TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 115


...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Grameisya melihat makan siangnya masih tersaji di atas nakas.


"Ah iya, aku lupa makan siang tadi rupanya ya?" tanya Grameisya.


Ia pun turun dengan membawa napan yang berisi makanan itu turun ke bawah. Bi Ena tidak mengambilnya mungkin dia berpikir Jika Grameisya jika terbangun dan memakan makanan. Tapi ia bangun malah kemalaman.


"Ya ampun Non. Kenapa repot-repot membawanya ke dapur?" tanya Bi Ena yang langsung mengambil Napan yang berisi makanan itu dari tangan Grameisya.


"Tidak apa-apa Bibi, sekali turun saja," jawab Grameisya.


Grameisya melihat meja makan yang sepi dari penduduk itu.


"Pada kemana yang lain Bi?" tanya Grameisya.


"Biasalah, mereka pada makan di kamar," jawab Bi Ena.


"Di mana Papa?" tanya Grameisya.


"Tuan tadi menerima telpon, terus dia keluar dan sampai sekarang belum masuk lagi. Mungkin masih menelpon," jawab Bi Ena.


"Oh, ya udahlah." angguk Grameisya.


"Nona mau makan, Bibi siapkan," ucap Bi Ena.


"Iya. Aku tadi siang nggak makan," ucap Grameisya.


"Baik Nona," jawab Bi Ena.


Grameisya duduk di meja makan. "Besok ... Perlukah aku menjemputnya?" tanya Grameisya membaringkan kepalanya di meja.


Ya, besok setelah pulang sekolah ia harus datang ikut menjemput Alneozro pulang dari luar negeri.


Sebenarnya ia malas, tapi bukan karena Alneozro, ia tidak mungkin bisa mendapatkan sertifikat markas itu. Alneozro juga yang sudah banyak membantunya, ia menjadi hutang budi dengan Alneozro.


"Ini Nona, Bibi siapkan makanan untuk Nona, ayo di makan," ucap Bi Ena membuyarkan lamunan Grameisya.


"Iya Bi, terima kasih," ucap Grameisya bangun dan ia pun menyantap makanannya.


"Aneh, kok Papa belum masuk juga? Apa dia langsung pergi ya?" tanya Grameisya.


"Tidak tahu juga Non, bisa jadi yang menelpon tadi ada hal penting, yang membuat ia harus pergi," ucap Bi Ena.


"Oh, iya mungkin. Ya udah, aku masuk kamar dulu Bi," ucap Grameisya.


"Ya Nona." angguk Bi Ena.


Grameisya pun masuk ke dalam kamar dan ia mengambil ponselnya.


Ia terkejut karena ada ratusan panggilan tak terjawab.


"Gila ini orang, sejak kapan dia menelpon?" tanya Grameisya melihat di ponselnya penuh dengan panggilan tak terjawab dan pesan.


Triring! Triring!


Triring! Triring!


Kali ini Alneozro menelpon lagi dan Grameisya baru mengangkatnya.


"Halo," jawab Grameisya.


"Kamu ke mana aja sih? Kok nggak angkat telpon aku. Aku khawatir sama kamu," ucap Alneozro setengah marah, tapi dengan syarat lembut.


"Aku ketiduran tadi dari siang sampai malam, jadi nggak kedengaran kalau kamu nelpon," jawab Grameisya.


"Untung saja kamu angkat sekarang, kalau seandainya kamu nggak angkat sampai tengah malam nanti, aku sudah menyiapkan pengawalku di sana untuk mencari mu," ucap Alneozro.


"Eh, hm ... tidak perlu sampai segitunya," ucap Grameisya merebahkan tubuhnya di kasur.


"Kamu harus ingat, jemput aku besok, nggak boleh telat," ucap Alneozro.


"Iya ya, bawel!" ucap Grameisya.


Grameisya menemani Alneozro bekerja, yang ia lakukan adalah melihat wajah Alneozro yang sedang mengetik di komputer.


"Tidak bisa kah kau mengarahkan layar ponsel mu di dekat komputer mu agar aku bisa melihat apa yang kau kerjakan?" tanya Grameisya.


...❤️❤️❤️❤️❤️...