Teleport System

Teleport System
Episode 83 makam tersembunyi


Sementara itu di atas lubang terlihat Cedric tengah berdiri sembari menatap lubang tersebut.


"Apa yang mulia telah masuk ke dalam lubang?" tanya Harold yang tiba-tiba muncul di samping Cedric.


"Aku melihat yang mulia telah masuk" ucap Floki yang muncul di samping Harold.


"Benar yang mulia telah masuk ke dalam" jawab Cedric.


"Apa kita perlu menyusul untuk menjaga keselamatan beliau?" tanya Floki.


"Kau saja tak bisa mengalahkan yang mulia, kita yang akan menjadi beban" ucap Harold.


"Lebih baik kalian segera menyelesaikan tugas yang di berikan yang mulia" ucap Cedric sembari mengeluarkan sebuah peta kota.


"Kota apa yang di inginkan oleh yang mulia?" tanya Floki.


"Kota Dirta, kota ini merupakan kota bagi para pengerajin berbakat" jawab Cedric.


"Seberapa ketat penjagaan di sana?" tanya Harold sembari mendekat dan melihat peta.


"Kota Dirta merupakan kota yang di jaga paling ketat kedua di kerjakan Esia, terdapat tiga orang kesatria di ranah Grand master di sana" jawab Cedric.


"Cukup sulit, berapa banyak personil tentara di sana?" tanya Harold.


"Untuk informasi ini aku tak dapat memastikannya karena banyak berita simpang siur mengenai informasi ini" jawab Cedric.


"Baiklah menurutmu berapa kira-kira penjaga di sana" ucap Floki.


"Kemungkinan besar ada puluhan ribut" jawab Cedric.


"Sial hampir 20 kali lipat dari pasukan penjaga kota Dristia" ucap Harold dengan kesal.


"Kau benar namun pasukan ini di bagi menjadi beberapa regu yang di pimpin oleh satu kapten setiap regu terdiri dari 1000 pasukan" ucap Cedric.


"Bagaimana dengan pertahanannya?" tanya Floki.


"Kota Dirta di lindungi oleh dinding setebal 7 meter dan setinggi 25 meter mustahil seorang kesatria biasa untuk melompat dinding tersebut" jawab Cedric.


Floki berjalan mendekati lubang lalu berjongkok"kita harus mencari cara untuk memasuki dinding raksasa itu" ucap Floki sembari melempar kerikil ke dalam lubang dengan wajah murung.


"Aku memilki rencana, kita hanya akan membawa 100 prajurit" ucap Harold.


Tiba-tiba Floki berdiri lalu berbalik"apa kau gila?" ucap Floki.


"Tidak" jawab Harold.


"Rencana apa itu?" tanya Cedric.


"Aku akan mencari 100 prajurit di ranah elit, setelah mendapatkannya aku akan memberitahukan rencana ku" jawab Harold kemudian ia menghilang.


"Bagaimana denganmu?" tanya Cedric.


"Aku memang hebat dalam pertarungan tapi dalam memimpin aku tak memiliki bakat" jawab Floki kemudian ia menghilang.


"Semoga saja berhasil" ucap Cedric sembari menutup mata dan menarik nafas panjang.


...****************...


Di sebuah desa di bagian timur kerajaan Kroas.


"Ibu aku akan bergabung ke pasukan kota salju" ucap seorang pemuda sembari menendang pintu sebuah rumah yang sederhana.


"Apa yang kau katakan" ucap seorang wanita tua yang tengah duduk di lantai sembari memasak di sebuah tungku yang terlihat lusuh.


Rumah itu sangat kecil hanya terdapat satu ruangan yanh di isi menjadi dapur dan tempat tidur.


"Ada tentara perwakilan kota salju yang melakukan perekrutan" ucap pemuda itu sembari memasuki rumah dan berjalan ke arah ibunya.


"Elias ibu tak memiliki uang untuk mendaftarkan mu ke militer" jawab ibu Elias sembari menunduk dan memotong sayuran dengan wajah murung.


Tiba-tiba Elias memeluk ibunya"ibu pendaftaran geratis dan tak di pungut biaya sedikitpun" ucap Elias.


