
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
"Baiklah kalau begitu," ucap Grameisya.
Grameisya pun mengeluarkan iPad-nya dan Alneozro pun mulai mengajari Grameisya.
Bi Ena membawa minuman dan makanan ringan dan meletakkan di atas meja secara diam karena tidak ingin menganggu Alneozro yang sedang serius menjelaskan.
Dari balik tembok di belakang, terlihat Mia dan Gladis yang sedang kesal dan menyesal.
Andai kejadian waktu itu tidak ada, mungkin mereka sudah bisa ikut gabung bersama untuk belajar.
"Aaaa Aaaa, Tuan Alneozro ku hu-hu-hu, Kau sudah dekat di depan mata, tapi tak bisa ku gapai," ucap Gladis rasanya ingin menangis, begitu juga dengan Mia.
"Ini gara-gara kamu sih, coba aja waktu itu kamu nggak ajak aku pergi menggoda Tuan Alneozro, mungkin kita nggak ngumpet-ngumpet gini buat lihatin dia," ucap Mia kesal.
"Ih! Ngapain nyalahin aku segala. Bukannya kamu juga mau ikut! Heh! Menyebalkan," ucap Gladis tak terima.
"Tapikan tetap aja kamu yang ngajak aku duluan, kalau kamu yang nggak nggak ngajak aku mana mungkin aku mau ikut," ucap Mia.
"Apa kamu bilang! Kamu nyalahin aku terus, kamu sendiri yang kegatalan mau ikut," ucap Gladis geram, ia pun menarik rambut Mia.
Mia juga tak mau kalah dan juga menarik rambut Gladis dan mereka saling tarik menarik hingga akhirnya mereka terguling-guling di lantai.
Alneozro dan Grameisya melihat ke arah Mia dan Gladis yang sedang berkelahi itu.
Grameisya menatapnya sayu. "Mereka ini entah kapan akurnya," ucap Grameisya pelan.
"Mati saja kau!" teriak Gladis.
"Harap maklum ya, di rumah ini ada anak kecil yang suka rebutan mainan," ucap Grameisya.
"Untungnya kau dewasa," jawab Alneozro tersenyum.
"Jadi ... kamu tidak meleraikan mereka?" tanya Alneozro.
"Tidak perlu, biarkan mereka berantam sampai puas. Ada hal yang lebih penting lagi untuk di kerjakan," jawab Grameisya mengangkat bahunya dan tidak peduli.
Mereka pun lanjut belajar.
"Nona, sudah Nona!" teriak para pembantu itu berusaha untuk memisahkan mereka, mereka berdua sangat sulit di pisahkan.
Para supir juha datang membantu dan barulah mereka berdua bisa di pisahkan.
"Lihat saja kau ya! Aku ku balas lebih kejam lagi!" ancam Gladis dengan rambut yang semerautan dan bekas cakar di mukanya.
"Heh! Siapa takut! Kalau berani ayo sini kita berantam lagi!" tantang Mia yang rambutnya seperti kuntilanak beberapa tubuhnya juga tergores dan ada bekas gigitan Gladis.
Gladis berusaha melepaskan diri untuk menerkam Mia lagi tapi mereka tetap di tahan oleh para supir itu.
Grameisya datang mendekat. "Heh! Belum selesai masalah kalian kemaren lagi, kalian buat lagi masalah baru, jangan sampai buat aku mengusir kalian berdua dari rumah ini," ucap Grameisya mengingatkan.
"Eh, ada apa ini?" tanya Mama Gladis keluar dari kamarnya saat mendengar keributan di luar.
Mama Mia juga baru keluar karena ia kemaren habis kesalon, jadi ia tak mau keluar kamar biar tata rambut dan kukunya tidak rusak meskipun tidak ada hubungannya.
"Inikah anak didikan dari anak-anak yang punya ibu itu? Aku yang tidak punya ibu saja tidak pernah melakukan hal yang memalukan seperti yang di lakukan oleh anak yang punya ibu, atau jangan-jangan ibunya yang mengajarkannya seperti ini," tuding Grameisya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
(Kalau suka novelku jangan lupa like komen vote dan hadiahnya ya Gaes, terima kasih 🙏🙏)