TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 107


...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...


...☺️☺️☺️...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


"Ayo kita keluar," ajak Amar.


Dan mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Di luar sangat gelap, tapi suara keras itu masih terdengar.


BAM!


BAM!


"Aaaaaaaaaaaaa!" jerit seorang wanita yang lari ketakutan hingga menabrak Grameisya.


"Hey kenapa?" tanya Grameisya.


"Itu ... Itu di sana," jawab wanita itu menunjuk ke arah tempat ia berlari tadi.


Ia tidak bisa berkata-kata dan terus berlari di dalam kegelapan.


Mereka masing-masing menghidupkan lampu senter ponsel mereka dan berjalan mendekati tempat di mana wanita itu tadi tunjuk.


Trankkkkk!


Terdengar suara pas bunga pecah.


"Ayo kita masuk," ajak Amar.


"Jangan, takut," ucap Jun.


"Heh! Dasar pengecut!" ucap Lio manyun.


Grameisya menendang pintu tersebut dan pintu itu jebol.


Mereka melihat ada seorang pria yang terjatuh bersimbah darah, dan ada beberapa orang pria berjas di dalam ruangan tersebut.


"Sial! Ada yang melihat kita! Bunuh mereka juga!" perintah salah satu pria itu.


"Aaaaaaaaaaaaa tidakkkkkkkk!" teriak Jun yang sudah kabur duluan.


"Lio, periksa dia, aku akan melawan mereka," ucap Grameisya.


"Baik," jawab Lio.


Menyeret pria yang bersimbah darah itu ke sudut ruangan. Lalu memeriksanya.


Sedangkan Grameisya dan Amar menghadapi orang-orang itu.


"Gelap sekali, aku tidak bisa lihat gerakan mereka," ucap Amar.


"Pejamkan matamu dan kau hanya fokus mendengar suara langkah mereka saja," ucap Grameisya.


Amar pun memejamkan matanya, dan mendengar suara angin yang berkibas.


Datang lagi pria yang lain dan ingin menusuk Grameisya dengan senjata tajamnya.


Senjata itu mengenai sedikit lengan Grameisya. Dengan geram, Grameisya meraih tangan pria itu dan langsung mematahkannya.


Krak!


"Aaaaaaaaaaaaa!" teriak pria itu kesakitan.


Suara patahan itu terdengar cukup keras. Setelah mematahkannya Grameisya menendangnya.


"Aduh!" teriak Amar yang perutnya di tendang. Grameisya melompat lalu memukul pria yang memukul Amar tadi hingga pria itu mundur kesamping.


Pria itu berlari ke arah Grameisya dan menyeruduk Grameisya.


Grameisya memeluk punggung pria itu lalu mengangkatnya ke atas lalu melemparnya ke bawah.


Tubuh pria itu tidak seberat angkat bebannya sehingga ia dengan mudah mengangkatnya.


Pria itu terkapar lalu ia pun menginjak kepala pria itu beberapa kali lalu menuju perut pria itu hingga dari mulutnya mengeluarkan darah.


Tempatnya menjadi sepi.


"Sepertinya tidak ada lagi ya?" tanya Amar sambil memegang perutnya yang sakit.


Grameisya melihat sekeliling yang gelap itu, ia tidak ada mendengar pergerakan.


Tiba-tiba saja ada sesuatu yang melintas.


"Awas!" teriak Grameisya menendang Amar kesamping hingga Amar terpental.


"Aduuuuuh!" teriak Amar.


Grameisya menangkap bahu pria yang melintas seperti angin itu lalu berputar dan melemparnya.


Bruk!


Grameisya mendatangi pria itu lalu menghajarnya, ia sama sekali tidak pernah memberi kesempatan lawannya untuk bergerak atau ia sendiri dalam bahaya.


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Bak! Buk!


Seketika wajah pria itu bonyok, giginya pada rontok semua di depan.


"Bagaimana Lio?" tanya Grameisya.


"Sedikit lagi pembuluh darahnya berhasil akan tertutup," ucap Lio yang saat itu sedang menjahit.


Lio sering membawa perlengkapan medisnya, dalam kotak kecil yang bisa ia masukan ke dalam saku, ia adalah orang yang teliti sehingga ia tidak pernah lupa membawa P3K itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️...