
Happy reading 🥰🥰
-
❤️❤️❤️
Mila menangis terisak-isak.
Mendengar keributan di luar membuat Grameisya terbangun.
"Ada apa sih? Kok berisik banget," ucap Grameisya yang terpaksa harus bangun.
Grameisya pun turun dari anak tangga dan melihat keributan di ruang tamu.
"Sekarang kamu pergi dari rumah ini!" teriak Andes.
"Tidak Pa, jangan usir aku!" ucap Mila berlutut di depan Andes dengan tangis menyedihkan.
Mila melihat ke arah suaminya Heru berharap jika Heru membelanya.
"Mas, tolong aku Mas, jangan usir aku," ucap Mila meraih celana Heru.
Heru membuang wajahnya ke samping seolah-olah ia tidak ingin melihat wajah istrinya itu.
"Kamu memang pantas pergi Mila, aku juga sudah tidak menginginkan kamu lagi," ucap Heru.
"Apa!" Mila terbelalak. Bahkan suami juga tidak menerimanya lagi.
Grameisya melihat itu rasanya kasihan, tapi itu lah karma yang ia pantas ia dapatkan.
Dengan berat hati, Mila pun bangun dengan air mata yang terus jatuh ke lantai.
Ia perlahan-lahan berjalan menuju kamarnya untuk membereskan semua barang-barangnya.
"Mama! Jangan pergi!" teriak Yessy memeluk mamanya.
"Mama harus pergi Nak. Kamu jaga dirimu baik-baik ya," pesan Mila sambil mencium kening Yessy.
"Enggak Ma, kalau Mama pergi aku juga pergi," ucap Yessy menangis tersedu-sedu.
"Tidak Nak. Kamu harus melanjutkan sekolahmu, jangan ikut Mama. Mama entah akan pergi kemana," jawab Mila menepuk pundak Yessy.
"Enggak! Kalau Mama pergi aku juga pergi!" ucap Yessy tegas.
"Tidak! Aku akan Mama! Kalian telah mengusirnya jadi aku akan ikut sekalian!" jawab Yessy dengan mata merah.
"Ya sudah, sana ikut Mamamu," ucap Heru emosi. Ia meninggal rumah tersebut, masuk ke dalam mobilnya dan pergi entah kemana.
Mila dan Yessy masuk ke dalam kamar mereka untuk membereskan barang-barangnya.
"Tu-Tuan, mereka sudah saya usir, jadi bagaimana? Apa Anda masih menerima kerja sama dengan perusahaan kami?" tanya Andes dengan harapan yang tak padam.
Alneozro meliah Grameisya yang sedari tadi berdiri di anak tangga sambil menyaksikan keributan tadi, ia pun tersenyum.
"Aku akan terima kerja samanya, tapi kerja sama dengan perusahaan cabangku saja," jawab Alneozro.
"Tidak masalah Tuan, karena anak perusahaan Tuan juga perusahaan terbesar," jawab Tuan Andes kembali ceria.
Andes merasa lega karena perusahaannya terselamatkan. Tidak sia-sia ia mengusir Mila.
Grameisya pun turun dari anak tangga.
"Tapi hari ini, aku ingin mengajak Grameisya untuk pergi, apa kalian setuju?" tanya Alneozro.
"Oh tentu saja kami memberi izin Tuan, silakan bawa dia," ucap kakek Andes.
'Cih! Dasar tua bangka, dia mengorbankan apa pun demi perusahaannya,' batin Grameisya merasa jijik melihat Andes.
"Grameisya, sana siap-siap," ucap Deval tersenyum.
"Tidak perlu, seperti ini saja," jawab Grameisya.
"Iya, seperti itu saja ia sudah kelihatan cantik," sahut Alneozro.
"Ayo cepat sana pergi." Deval mendorong punggung Grameisya agar ia ikut bersama Alneozro.
Dengan terpaksa, Grameisya pun pergi bersama Alneozro, ia masuk ke dalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Alneozro.
Perlahan-lahan mobil pun meninggalkan kediaman Andes. Saat itu, Grameisya melihat Mila dan Yessy sedang membawa masing-masing 2 koper.
"Aku sumpahin, perusahaan mu bakal bangkrut!" sumpah Mila geram.
❤️❤️❤️