
TAP.
... TAP. ...
TAP.
Sekumpulan orang utusan IbuSuri datang ke kediaman FuWei, dengan dagu terangkat.
Dayang JungBee yang melihat kasim setia IbuSuri datang membuatnya menggigit bibir bawahnya. Ia tau jika Junjungan nya tengah bersiap karna YangMulia Kaisar baru saja pergi dengan Jenderal dan Kasim Rui.
''Titah dari IbuSuri, untuk memanggil Fínfēi FuWei ke kediaman nya saat ini juga.'' Teriak Kasim setia IbuSuri.
Dayang JungBee menunduk. ''Tuan, Fínfēi belum bersiap karna YangMulia Kaisar baru saja pergi dari kediaman ini.''
Kasim Nan menoleh kebelakang di mana ada beberapa pelayan setia IbuSuri. ''Tangkap Dayang rendahan ini, dan kalian masuk untuk membantu Fínfēi berpakaian.'' Teriak Kasim Nan.
''Tidak, Tuan saya mohon. Sebentar lagi Fínfēi pasti keluar.'' Dayang JungBee menghalangi semua orang untuk masuk, karna ini adalah perintah dari FuWei sendiri jika dia akan mempersiapkan dirinya sendiri dan tidak perlu bantuan orang lain.
PLAAAK!
''Dasar tidak tau diri! Lancang sekali Dayang seperti mu menghentikan utusan IbuSuri.''
Beberapa orang memegang Dayang JungBee dan membuatnya berlutut.
''Ada apa ini? Mengapa membuat keributan di kediaman ku.'' Ucap FuWei, tepat di depan pintu dengan tampilan yang sangat memukau dan anggun.
Semua orang memberi salam, namun FuWei tidak memperdulikan. Ia melangkah dan menarik dayang nya untuk berdiri.
''Kau baik-baik saja, dayang JungBee?''
''Hamba baik-baik saja, Fínfēi.'' Jawab dayang JungBee menunduk.
Kini FuWei melirik Kasim Nan dan melangkah ke arah nya. ''Kau utusan IbuSuri?''
''Benar, Fínfēi.'' jawabnya menunduk.
PLAAAKK!
Semua orang terkejut.
''Hah, ya ampun! Apa aku terlalu kencang? Aku tadi mencoba untuk menyingkirkan nyamuk yang ada di pipi mu, Kasim.'' Ucap FuWei dengan polos, seakan dia tidak melakukan kesalahan apapun.
FuWei menepuk angin lagi, seakan benar ada nyamuk yang berkeliaran.
Plak!
''Lihat, nyamuk nya banyak sekali.'' Ucap FuWei berpura-pura, namun dalam hati ia senang karna sudah memberikan sedikit pelajaran pada bawahan yang sombong seperti Kasim Nan.
Kasim Nan memegangi pipinya yang perih, ia tidak menyangka jika tamparan di pipinya begitu menyakitkan.
"Apa ini sebuah tamparan, atau tonjokan? Ini ... ini sangat menyakitkan."
...¤¤¤¤¤...
''Selir FuWei telah datang.'' Teriak Kasim memberitahu IbuSuri dan Nona SuLien.
''Dimana YangMulia? Bukan'kah aku memanggil kalian berdua.'' tanya IbuSuri.
Sementara pelayan menyajikan teh untuk FuWei.
FuWei tersenyum, ''IbuSuri, YangMulia berpamitan padaku jika dia ada urusan dengan Jenderal.''
''Cih, berpamitan. Kau sudah besar kepala dan merasa jika kau begitu berharga untuk YangMulia, anakku.'' IbuSuri mencemo’oh dan meremehkan FuWei, namun FuWei bersikap tenang dan tidak terlalu terganggu dengan hal itu.
''Kau tau posisimu bukan?''
FuWei mengangguk.
''Ini adalah Nona SuLien, yang akan menjadi Permaisuri di masa depan. Aku harap kau tidak besar kepala dan menginginkan posisi Permaisuri karna Kau dari kalangan rendahan.''
FuWei melirik Nona SuLien yang sedang mengangkat dagunya, menatap Fuwei dengan tatapan remeh. FuWei yang melihat itu terkekeh.
''Apa ada yang lucu?'' Tanya Nona SuLien.
''Tidak ada, hanya saja aku tidak percaya jika anda akan menjadi Permaisuri.''
''Ka--''
''Apa yang membuat mu berani berkata seperti itu!'' Sentak IbuSuri.
FuWei mengambil cangkir teh di depannya lalu meminumnya dengan anggun. ''Karna aku tidak akan membiarkan gadis seperti dirinya menjadi Permaisuri.''
''Lancang!'' Bentak IbuSuri, lalu menatap Kasim Nan. ''Hukum cambuk Selir FuWei! Buat dia ingat akan kesalahan nya.'' Teriak IbuSuri.
Tapi kasim Nan masih berdiri di tempatnya, saat FuWei menatapnya dengan tajam.
''Kasim Nan!''
''YangMulia.''
''Cambuk Selir kurang ajar ini.''
Tanpa di sangka, FuWei berdiri dan mengangkat hanfunya, memperlihatkan betisnya yang mulus dan siap untuk di cambuk.
''Tidak perlu berteriak IbuSuri, aku siap dengan hukumanku. Tapi asalkan anda tau, jika hamba mendapatkan satu sambukan. Maka anda harus menerima dua kali cambukan dari hamba.'' Ucap FuWei dengan tenang, namun dengan senyum yang mengerikan.
Kasim Nan yang sedang memegang cambuk lepas begitu saja, entah mengapa ia tidak berani mencambuk Selir kesayangan Kaisar. Begitu pun IbuSuri dan Nona SuLien yang diam mendengar perkataan FuWei.
''Tidak ada yang berani?'' Tanya FuWei, yang sudah menurunkan hanfunya lalu menatap IbuSuri. ''Cih, kalian semua hanya bisa menggertak dan bermutu besar. Sama seperti kau menyuruh bawahan mu untuk menakuti-nakuti diriku semalam, jika YangMulia IbuSuri berani ... maka bunuhlah musuh mu, agar dia tidak menggagalkan rencana mu.''
Setelah mengatakan itu, FuWei pergi dengan senyum kemenangan. Namun di ambang pintu FuWei berhenti dan menoleh kebelakang.
''Susunlah rencana sebagus mungkin, karna aku orang pertama yang akan menggagalkan rencana kalian.''
¤
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...