswati sambil bangkit berdiri dengan wajah masih mengerut asam karena menahan bau yang tidak sedap.


Ia sejenak memandang ke sekeliling. Ia tidak melihat ada orang lain atau makhluk lain. Namun, bau kotoran manusia itu begitu mengganggunya.


“Tempat lain pasti udaranya lebih tidak tercemar,” kata Emping Panaswati.


Emping Panaswati memutuskan melangkah pergi. Ketika Emping Panaswati sudah menjauh, dari balik semak belukar yang tidak jauh dari pohon, muncul sebuah kepala wanita cantik jelita berbibir merah. Wanita berpakaian serba ungu itu tidak lain adalah Putri Aninda Serunai.


Ia kemudian berdiri sambil berapikan pakaian bawahnya. Rupanya ia baru selesai buang hajat. Ia mendengar semua celotehan Emping Panaswati yang seperti aktris sinetron.


Sebelumnya tadi pagi, Emping Panaswati datang ke Jurang Sembunyi, yang namanya seperti nama kue. Kebisaannya menembus masuk ke Jurang Sembunyi kediaman Putri Bibir Merah mengejutkan Murai Manikam.


“Kau memang pandai bersembunyi dari orang lain, tetapi itu jika kau sedang niat. Tapi jika sedang tidak berniat, kambing pun bisa melihatmu. Aku tanpa sengaja melihatmu suatu hari lalu membuntutimu, dan melihatmu menghilang di jurang ini. Lalu di mana Anai Layang?” kata Emping Panaswati.


“Guru sedang bertapa di gua, Nek,” jawab Murai Manikam.


“Mau sedang bertapa kek, mau sedang buang air kek, mau sedang bersenggama kek, pokoknya bangunkan saja! Katakan bahwa bibi Emping-nya datang!” sungut Emping Panaswati.


“Baik, Nek!” ucap Murai Manikam yang memang mengenal Emping Panaswati adanya.


Murai Manikam pun cepat berbalik dan melangkah pergi.


“Kasihan, gara-gara mengikuti gurunya, Murai jadi perawan tua juga,” kata Emping kepada dirinya sendiri.


“Kenapa, Nek?” tanya Murai sambil berbalik menghadap kepada Emping. Ia samar-samar mendengar perkataan si nenek yang sudah ia tinggalkan.


“Tidak, aku bicara kepada roh kakakku!” jawab Emping agak berteriak.


“Oooh!” Murai Manikam hanya manggut-manggut kemudian. Ia lalu kembali pergi.


Ternyata benar perkataan Emping Manikam. Anai Layang tidak marah dibangunkan dari pertapaan setelah diberi tahu bahwa yang datang adalah Emping Panaswati.


“Hormatku, Bibi Emping!” ucap Anai Layang seraya menghormat ketika tiba di depan saudara ibunya.


“Kenapa kau tidak muncul-muncul di dunia persilatan, bersembunyi hanya untuk menjadi perawan tua? Lihat, Murai yang secantik ini akhirnya hanya mengikuti jejakmu saja!” tanya Emping bernada memarahi.


Anai Layang sudah akrab dengan karakter bibinya yang satu ini.


“Jika orang dunia persilatan melihatku, aku hanya khawatir tercipta bencana lagi seperti dulu,” kilah Anai Layang seraya tersenyum kepada bibinya.


“Itu hanya ketakutanmu saja. Bahkan jika kau muncul di dunia persilatan, kau akan menjadi ratunya para pendekar, selama Tongkat Jengkal Dewa itu kau miliki. Jika memang ada yang mau merebutnya, mudah, tinggal kau bunuh, maka selesai urusan!” kata Emping Manikam. “Lalu apakah tongkat itu masih ada di tanganmu?”


“Sudah aku titipkan kepada Ki Ageng Kunda Poyo sejak sepuluh tahun yang lalu, untuk aku wariskan kepada putranya Ningsih Dirama, putri dari Rumih Riya,” jawab Anai Layang jujur, ia tidak khawatir terhadap bibinya. Ia tahu bahwa bibinya tidak mungkin berniat menguasai pusaka itu.


“Apakah dia berbibir merah juga sepertimu?” tanya Emping Panaswati.


“Iya. Aku sedang menjalani pertapaan yang cukup lama, jadi sulit jika aku harus mencarinya sendiri, apa lagi aku pantang untuk muncul ke permukaan. Sepertinya Bibi ada keperluan khusus denganku sehingga bisa menemukanku di sini?”


“Aku ingin menanyakan, apakah kau juga diundang oleh Tiga Malaikat Kipas untuk hadir di Jurang Lolongan?” tanya Emping Panaswati.


“Tidak. Aku bukanlah orang sepenting Bibi. Tentunya Tiga Malaikat Kipas tidak mau bersusah diri mencariku hanya untuk mengundangku,” kata Anai Layang.


“Maksudku, jika kau juga diundang, aku mau mengajakmu pergi bersama ke Jurang Lolongan,” kilah Emping Panaswati. “Ah, ya sudahlah. Kau sedang menjalani pertapaan, tentunya tidak mau jika diganggu lama-lama. Aku pergi saja, setidaknya aku tahu di mana sekarang kau tinggal. Bayangkan, kau sudah menghilang puluhan tahun.”


“Maafkan aku jika tidak bisa menjamu, Bibi,” ucap Anai Layang seraya tersenyum ramah.


Tanpa basa dan basi, Emping Panaswati berbalik dan melangkah pergi.


“Melihatmu hidup tenang dan sehat saja sudah senang perasaanku,” ucap Emping Panaswati kepada dirinya sendiri, tapi masih terdengar oleh Anai Layang dan Murai Manikam.


Seperti itulah ceritanya kenapa Emping Panaswati bisa tahu informasi tentang keberadaan Tongkat Jengkal Dewa. Lalu kebiasaannya main drama sendiri membuat informasi rahasia itu tanpa dikehendaki bocor ke telinga Putri Aninda Serunai, yang sedang buang hajat di balik semak belukar. Maklum saat itu belum ada WC umum seperti di terminal atau di pom bensin.


Yang terpenting, jangan tanya kenapa putri dari Ningsih Dirama dan Prabu Raga Sata itu bisa buang air di dekat Emping Panaswati berceloteh seperti burung beo.


Mendengar kisah itu, Putri Aninda Serunai lalu menanyakan tentang pusaka Tongkat Jengkal Dewa serta siapa Ratu Bibir Darah, Putri Bibir Merah dan Ki Ageng Kunda Poyo kepada ayahnya.


Alangkah senangnya Prabu Raga Sata mendapat informasi rahasia yang dipungut oleh putrinya di semak belukar. Putri Aninda Serunai juga terkejut ketika mendengar cerita dari ayahnya yang menjawab semua pertanyaannya. Ia tidak menyangka bahwa ia adalah keturunan dari Ratu Bibir Darah. Itu artinya ia bisa memiliki pusaka Tongkat Jengkal Dewa.


Maka Prabu Raga Sata menyusun siasat jahat untuk memanfaatkan pusaka sakti itu saat pertemuan pendekar aliran putih di Jurang Lolongan.


Maka Putri Aninda Serunai memerintahkan anak buahnya untuk mencari tahu tempat kediaman Ki Ageng Kunda Poyo. (RH)