
...☘️☘️☘️ Happy reading ☘️☘️☘️...
...☺️☺️☺️☺️☺️...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Grameisya mendekati Yessy yang sudah tak bernyawa itu. Ia mengangkat tubuh itu menuju mobil Pak Ahmad.
"Lho Nona," ucap Pak Ahmad terkejut karena Grameisya membawa Yessy yang tubuhnya berdarah.
"Pak, buka pintunya," pinta Grameisya.
"Iya iya," ucap Pak Ahmad cepat dan ia pun membuka pintu untuk Grameisya.
Grameisya masuk ke dalam mobil dan memangku Yessy.
"Kita ke mana Nona? Ke rumah sakit?" tanya Pak Ahmad panik.
"Langsung pulang ke rumah saja," jawab Grameisya.
"Eh." Pak Ahmad terkejut, tapi ia tidak banyak bertanya lagi. Ia pun melajukan mobilnya menuju ke rumah.
Di perjalanan, mereka diam saja. Pak Ahmad juga nggak berani untuk bertanya karena Grameisya hanya menatap Yessy.
☘️☘️☘️☘️☘️
Akhirnya sampai mereka di rumah.
Grameisya membopong Yessy masuk ke dalam rumah.
"Eh, siapa yang kau bawa itu?" tanya Deon. Grameisya tidak menjawabnya.
"Pak Ahmad, ambilkan kasur," pinta Grameisya.
"Iya, sebentar Nona," ucap pak Ahmad berlari ke sebuah kamar dan ia mengambil kasur tersebut lalu membawanya keluar.
Grameisya meletakkan Yessy di atas kasur tersebut.
"Yessy, kenapa dengan Yessy?" tanya Deon terbelalak perlahan-lahan mendekati Yessy.
"Dia di tembak pria tua," jawab Grameisya yang terus menatap Yessy.
"Tapi ... kenapa? Apa salah dia?" tanya Deon.
"Heru menjualnya kepada pria tua itu. jangan diam saja, panggilkan bibi yang lain untuk membantu membersihkan dia," ucap Grameisya berbalik badan dan menuju kamarnya.
Ia mengambil handuk dan segera mandi untuk membersihkan dirinya dari darah Yessy.
Ia melihat Yessy yang terbaring di kasur di tengah-tengah rumah tersebut.
"Yessy," ucapnya datang mendekat dan ia binggung dengan keadaan tersebut.
"Yessy kenapa Deon?" tanya Gladis.
"Dia di tembak seseorang," jawab Deon pelan.
"Jadi ... bagaimana dia bisa di sini?" tanya Gladis.
"Grameisya yang membawanya pulang," jawab Deon.
Gladis terdiam.
Satu persatu keluarga yang mereka kenal meninggal mereka dengan berbagai bentuknya.
Andes meninggal karena serangan jantung, Defli meninggal karena bunuh diri, dan sekarang Yessy meninggal karena di tembak. Entah esok giliran siapa lagi.
Belum lagi bermacam-macam masalah muncul karena keserakahan keluarga itu, kehidupan keluarga ini benar-benar kacau.
"Kenapa jadi seperti ini ya?" tanya Gladis memegang kepalanya dan ia terduduk di sofa. Rasanya sangat sulit menjatuhkan air mata, tapi malah terasa sesak di dada.
Setelah mandi, Grameisya menelpon Deval.
Tuuut! Tuuut!
Tuuut! Tuuut!
"Halo Grameisya," jawab Deval.
"Papa sudah selesai kerjanya?" tanya Grameisya.
"Sepetinya sedikit agak sulit ini, Papa nggak tau kenapa nilai saham Papa kok berkurang ya? Apa yang salah ya?" tanya Deval binggung.
"Papa pulang saja dulu, Papa butuh istirahat kan, nanti kalau di pikirkan malah tambah pusing," ucap Grameisya.
"Iya, kamu benar, Papa pulang sekarang untuk bersantai sejenak sambil berpikir apa yang harus Papa kerjakan," ucap Deval.
"Entahlah, mungkin Papa tidak bisa bersantai, tapi aku akan bantu pikirkan caranya agar angka pasaran saham Papa naik lagi," ucap Grameisya.
"Ah, kau memang anak yang baik, ya udah Papa pulang dulu," ucap Deval tersenyum, ia pun memutuskan panggilannya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
[Jangan lupa like, vote, komen, iklan dan hadiah ya terima kasih]