
Pagi hari ... semua gadis sudah terbangun dan berpakaian rapih, terkecuali FuWei yang masih asik tidur dengan mulut terbuka.
MeiZee yang sudah berbaris rapih langsung menepuk jidatnya saat sang sahabat belum kunjung bangun. MeiZee langsung berlari masuk membangunkan FuWei.
''Fu, bangun! Sebentar lagi Kasim Rui dan Penasehat Kerajaan akan datang!''
''Hemm...''
''Bangun Fu!''
''Ishh ... kau itu berisik sekali! Aku masih ngantuk, lagian masih pagi juga yopet di pasar.'' Gumam FuWei tanpa sadar.
MeiZee mengerutkan keningnya mendengar FuWei bergumam. ''Yopet apa! Kau itu bicara apa?'' MeiZee menggoyangkan badan FuWei, namun tak ada respon bahwa FuWei akan bangun.
MeiZee pun memikirkan cara bagaimana sahabatnya ini bisa bangun dengan cepat. Dia ambilnya cangkir minum lalu dengan perlahan MeiZee menuangkan air minum itu ke dalam mulut FuWei yang terbuka lebar. Tapi nyatanya air itu malah FuWei teguk hingga habis tak tersisa.
''Ish ... susah sekali bangunin ini gadis!" Gerutu MeiZee.
Tak kehabisan akal, MeiZee pun mendekat di telinga FuWei dan ingin berteriak mengambil ancang-ancang lalu ...
''Ada perampok ... perampok ...'' Teriak MeiZee begitu kencang.
''Hah! mana perampoknya, mana?"
Bugh!
MeiZee terjungkal kebelakang, karna tonjokan yang di berikan FuWei saat bangun.
''Auch! dasar Gadis nakal, main pukul aja ... lihat-lihat dong!" kesal MeiZee yang terkena bogem mentah di keningnya.
FuWei yang sudah tersadar, ia langsung tertawa kencang. ''Haa ha ha ha ... lagian kamu ngapain bangunin aku pake teriak teriak segala.''
MeiZee bangun dan mengelus jidatnya yang lumayan sakit. ''Uh ... kalau bukan sahabat udah aku telen kamu! Cepat mandi sana, ini udah siang ... kita bisa kena hukum Tuan Penasehat kalau dia tau kita masih ada di sini.'' kesal MeiZee.
''Sedang apa kalian?''
MeiZee dan FuWei langsung berdiri tegak saat Kasim Rui ada di depan pintu. Menunduk saat Kasim Rui menatap dengan tajam ke arah mereka.
"Ini semua gara-gara kamu!"
"Kok, aku. Memangnya aku menyuruh mu untuk membangunkan aku? tidak 'kan."
"Ishh ... dasar sahabat durhaka."
"Mana ada seperti itu*!"
''BERHENTI BERGUMAM DAN BERGERAK!'' Bentak Kasim Rui, membuat MeiZee dan FuWei langsung berlari lakang kabut.
''Huh! Dasar gadis gadis nakal.'' Kasim Rui mengibas hanfunya karna kesal. Lalu menyusul mereka dari arah belakang.
¤
¤
¤
¤
¤
Danau Moo.
Semua gadis di bawa ke Danau yang luas tanpa dasar, semua orang nampak bingung.
''Tuan, mengapa menyuruh kami ke sini?'' Tanya Nona Sin, yang sama penasaran nya.
Tidak banyak bicara, kini salah satu pengawal kerajaan maju dan menaburkan serbuk kedalam Danau.
SRAAKK.
...SRAAAKK....
''Mei, apa yang akan mereka lakukan?'' bisik FuWei.
''Mana aku tau.'' Balas MeiZee, yang masih kesal karna keningnya benjol.
''Ish ... kau masih marah? Aku tidak sengaja.''
''Tidak marah, hanya kesal.''
FuWei mengerucutkan bibirnya.
''Babak ke dua, kalian harus mendapatkan ikan sebanyak yang kalian bisa di sungai ini.''
Bagaimana tidak! Semua ikan yang muncul berukuran besar, bahkan lebih besar dari pada tubuh mereka sendiri.
''Tuan penasihat! Apa ini.''
Penasehat kerajaan tersenyum, lalu menyuruh beberapa pengawal untuk maju dan memberikan kail untuk memancing pada para Gadis.
''Ini alat untuk kalian memancing, pancinglah sebanyak yang kalian bisa. Jika dari kalian mendapatkan ikan lebih banyak, maka kalian berhak maju ke sesi terakhir. '' Ucap Penasehat itu lalu pergi.
