
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
"Kurang ajar! Apa kamu bilang!" ucap Mam Gladis geram dan ingin menampar Grameisya.
"Ehem!" Alneozro pura-pura batuk.
Mendengar ada suara yang ia kenal, Mama Gladis tidak jadi memukul Grameisya.
"Eh ada Tuan Alneozro," ucap Mama Gladis tersenyum dan ia datang mendekati Alneozro.
"Wah, senang sekali Anda datang ke rumah ini, Anda ingin makan apa? Biar saya buatkan," ucap Mama Gladis dengan senyum mengembang.
Alneozro mengangkat tangannya menandakan jika ia tidak mau.
"Eh, hm ... Tuan, tolong saya donk Tuan, saya di kejar-kejar terus sama wartawan akibat ulah anak saya, bolehkan Tuan bilang sama wartawan agar tidak mengejar saya lagi dan juga tolong bantu perusahaan suami saya Ya Tuan, biar makin berkembang," pinta Mama Gladis.
Grameisya datang lalu meraih tangan Alneozro.
"Ayo pindah ke kamarku saja," ajak Grameisya melihat mama Gladis sayu.
"Iya." angguk Alneozro senang.
"Di sini banyak orang gila, lama-lama kita juga ikutan gila," ucap Grameisya menuntun tangan Alneozro masuk ke dalam kamarnya.
"Bibi, bawakan makanannya ke dalam kamarku ya," pinta Grameisya.
"Iya Nona," jawab Bi Ena.
"Cih! Sial! Nggak tahu dia menggunakan apa hingga Tuan Alneozro bisa menurut begitu dengannya? Dia pasti gunakan segala cara untuk dapatin Tuan Alneozro," ucap Mama Gladis manyun sambil melipatkan tangannya.
"Dasar tidak tahu malu! Kau yang seperti itu membuat Tuan Alneozro menjijikan tau, nggak anak, nggak ibunya, sama aja memalukan," ucap mama Mia sewot.
"Hey! Kau jangan mengatai ku! Kau sadar nggak dengan apa yang di perbuatan oleh anakmu!" teriak Mama Gladis.
"Tapi setidaknya aku tidak sememalukan dirimu, ayo Mia bersihkan dirimu, kamu harus di salon," ucap mamanya.
"Dih! Kau ingin keluar? Tunggu saja kau di kerumuni oleh para wartawan," ucap mama Gladis manyun.
"Heh! Aku tidak seperti kau yang bodoh itu! Aku akan panggilan salon langgananku," jawab mama Mia mengejek.
"Cih! Benar-benar menyebalkan!" denggus mama Gladis sebal.
Ia pun berjalan menuju kamarnya. "Kamu sana masuk kamar, udah semerautan seperti itu. Kayak orang gila," ucap mama Gladis kepada anaknya.
Gladis manyun dan meninggalkan tempat tersebut.
Saat Alneozro menjelaskan, sesekali Grameisya melihat ke arah wajah Alneozro.
'Dia sangat manis bila serius,' batin Grameisya.
"Kamu ...."
Plak!
"Auuuuuuu." Alneozro memegang pipinya yang lumayan pedar itu.
"Ada nyamuk," ucap Grameisya cepat.
'Sial! Untung saja dia tidak terlalu memperhatikan jika dari tadi aku melihatnya,' batin Grameisya dengan wajah memerah, ia menyembunyikan wajahnya dengan melihat kesamping.
"Hm aku ambilkan batu es dulu ya untuk kompres pipi kamu," ucap Grameisya berdiri.
"Tidak usah. Sini tangan kamu," pinta Alneozro.
'Jangan-jangan dia mau pukul tangan ku untuk balas dendam,' batin Grameisya dengan perlahan-lahan mengulurkan tangannya.
Alneozro meraih tangan Grameisya lalu meletakan di pipinya.
"Ini lebih nyaman dari es batu," ucap Alneozro memandang ke arah Grameisya sambil tersenyum senang.
'Sial! Aku kalah,' batin Grameisya menepuk keningnya.
5 menit kemudian.
'Hm ... perlu selama ini kah?' batin Grameisya.
1 jam kemudian.
"Hey! Mau berapaan lama?" tanya Grameisya.
"Sebentar lagi," jawab Alneozro.
3 jam kemudian.
"Sudah ah, ini mah udah kelamaan," ucap Grameisya menarik tangannya lagi.
"Udah malam, kamu pulang gih," ucap Grameisya.
"Belum malam kok, masih ada cahayanya. Aku pulang dulu ya, dada bintangku," ucap Alneozro tersenyum dan ia pun keluar dari kamar Grameisya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
[Jangan lupa like, Vote, komen dan hadiah ya. Terima kasih 🥰🥰]