"Apa kau tega meninggalkan ibu dan ayah sendiri di desa ini" tanya ibu Elias sembari mengusap matanya yang mulai berair.


"Ibu berikan aku waktu satu tahun, aku akan membawa ibu ayah dan juga Erly ke kota salju dan hidup di sana. Aku berjanji akan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian di sana" jawab Elias dengan percaya diri.


"Biarkan saja ia pergi, aku tak perlu memberi makan dirinya dan kita bisa menyimpan uang untuk Erly" ucap seorang pria tua yang tak lain adalah ayah dari Elias.


Tiba-tiba wajah Elias menjadi murung serta ia melepas pelukannya.


"Bruk..!" suara tas yang di jatuhkan di samping Elias oleh ayahnya.


"Pergilah dan jangan kembali sebelum dirimu dapat membayar semua hutang yang kau miliki padaku" ucap ayah Elias sembari berjalan ke arah pintu.


Elias menatap ayahnya dengan amarah.


"Dia ayahmu dan dia menyayangimu" ucap ibu Elias sembari memegang pipi Elias.


"Pergilah" ucap ibu Elias sembari berdiri.


...****************...


Di jalan desa.


Terlihat Elias tengah berjalan sembari menggendong tas yang terbuat dari kain yang di ikat oleh tali.


Ia menjadi sorotan para warga karena pakaian yang begitu lusuh dan kotor.


Ia berjalan dengan tegap selama tak memperdulikan sekelilingnya.


Terlihat di ujung jalan beberapa orang telah berkumpul untuk mendaftar kemiliteran kota salju.


"Aku ingin daftar" ucap Elias berbicara kepada tentara yang duduk di meja.


"Ikut ke kota salju untuk melakukan tes jika kau tak masuk ke militer, pihak pengurus kota akan memberikan pekerjaan lain" ucap tentara sembari memberikan selembar kertas yang berisi kontrak.


Tanpa berfikir panjang Elias langsung menandatangani kontrak tersebut.



Elias merupakan seorang pemuda berumur 16 tahun, ia berasal dari keluarga miskin yang sering di tindas oleh warga sekitar.


Ia hidup bersama kedua orang tuanya yang bekerja sebagai penenang pohon dan nelayan, ia juga memiliki seorang adik perempuan yang bernama Erly.


Elias memilki semangat yang sangat tinggi ia selalu bermimpi untuk menjadi prajurit sejak ia masih kecil.


...****************...


Sementara itu di dalam lubang.


Terlihat Faisal tengah berjalan di dalam kegelapan dengan membawa senter genggam.


"Sistem apa aku harus terus maju?" tanya Faisal.


[Maju terus hingga menemukan pintu lalu masuk.]


"Baiklah, tempat ini sangat gelap dan pengap" gumam Faisal.


"Aneh sekali tempat ini karena aku tak dapat menemukan adanya genangan air sedangkan akhir-akhir ini curah hujan tinggi" gumam Faisal.


"Aku masih harus mempelajari sisa berikan dari kitab reog Ponorogo" gumam Faisal.


"Teknik ini di bagi menjadi 13 gerakan dan untuk saat ini aku hanya dapat memahami satu gerakan yaitu tebasan lembut" gumam Faisal sembari megenggam gagang pedangnya.


"Barongan kapan teman-teman mu bangun?" tanya Faisal.


{Yang di maksud teman-teman itu adalah para pemeran di cerita reog Ponorogo.}


"Saat anda berhasil menguasai gerakan ke 5" jawab Barongan dalam pikiran Faisal.


Seketika sebuah tombak melesat ke arah Faisal.


Faisal dengan sigap menangkap tombak tersebut dengan satu tangan.


"Lemparan ini kuat" gumam Faisal sembari memperhatikan tombak tersebut.


Terlihat beberapa tombak menyerang Faisal secara bersamaan.


"Scrang..!" Faisal melting semua tombak.


"Siapa yang menyerang ku" gumam Faisal sembari melirik sekeliling.


"Di sini sangat gelap aku gak dapat melihat objek apapun" gumam Faisal.


...****************...


Bersambung...