
Tengah malam yang sunyi ... di mana semua orang sudah tertidur dengan nyaman dan nyenyak, termasuk Kaisar dan FuWei yang sudah terlelap dan menggapai mimpinya.
FuWei langsung membuka kedua mata dengan tajam, melirik ke arah kiri di mana Kaisar Feng tengah memeluknya dengan posesif.
FuWei memandangnya dengan jijik, lalu melepaskan pelukan Kaisar Feng dengan perlahan.
Hati yang berdarah dingin tidak akan menyukai jika dirinya di sentuh, namun FuWei si pemilik tubuh tidak punya pilihan lain. Karna kini tubuhnya bukan hanya milik dirinya, melainkan sudah milik orang lain.
Dia juga tidak akan menempati tubuhnya terlalu lama, karna dia akan ber-Reinkarnasi kembali. Menyerah tubuhnya pada FuWei dengan baik setelah ia menyelesaikan tugasnya.
FuWei turun dari peraduan tanpa menimbulkan suara, lalu berganti pakaian dan melesat pergi ke suatu tempat di mana ia menyimpan tubuh Tuan Muda XinJialu.
•
•
•
Sedangkan di tempat lain, di mana ternyata hutan yang lebat dan suram.
Tuan Muda XinJialu di gantung secara terbalik di atas pohon, ia meronta-ronta seperti ulat bulu yang ingin kabur namun tidak bisa.
''Mmm ... mmmm.'' Teriaknya dengan mulut tersumpal.
Tak lama.
BRUUGGHH.
Tuan Muda XinJialu jatuh dari atas pohon, seperti durian yang sudah matang.
''Ahhh ...''
Tidak ada waktu merasakan sakit, Tuan Muda XinJialu pun segera melepaskan ikatannya namun tidak bisa ... ikatan ini terlalu kencang dan ia hanya bisa melepaskan sumpalan di dalam mulutnya.
''Siapa yang berani-beraninya menyanderaku! Akan aku buat pelajaran.'' Geturunya, mencoba untuk melepaskan tali yang mengikat dirinya.
''Kau sudah bisa lepas, XinJialu?'' Tanya seseorang, yang membuat Tuan Muda XinJialu menghentikan pergerakan nya. Melihat kanan kiri, namun ia tidak melihat lawan bicaranya, hanya remang remang cahanya bulan yang tidak jelas untuk di jadikan penerangan.
''Siapa kau! Kenapa kau mengikat ku di atas pohon!'' Sentaknya. ''Lepaskan aku!''
FuWei keluar dari kegelapan dan menghampiri XinJialu dengan perlahan, membuat XinJialu mendengar derap langkah kaki mendekati dirinya namun ia tidak bisa melihat siapapun.
Entah mengapa ... XinJialu merinding tak kala suara langkah kaki itu semakin mendekat dan mendekat, jantung nya sudah berpacu dengan cepat, nafasnya naik turun hingga tenggorokan nya tercekat tak bisa berbicara mau pun berteriak.
Di bawah bulan yang remang remang, Tuan Muda XinJialu bisa melihat sosok yang tidak terlalu tinggi namun dari auranya sudah memancarkan hawa dingin yang pekat.
''Si-Siapa kau!''
FuWei membuka kain penutupnya secara perlahan dan membuang kain itu, nampaklah wajah cantik bak seorang dewi dengan sifat iblis yang tertanam sejak kecil dalam dirinya.
Tuan Muda XinJialu sontak membulatkan kedua matanya, melihat pembunuh Ayahnya ada di hadapan nya. ''Kau!'' sentak Tuan Muda XinJialu terkejut, membuat sekujur tubuhnya menjadi kaku tak bisa di gerakan.
GLEEK.
Ia menelan salivanya dengan susah payah.
''Lihatlah Xin, belati kesayanganku sedang memberontak ingin darah.'' ucap FuWei, memperlihatkan belatinya.
Tuan Muda XinJialu gemetar takut, ia turus mundur kebelakang seperti ulat bulu dan ingin berteriak, namun suara itu seakan takut untuk keluar dari mulutnya.
"Ada apa dengan suara ku! Kenapa suara ku hilang mendadak."
FuWei maju untuk mendekat, sedangkan XinJialu mundur menjauh.
''Apa kau ingin mengatakan sesuatu? Cik, aku tidak bisa mendengar mu.'' FuWei menyunggingkan sudut bibirnya.
''Tolong jangan sakiti aku, aku mohon.'' Tuan Muda XinJialu, memohon untuk pengampunan nyawanya dengan suara pelan.
''Heh, he he ... dimana keberanian dan arrogant mu, Tuan muda? Bukankah kau ingin bermain denganku?''
FuWei berjongkok lalu menggores pipi XinJialu dengan perlahan.
