TRANSMIGRASI GRAMEISYA

TRANSMIGRASI GRAMEISYA
BAB 41


Grameisya menyelipkan di bawah lemarinya untuk sementara waktu menjelang ia ketemu tempat yang bagus.


Grameisya pun merebahkan tubuhnya di kasur, seharian ia tidak istirahat dan hanya tidur sebentar, tubuhnya masih pegal-pegal.


🌧️🌧️🌧️


Ke esokkan harinya.


Di bawah tampak sibuk.


"Kemana akan kita cari Tuan!" terdengar suara pak Ahmad yang panik.


"Ya ampun Nona, kemana kamu hilang," ucap Bi Ena menutup mulutnya karena sedih.


"Aku akan mencari di tempat biasa dia pergi, kalian cari di sekolah," ucap Deval.


"Baik Tuan." angguk Pak Ahmad dan Bi Ena.


"Hey! Kalian ingin mencari Grameisya? Anak payah itu biarkan saja hilang, di rumah juga menyusahkan," ucap Mila bercekak pinggang merasa senang saat mendengar Grameisya hilang.


"Kakak, jangan bicara seperti itu! Anakku hilang entah kemana, saat ini dia sangat butuh pertolongan! Kalian bukannya membantu, tapi malah senang jika anakku hilang, bagaimana jika anak kalian yang hilang!" terlihat mata Deval berkaca-kaca.


"Anakku tentu saja sangat berharga, tapi anakmu yang tidak berguna itu? Dia tidak ada sungguh membuat kedamaian di rumah ini," ucap Mila tersenyum sinis sambil melipat tangannya.


"Benarkah? Kalau aku tidak ada rumah ini akan damai? Kenapa tidak kamu saja yang pergi agar orang yang ada di dalam rumah ini damai?" tanya Grameisya yang tiba-tiba saja turun dari anak tangga.


"Nona!" teriak Bi Ena yang langsung berlari ke arah Grameisya dan memeluknya.


"Cih! Untuk apa kamu pulang? Kenapa nggak hilang di makan hewan buas saja?" tanya Mila sewot.


"Hewan buas tidak suka makan orang sepetiku, yang dia suka itu sepertimu, mulut besar dan cerewet. Toh lagian kamu tidak perlu di makan hewan buas, karena sebentar lagi kamu juga mati nenek peot, kau itu terlihat muda karena tertutupi oleh bedak tebal saja, aslinya kamu jauh lebih keriput dari Bi Ena," ucap Grameisya tanpa merasa bersalah.


"Kamu ... Kamu ... Deval! Anak kamu ini tidak tahu sopan santun kepada orang yang lebih tua ya! Kamu tidak mengajarinya dengan baik sehingga dia menjadi kurang ajar!" teriak Mila murka.


"Hey Nenek peot, tidak perlu kau memarahi Papa ku, urus saja kulit mu yang keriput itu, urusi selingkuhan suami mu itu. Nanti kah di tinggal sama suamimu karena kau tidak cantik lagi," ucap Grameisya tertawa.


"Ikhhhhh! Anak ayah sama saja! Tidak punya etika!" denggus Mila kesal dan ia berbalik badan pergi ke dalam kamarnya sambil memeriksa wajahnya di cermin.


"Ikh! Gara-gara mereka riasan ku luntur!" denggus Mila dengan wajah manyun.


"Grameisya, kamu ke mana aja kemaren, Papa khawatir," ucap Deval.


"Oh, itu aku mendadak aja di bawa teman main ke rumah dia, maaf ya Pa aku nggak bilang-bilang dulu, lain kali kalau pergi-pergi aku akan ngomong sama Papa," ucap Grameisya.


"Untungnya kamu nggak kenapa-kenapa, ya udah Papa mau berangkat kerja lagi, kamu pergilah sekolah," ucap Deval.


"Iya Pa, hati-hati di jalan ya," ucap Grameisya melambaikan tangannya.


"Oh ya, Nona siap-siap sana, Bibi akan siapkan sarapan untuk Nona. Nona jangan menghilang lagi ya," ucap Bibi terlihat sedih.


"Maaf membuat kalian semua repot," ucap Grameisya tersenyum.