
*Bibir Merah Pendekar (BMP)*
“Lihat! Burungnya bawa tiga perempuan!” seru Surya Kasyara, pemuda tampan berkulit agak hitam yang berjuluk Pendekar Gila Mabuk. Dia membawa bumbung tuak. Dia bagian dari Pasukan Pengawal Bunga.
“Dasar tukang mabuk! Mereka berempat adalah perempuan semua!” kata wanita jangkung berbedak tebal. Ia mengenakan pakaian merah terang dan menyandang dua pedang kembar pada pinggang kanan dan kiri. Ia bernama Nyi Mut, juga bagian dari Pengawal Bunga.
“Aku rasa aku sudah cukup bagimu, Surya. Kau tidak membutuhkan wanita lain,” kata wanita bergigi tonggos sambil meletakkan satu telapak tangannya di bahu Surya Kasyara. Wanita berpakaian hijau muda itu memiliki sebilah keris pada selipan sabuknya. Namanya Sugigi Asmara.
Sebenarnya Surya Kasyara tidak nyaman dengan tindakan tangan Sugigi Asmara. Ia ingin tepis tangan itu, tapi karena ada dua bukit yang begitu menantang di dekatnya, terpaksa Surya Kasyara ikhlas hati membiarkan Sugigi Asmara. Sugigi Asmara dikarunai dua kelebihan, yaitu kelebihan gigi dan kelebihan bagian depan.
“Sugigi Asmara sekarang mendapat mangsa baru, sampai-sampai lupa dengan Kakang Ganteng,” celetuk pemuda berambut gondrong keriting. Ia bernama Dahak Buras, pemuda yang beberapa hari lalu masih dikejar-kejar oleh Sugigi Asmara.
“Waktu Sugigi tergila-gila denganmu, kau jual mahal. Sekarang, ketika Sugigi mesra dengan lelaki baru, kau justru cemburu!” kata Nyi Mut membela rekan sesama wanitanya.
Sementara itu di pelataran Istana, burung rajawali raksasa bernama Gimba turun dengan perlahan. Gimba harus menurunkan angkutannya terlebih dahulu yang menggantung. Sementera kepakan sayap Gimba yang kencang menciptakan angin berdebu yang kencang ke segala arah. Karenanya para permaisuri memilih belum mau mendekat.
Ketika wadah papan itu mendarat di tanah pelataran, keempat abdi Permaisuri Yuo Kai segera turun ke tanah. Wanita cantik berpenampilan seperti lelaki dan berpakaian biru gelap, segera melesatkan pedangnya. Pedang itu terbang sendiri dari warangkanya lalu memutuskan tambang yang diikatkan pada kaki besar Gimba. Aksi pedang itu menunjukkan kehebatan wanita cantik bernama Bo Fei.
“Wow! Dia cantik!” puji Luring, lelaki botak berbadan kurus. Ia salah satu pendekar kampung bersama teman gendutnya yang bernama Adi Manukbumi.
“Kau lihat ilmu pedangnya, bisa mati kau kalau berani macam-macam dengan wanita itu,” kata Adi Manukbumi, pendekar yang mengandalkan kekuatan tangan kosong.
Setelah tali sudah lepas dari cekernya, Gimba bukannya mendarat, tetapi justru terbang pergi.
Kaaak!
Koak Gimba langsung pergi meninggalkan kerajaan itu.
Sementara di udara, ada pertunjukan romantis yang tergelar. Joko Tenang alias Prabu Dira melayang turun sambil tangan kanannya menggenggam mesra tangan kiri Yuo Kai. Suami istri itu melayang turun seperti kapas jatuh, membuat mereka seperti dewa-dewi yang turun dari kahyangan.
Tersenyum lebar Tirana melihat kemunculan Yuo Kai, sebab dialah satu-satunya istri Joko Tenang yang sudah mengenal dan akrab dengan Yuo Kai.
Melihat kecantikan Permaisuri Yuo Kai dan cara turunnya yang indah mempesona, tersenyum pula Ratu Getara Cinta dan Kerling Sukma.
Para pendekar dalam Pasukan Pengawal Bunga terpesona melihat pertunjukan indah itu. Selain “terpesonaaa, akuuu terpesonaaa, memandang-memandang wajahmu yang manis”, mereka saling riuh sendiri.
Ketika Joko Tenang dan Permaisuri Yuo Kai mendarat begitu halus tanpa ada debu yang terbang, barulah para permaisuri berdatangan dengan langkah yang anggun.
Sementara Gimba sudah hilang di langit dan kembali ke Alam Kahyangan. Sebelum berpisah, Joko Tenang sudah berpesan kepada sahabatnya itu agar menjemputnya dalam waktu dua hari lagi.
Yuo Kai mau tidak mau harus terkejut dan tidak bisa menyembunyikannya, saat melihat tingkat kecantikan para permaisuri yang laksana tebaran butiran mutiara.
