
''Putri Mingyu.'' Sang pelayan memanggil nama Junjungannya yang sedang melamun.
''Su, apa aku salah memendam rasa padanya yang dalam?''
Dayang Su hanya diam.
''Sejak kecil aku mencintainya dalam diam, menunggu dirinya datang menemuiku dan mengatakan apa yang dulu dia katakan sewaktu kecil. Tapi nyatanya ... dia menemuiku dan mengajak wanita yang dia cintai, membanggakan wanita itu di depanku.''
''Hatiku sakit.'' Putri Mingyu memegang dadanya.
''Putri, anda masih memiliki celah untuk merebutnya.''
Putri Mingyu tersenyum getir, memandang bulan yang memerangi kegelapan malam.
''Tidak, Su ... aku tidak ingin merusak kebahagiaan nya. Cukup dengan melihatnya bahagia, maka aku pun bahagia.'' Ucap Putri Mingyu, melepaskan semua perasaannya mulai malam ini ... karna berharap pun sepertinya percuma, karna dari perkataan Kaisar Feng yang tegas membuatnya sadar jika dia tidak bisa memiliki sahabat kecilnya sampai kapan pun.
•
...•...
^^^•^^^
Ke esokan pagi...
FuWei membuka kedua matanya. Orang pertama yang dia lihat adalah Kaisar Feng yang sudah bangun terlebih dahulu dan sedang memandanginya.
''Kau sudah bangun, suamiku?'' FuWei merasa gerogi di pandangi dengan dalam.
Kaisar Feng mengangguk dan tersenyum.
''Uhuk ... Uhuk ...'' Kaisar Feng pura-pura batuk.
''Ada apa dengan suara mu, YangMulia ... apa kau sakit?'' FuWei memegang kening Kaisar Feng.
''Aku baik-baik saja, hanya saja aku menjagamu sepanjang malam, takut jika ada nyamuk menganggu tidurmu.'' Kaisar Feng membuat alasan agar dirinya tidak di hukum oleh selir kesayangannya, karna hanya dengan cara seperti ini dia bebas terkena hukuman.
''Apa perlu aku panggilkan tabib?''
''Tidak perlu istriku, berada di dekat mu adalah obat paling mujarab. Bersiaplah karna kita akan pulang ke istana, tidak baik terlalu lama meninggalkan istana.''
FuWei mengangguk. ''Baiklah.''
Keduanya pun bersiap siap, dan menyuruh semua rombongannya untuk mempersiapkan kepulangannya.
Beberapa menit kemudian, Kaisar Feng dan FuWei berpamitan untuk pulang.
FuWei masuk terlebih dahulu kedalam kereta kuda, dan di susul oleh Kaisar Feng.
''Apa YangMulia sudah sembuh?''
FuWei mencibikkan bibirnya. ''Apa YangMulia sedang membuat alasan?''
''Ti-tidak! Aku benar-benar sakit ...''
''Walau YangMulia sedang sakit, tapi hukuman tetap berjalan.''
Kaisar Feng menghembuskan nafasnya dengan lesu, ''Baiklah ... hukuman apa yang akan aku dapatkan?''
FuWei tersenyum jahat, yang mana kedua tanduk di kepalanya muncul secara tiba-tiba ... Membuat Kaisar Feng merinding seketika dan kedinginan.
''Sepertinya musim dingin akan segera tiba.''
•
•
''Sayang ... apa ini sudah cukup?''
''Lebih tinggi! Itu, aku ingin buah apel itu.''
''Tapi ini rantingnya kecil, sayang.''
''Pokonya aku ingin itu! Dan anakmu juga menginginkan nya.'' kekeh FuWei.
Kaisar Feng memanjat lebih tinggi, tangan dan kakinya bergetar ... entahlah, semenjak istrinya hamil dia takut ketinggian dan tidak berani memanjat pohon lebih tinggi lagi.
'Tidak, aku seorang Kaisar! Aku tidak boleh takut dan jangan melihat ke bawah. Tapi kenapa mentalku jadi lemah semenjak selirku hamil, apa jangan-jangan semua kekuatan ku di serap oleh anakku.'
Kaisar Feng menggerutu dalam hati sambil memanjat pohon, hingga ia menginjak ranting dan ranting itu patah.
''Tidak!''
''Ahhh ...''
BUGH!
''YangMulia!'' Semua orang berteriak dan menghampiri Kaisar Feng secara bersamaan, sedangkan FuWei menyunggingkan bibirnya dengan puas.
'Rasakan! Itu hukuman mu karna berani macam-macam.'
''Aii ... pinggangku.''
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...