
Ya, itu adalah foto ketua agen dan foto kakeknya.
Awal cerita, mereka dulunya adalah bersahabat dan pada akhirnya mereka membentuk sebuah organisasi.
Sayangnya ketua agen rahasia ingin dirinya yang memimpin dan mengambil akses organisasi tersebut dan membentuk organisasi itu menjadi agen rahasia.
Keluarga Edult di bantai hingga tak tersisa, Grameisya selamat karena saat malam itu ia tidak ada di tempat.
Ia tidak tahu sama sekali jika keluarganya di bantai oleh ketua agen rahasia hingga akhirnya ia masuk menjadi agen rahasia demi mengungkapkan pembantaian keluarganya itu.
Bukannya rahasia yang ia dapatkan, ia di jadikan boneka di agen itu hingga akhirnya ketua agen tahu jika Melisa adalah keluarga Edult dan pada akhirnya ia di bunuh.
Grameisya mengengam erat tangannya, air matanya jatuh begitu saja di atas foto itu. Inilah baru terungkap jika keluarganya di bantai oleh ketua agen di mana tempat ia bernaung dulu.
"Kalian ... kalian benar-benar keterlaluan!" teriak Grameisya pecah.
Air matanya jatuh begitu saja, penyesalan yang mendalam yang ia rasakan saat ini.
"Kau Koller, aku tidak akan memaafkan mu! Tidak akan pernah! Aku pasti membunuhmu! Aku akan membunuhmu! Akan ku hancurkan kau!" teriak Grameisya.
Saat ini jet terus melaju di udara, Grameisya menyimpan berkas itu kembali dan menyeka air matanya.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur kabin hingga ia tertidur pulas.
Tok! Tok!
Tok! Tok!
"Keluarlah, kita makan dulu," ajak Alneozro.
[Tidak ada jawaban]
Tak sengaja Alneozro mendorong pintu kabin itu dan pintunya terbuka.
Ia melihat Grameisya yang sudah tertidur.
Alneozro berdiri di depan Grameisya dan menatap wajahnya sambil tersenyum dan mengusap ubun-ubunnya.
"Aku tidak menyangka kalau kita yang baru bertemu malah sudah menjadi rekan perjalanan. Kau benar-benar wanita kuat yang pernah aku temui," ucap Alneozro. Ia mengambil selimut lalu menyelimuti Grameisya.
🥘🥘🥘
Saat terbangun, Grameisya melihat wajah pria tampan yang sedang tertidur di kursi dengan tangan di keningnya.
Grameisya membuka selimutnya dan ia berdiri di dekat jendela. Ternyata saat itu sudah sore dan jet masih di atas awan.
Grameisya mendekati pria itu, niat hati ingin menyelimutinya, tapi tangannya mendadak di genggam erat oleh Alneozro.
Grameisya terkejut.
"Kamu mau apa?" tanya Alneozro tersenyum.
"Eh, kau sudah bangun rupanya," ucap Grameisya melepaskan tangannya akan tetapi Alneozro menggenggamnya erat.
"Hey! Lepaskan!" seru Grameisya.
Alneozro menatap bola Grameisya dan Grameisya menatapnya balik.
"Mata mu indah sekali, sepeti pertama zambrut," puji Alneozro.
"Hentikan gombalan mu. Kapan kita akan sampai?" tanya Grameisya membuang wajahnya ke samping.
"Mungkin sebentar lagi. Ya sudah ayo kita pergi makan," ajak Alneozro melepaskan tangan Grameisya.
Mereka pun keluar dari kabin dan menuju kursi yang saling berhadapan.
"Tuan apa ingin makan sekarang?" tanya koki jet milik Alneozro.
"Iya." angguk Alneozro.
"Sebentar, saya panaskan dulu," ucap koki itu kembali menuju dapur.
"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang," ucap Alneozro.
"Tidak usah," tolak Grameisya.
"Kenapa?"
"Ah tidak usah pokoknya," tolak Grameisya.
"Silakan Tuan Nona makanannya," ucap koki itu menyajikan makanan di atas meja. Serta meletakan minuman dan makanan penutup.
Seharian tidak makan membuat perut Grameisya merasa pedih, ia pun melahap makanannya.