Belum lagi para permaisuri sampai kepada Prabu Dira yang tersenyum bahagia melihat kedatangan mereka, tiba-tiba….
“Eh, sudah berapa hari kalian berdua, tapi masih berpegangan tangan?”
Tiba-tiba sosok Sandaria muncul begitu saja di antara Joko Tenang dan Yuo Kai. Seenaknya saja ia memisahkan tangan suaminya dari tangan Permaisuri Yuo Kai, lalu ia yang menggandeng tangan Joko sambil tersenyum angkuh dengan gaya milenialnya.
Tindakan Sandaria yang main serobot lagi itu membuat Joko Tenang dan Yuo Kai terkejut. Permaisuri Pertama juga terkejut karena tidak menyangka dengan cara muncul Sandaria yang tanpa tanda-tanda.
“Kau pasti Sandaria,” terka Yuo Kai.
Terkaan dengan pengucapan kata-kata beraksen orang asing itu membuat Sandaria seketika berhenti bertingkah.
“Eh, Kakak Yuo Kai bisa mengenaliku? Padahal kita baru kali ini bertemu,” kata Sandaria.
“Aku mengenalimu karena tingkahmu yang suka serobot,” jawab Yuo Kai agak ketus.
“Hihihi!” tawa Ratu Getara Cinta dan Kerling Sukma melihat kekesalan Sandaria yang lucu dan menggemaskan.
“Selamat datang, Permaisuri Yuo Kai!” sambut Tirana seraya tersenyum kepada You Kai. Ia menghormat ala Negeri Jang, negeri asal Permaisuri Yuo Kai.
“Hihihi! Kita sekarang sama-sama menjadi permaisuri,” ucap You Kai.
“Sudah, jangan merengut lagi. Cup!” bujuk Joko lalu mengecup dahi Sandaria.
Sandaria jadi tersenyum malu, karena ia yang pertama di cium oleh Joko.
“Hormatku, Kakang Prabu!” ucap Ratu Getara Cinta menghormat.
Joko Tenang lalu mengecup kening Permaisuri Darah Suci.
“Maafkan aku, kau aku tinggalkan dengan beban yang banyak,” ucap Joko Tenang kepada ratunya.
“Tidak berat, kami semua saling membantu,” kata Ratu Getara Cinta.
“Hormatku, Kakang Prabu!” ucap Kerling Sukma.
Joko Tenang lalu mengecup dahi Kerling Sukma. Hal yang sama ia lakukan pula kepada Kusuma Dewi yang datang agak terlambat.
Namun, ketika berhadapan dengan Permaisuri Nara, justru Joko Tenang yang dikecup keningnya oleh Nara. Dewi Mata Hati bahkan pergi untuk mengecup dahi Yuo Kai.
Terakhir, Joko Tenang mengecup dahi Tirana.
“Kemari, Ginari!” panggil Tirana kepada Ginari yang sejak tadi hanya berdiri diam melihat keramaian itu.
Ginari datang berjalan mendekat dengan ekspresi yang dingin. Joko Tenang tersenyum lebar melihat kemajuan diri Ginari.
“Bagaimana kondisimu, Ginari Sayang?” tanya Joko Tenang seraya tersenyum manis.
Ginari menatap datar kepada Joko Tenang, tetapi ia tidak menjawab.
Cup!
Dengan lembut, Joko Tenang juga mengecup dahi Ginari. Kecupan itu memberi reaksi di dalam hati Ginari.
“Ayo kita masuk!” seru Joko Tenang.
Ia lalu kembali menggandeng tangan You Kai.
Para prajurit yang melihat kemesraaan Joko Tenang dengan tujuh permaisurinya itu, hanya bisa diam, menahan rontahan jiwa jomblo dan langsung kangen istri bagi yang sudah menikah.
Berbeda dengan para pendekar yang berkumpul menonton dari sisi yang lain. Mereka hanya bisa ternganga.
Dua orang pengurus kuda, yaitu Gowo Tungga dan Gembulayu, tanpa sadar mereka berpelukan karena terhanyut hayalan yang melihat Joko Tenang laksana seorang Dewa Cinta.
“Kenapa kalian yang berpelukan?” tanya seorang wanita dari belakang mereka. Wanita berkulit hitam manis itu menyandang sebuah kail. Gadis cantik manis itu adalah mantan seorang bajak laut, namanya Garis Merak.
“Dasar Gendut! Kenapa kau memeluk-meluk aku!” gerutu Gowo Tungga tersadar sambil mendorong tubuh Gembulayu sampai hampir jatuh.
“Kau yang memeluk aku lebih dulu!” tukas Gembulayu yang bertubuh gendut seksi.
Sementara Garis Merak melirik sinis kepada Surya Kasyara yang sedang digelayuti oleh Sugigi Asmara. (RH)