''Ahhkk..''
FuWei melihat darah yang menetes dari pipi XinJialu, lalu tersenyum saat belatinya terkena darah. FuWei menji lat darah yang ada di belatinya sambil tersenyum.
''Tenanglah Tuan Muda, ini tidak akan menyakitkan.''
''Ahhhkkkk ...''
Tuan Muda XinJialu berteriak, saat belati menancab di pahanya.
''YAA ... SEPERTI ITU, BERTERIAKLAH XIN. BERTERIAKLAH DENGAN KENCANG! AKU MERASA PUAS MENDENGAR TERIAKKAN MU.''
Keringat panas dingin keluar dari tubuh XinJialu, menahan rasa sakit yang dia rasa. Ia menggigit bibir bawahnya untuk tidak menimbulkan suara kembali.
''Mengapa berhenti?''
FuWei memajukan belati yang masih menancab di paha XinJialu sampai ke betis, membuat darah mengalir bersamaan dengan teriakkan yang memilukan untuk di dengar.
''Tolong ampuni aku Nona Fu, maafkan aku yang sudah mengusikmu.'' Lirihnya.
FuWei tersenyum lalu mengangguk, mencabut belati itu dan melepaskan tali yang mengikat Tuan Muda XinJialu. ''Baiklah, aku akan melepaskan mu.'' ucap FuWei menyeringai.
Baru saja tali itu lepas, FuWei langsung mematahkan satu kaki XinJialu dengan tidak nerperasaan.
THAAAK!
''Ahhhhkk ...''
XinJialu tidak kuasa berteriak kencang, namun semakin ia berteriak kencang ... semakin ganas pula FuWei ingin menyiksa XinJialu.
''LARILAH, XIN. LARI ...''
XinJialu yang sudah terlepas dari ikatannya, ia pun merangkak dengan susah payah ... sekuat tenaga ia kerahkan untuk menjauh dari sini.
Berdiri dengan satu kaki yang sudah patah, ia hanya bisa mengandalkan satu kakinya untuk berlari walau ia menahan sakit yang tidak tertahan kan.
Sungguh, ia menyesal telah bermain main dengan seorang pembunuh berdarah dingin. Apa lagi ia sudah mendengar desas desus tentang FuWei, namun ia abaikan karna ia merasa dendam karna FuWei sudah membunuh ayah nya.
Dan hari ini ia merasakan bagaimana posisi ayah nya dulu ketika terbunuh. Ia hanya berharap bisa melihat hari esok dan menjalani kehidupan lebih baik di bandingkan saat ini.
Di rasa sudah berlari cukup jauh, XinJialu berhenti dan melihat kebelakang di mana FuWei tidak mengejar. Ia menyangka jika FuWei benar-benar melepaskan dirinya, dan membuat ia sedikit bernafas lega.
Namun di saat ia akan melangkah kembali dan melihat ke depan, ia begitu shock melihat FuWei ada di depanya ... bahkan wajah FuWei tak jauh dari wajah nya.
XinJialu tergagap dan membulatkan kedua matanya, tubuhnya bergetar dahsyat, ia memundurkan wajahnya saat FuWei tersenyum dengan ramah padanya. Namun di mata XinJialu, senyuman itu seperti mengisyaratkan nya untuk larii menjauh.
Sebelum XinJialu bergerak, FuWei menjambak rambut XinJialu dengan sangat kencang. Lalu menggusurnya dan melemparkan tubuh tak berdaya itu ke pohon yang ada di depannya.
BRUUGH!
''Kau pikir aku akan melepaskan mu dengan mudah? Ha ha ha ... itu sangat mustahil.''
''Ja-jangan, aku mohon. Aku akan memberikan apapun yang kau mau! Harta, semua harta akan aku serahkan padamu tapi lepaskan aku.''
FuWei tidak mendengar, ia malah mengeluarkan cambuk besi dari dalam hanfunya lalu ...
CETAR.
...CETARRR....
CETAR.
FuWei mencambuk XinJialu dengan brutal tak berperasaan, hingga cambukan terakhir membuat dia kehilangan nyawanya.
FuWei melihatnya tak bergerak atau pun tidak berteriak lagi, ia pun menghentikan cambukannya. ''Hei bangun, apa kau sudah mati?''
Tidak ada jawaban, apa lagi pergerakkan. FuWei mengambil tali lalu melilitkan tali itu ke leher XinJialu dan menggantungnya di atas pohon.
''Aahhh ... pemandangan yang sangat indah.''
FuWei tersenyum senang melihat XinJialu di gantung di atas pohon dengan darah mengalir ke bawah. Di mata FuWei itu sangat menakjubkan, namun tidak bagi manusia normal.
Itu sangat mengerikan.
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...