
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
"Defli! Kenapa kau lakukan ini? Sungguh sia-sia aku menyelamatkan kamu dulu!" teriak Grameisya.
"Apa yang terjadi?" tanya Deon saat melihat Grameisya yang berlutut di samping ranjang Defli.
Grameisya tidak menjawabnya dan Deon memeriksanya sendiri.
"Defli! Defli!" teriak Deon menggoyang tubuh Defli.
"Jangan kamu panggil lagi, dia sudah tidak ada," ucap Grameisya menyeka air matanya dan ia berdiri.
"Apa!!!" mereka semuanya terbelalak.
"Tidak! Tidak mungkin!" teriak mereka yang langsung bersamaan menghampiri Defli.
"Defli! Ayo bangun Defli!" teriak mereka sambil menangis.
"Defli! Ayo bangun!" teriak mereka yang bersimbah air mata.
"Tapi kenapa dia sampai seperti ini? Apa yang terjadi?" tanya mereka sambil terisak.
"Ini kalian baca," ucap Grameisya memberikan selembar kertas kepada mereka bertiga.
Deon dengan cepat mengambilnya dan membacanya.
"Setelah kalian membaca surat ini, berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi. Aku pergi membawa perasaan luka dan sedih yang bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Dengan aku pergi aku tidak perlu merasakan sakit hati, dunia bukan tempatku lagi. Semoga dengan kepergian ku ini Papaku sadar dengan apa yang telah ia perbuat. Dan untuk Grameisya, aku mencintaimu. Aku sadar setelah kau tidak mengejar ku lagi. Semoga kau bahagia dengan Tuan Alneozro. Selamat tinggal semuanya. Aku pergi dan kita tidak akan pernah bertemu lagi, hiduplah dengan bahagia."
"Defliiiiiiiiiiiiiiiiiii!" teriak mereka bersamaan dan memeluk tubuh Defli yang terbujur kaku.
"Kenapa kau lakukan ini! Meskipun kami terlihat tidak peduli dengan mu tapi sangat menyayangi mu!" ucap mereka bersimbah air mata.
Para pelayan dan para supir pun menuju kamar Defli karena mendengar suara tangisan mereka bertiga.
"Kenapa? Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Dodo.
"Papa, Defli meninggal!" ucap Mia memeluk Papanya sambil menangis terisak-isak.
"Apa? Kenapa bisa jadi seperti ini?" tanya Dodo terbelalak.
"Dia bunuh diri Om," jawab Deon tersedu-sedu.
"Ya ampun Nak. Apa yang telah kau perbuat!" ucap Deval memegang tangan Defli shock.
Grameisya hanya diam mematung di sudut ruangan sambil menatap Defli.
Mereka semua menangis, sungguh miris. Defli yang kehilangan kedua orang tuanya, karena tidak sanggup menahan sakit hati ia malah menghilangkan nyawanya.
"Ya sudah, ayo bawa tubuhnya keluar," ucap Deval menyeka air matanya.
Dodo, Hino, Deval dan Deon membantu mengangkat tubuh Defli keluar dari kamarnya.
"Kalian bereskan kamarnya," ucap Deval.
Beberapa supir datang membawa kasur untuk meletakan tubuh Defli.
Di rumah itu rasanya sangat sendu, sepi karena mereka tidak ada yang ingin di katakan. Hanya perasaan duka dan air mata.
Meskipun rumah itu ramai, tapi kini tampak sepi.
Mereka pun meletakan tubuh Defli di atas kasur. Gladis dan Mia saling berpelukan dan mereka menangis sesenggukan.
Deval duduk di samping kasur menatap Defli.
'Nak. Kau ingin mengatakan jika kau ingin menjenguk Papamu, tapi di saat terakhir mu pun kau tidak melihatnya, setidaknya jika kau ingin pergi jenguk lah dulu orang tua mu,' batin Deval menundukkan kepalanya merasa sedih yang paling mendalam.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...