Sedangkan FuWei menatap tajam Penasehat dan Kasim Rui yang diam di belakang. "Rencana apa lagi yang mereka buat, apa mereka tidak merasa bersalah karna saimbara ini begitu banyak memakan nyawa." Ucap FuWei dalam hati.
Terlihat seorang gadis begitu bersemangat, dan melemparkan kailnya, namun baru saja kail itu masuk kedalam air ... ikan itu langsung memakan umpan dan menyeret gadis itu karna tidak bisa menahannya.
''Seseorang, tolong.'' Teriak gadis itu, membuat semua gadis panik dan langsung menolong.
Namun nyatanya ... mereka semua terkena seret dan masuk kedalam air, sehingga adegan yang mereka lihat begitu mengerikan. Bagaimana tidak! Semua gadis itu menjerit kesakitan karna kulit dan daging mereka secara berkala di makan oleh ikan ikan ganas itu. Membuat FuWei menelan ludahnya susah payah.
"Untung aku tidak menolongnya." Gumam FuWei dalam hati.
''Fu, bagaimana ini.'' MeiZee ketakutan.
''Iti bukan ikan, itu monster! Bagaimana monster mengerikan itu bisa di biarkan di Danau terbuka? Bagaimana jika ada anak kecil.'' Ucap FuWei dengan geram.
''Fu, apa jangan-jangan serbuk yang tadi di tabur yang membuat ikan ini berubah menjadi monster?''
''Bisa jadi.''
Danau yang awalnya tenang dan bersih, kini menjadi Danau kotor penuh darah. Membuat siapapun takut untuk menyentuh kailnya, apa lagi menangkap ikan itu.
Di saat semua gadis takut, FuWei maju kedepan dan melemparkan kailnya. Ia sangat penasaran sekuat apa ikan ikan itu.
''Fu, apa kau yakin?'' Tanya MeiZee dari belakang.
''Kita tidak akan tau, kalau tidak mencobanya lagi.''
"Aku terpaksa harus mencoba, di bandingkan nyawa semua gadis yang tersisa harus melayang dengan sia sia."
Baru saja FuWei melemparkan umpan, ikan ikan itu sudah berebut. Membuat FuWei panik dan langsung menarik kailnya sekuat tenaga.
''Aarrrhhh ... aku lebih kuat di bandingkan dengan kalian!'' Teriak FuWei, namun kakinya sudah tidak bisa menahan kuatnya ikan.
Nona Sin dan Mingyu tersenyum di belakang sana, tanpa mau menolong. Sedangkan MeiZee langsung berlari untuk membantu FuWei.
''Tarik ...'' MeiZee berteriak.
''Ahhkk ... ini sangat kuat!''
''Ayo, kita pasti bisa.''
Kedua sahabat itu saling menarik, namun tubuh mereka tidak sekuat ikan ikan itu, sehingga kaki FuWei sudah berada di dekat air. FuWei langsung mendorong MeiZee untuk menjauh dari air, sedangkan dirinya masuk kedalam air.
BYUUURRR.
FuWei masuk kedalam air, membuat MeiZee langsung berteriak dan menangis histeris. Kasim Rui memejamkan kedua matanya. Sedangkan Kaisar Feng JianYu menggigit bibir bawahnya.
Ia tidak menyangka jika FuWei, gadis yang sangat menarik di matanya bisa seceroboh itu. Membuat Kaisar Feng JianYu sedikit menyesal karna membuat saimbara sekonyol ini.
''Kasim Rui.''
''Hamba YangMulia.''
''Pulangkan semua gadis yang tersisa, aku tidak ingin memiliki selir.''
''YangMulia.''
''Turuti saja.'' Ujar Kaisar Feng JianYu, yang ingin berdiri dari singhsana nya. Namun ia mendengar ke gaduhan di bawah sana hingga pandangannya melihat Danau.
Di mana FuWei muncul sambil menggendong salah satu ikan itu di punggungnya.
Kaisar Feng JianYu terkekeh tidak percaya, begitu pun Kasim Rui dan semua orang. Jika FuWei bisa selamat dari ikan pemangsa. Namun bagi Tuan Penasehat itu adalah cara untuk menangkap ikan pemanasan itu, dengan masuk kedalam air. Karna jika menggunakan kail, semakin kuat menarik ikan itu, semakin kuat tarikan ikan itu hingga akan memangsa sang pemancing.
Bahkan dengan ajaibnya ikan ikan yang semula besar kini mengecil kembali ke bentuk semua.
''Kasim, biarkan dia masuk kedalam istana untuk menjadi selirku.''
''Baik, YangMulia.''
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...