
Tiba-tiba Harold memegang tangan Cedric, bersamaan dengan itu tetua Brox mengeluarkan aura yang mengerikan aura yang hanya di miliki oleh seorang di level grand master
Floki berdiri dan menaikan celananya.
"Orang ini dapat menahan tekanan ku, bahkan ia dapat bergerak bebas seperti tak terjadi apa-apa" gumam tetua Brox terkejut dengan tingkah Floki.
Tanpa tetua Brox sadari Floki telah memegang pundaknya iapun menatap tangan Floki dengan wajah serius.
"Cukup bermainnya kami ingin istirahat" ucap Floki sembari menepuk-nepuk pundak tetua Brox.
"Ayo tuan Cedric ku antar ke kamar untuk beristirahat" ucap Danieal.
"Tentu saja" jawab Cedric.
merekapun pergi.
"Harold aku pergi duluan, aku sedikit lelah" ucap Floki sembari meregangkan tubuhnya sembari menguap setelah itu ia pergi.
Harold pun berdiri dan mendekati tetua Brox.
"Kami memiliki kalung pelindung, tekanan mu tak akan melukai kami bahkan tak berpengaruh terhadap kami" ucap Harold.
"Tetua Brox, nikmati hari-hari anda mulai hari ini. Kita akan tinggal bersama dalam waktu yang lama" ucap Harold sembari berjalan meninggalkan tetua Brox.
Tetua Brox gemetar karena kesal.
"Tenang Brox, kau harus mengawasi mereka terlebih dahulu sebelum mengambil langkah, aku harus berhati-hati" gumam tetua Brox menenangkan diri.
...****************...
Sementara itu di kamar yang telah di siapkan untuk Salsa.
Terlihat Salsa dan juga Bella tengah berbaring di kasur.
"Bella" ucap Salsa.
"Iya ada apa" jawab Bella menatap ke arah Salsa yang fokus menatap langit-langit.
"Kau kenal kakak ku kan?" tanya Salsa.
"Kakak mu?, dia itu yang terkenal karena telah berada di ranah master di usia 20 tahun, kemudian menjadi jenius beladiri karena menguasai ilmu pedang hingga tingkat ahli. Selain itu dia juga terkenal tampan dan juga baik. Apa dia yang kau maksud?" ucap Bella.
"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Salsa.
"Tentu aku pernah menemuinya, kamu sempat mengobrol karena saat itu ia jadi pengawas ku saat ujian, memang kenapa?" jawab Bella sembari duduk.
Salsa pun duduk dengan bersemangat" menurut mu dia seperti apa?" tanya Salsa.
"Eeee.. menurut ku dia biak" jawab Bella sembari tersenyum terpaksa.
"Wah benarkah apa kau tertarik dengan kakak ku?" ucap Salsa sembari mendekati Bella.
"Aku mengantuk kita lanjutkan pembicaraan ini besok" ucap Bella sembari berbaring dengan cepat dan menutup mata.
Salsa tersenyum sembari berbaring"kena kau" gumam nya.
...****************...
Di kamar Faisal.
Di bawah sinar bulan yang menembus jendela yang terbuka, angin masuk ke dalam kamar membuat gorden menari.
Terlihat Faisal tengah duduk di jendela sembari memegang pedang.
Faisal menatap ke ara bulan yang terlihat amat jelas makan itu.
Ia memandang pedang di tangannya"Faisal kau harus fokus ke tujuan mu dulu, jujur aku tau kau tak menginginkan perasaan ini" gumam Faisal sembari memegang dadanya lalu ia menatap bulan.
"Sial wajahnya terus terbayang di dalam pikiran ku" ucap Faisal sembari melompat ke bawah.
Tiba-tiba ia berlari sangat cepat lalu melompat ke atap-atap rumah menuju hutan.
Faisal terus berlari di hutan tanpa tujuan semakin lama semakin cepat hingga ia berhenti di depan sungai.
Faisal berjalan perlahan ke arah sungai lalu ia membasuh wajahnya di sungai itu.
Terdengar suara tawa Harold dari dalam hutan yang gelap.
Terlihat Harold keluar dari hutan tepat di belakang Faisal"yang mulia Indra sangat tajam, sejak kapan anda mengetahui aku di sini?" tanya Harold sembari berjalan mendekati Faisal.
Faisal berbalik.
"Aku mengetahui diri mu mengawasi ku semenjak aku duduk di jendela" jawab Faisal sembari mengibaskan rambutnya yang panjang.
Tiba-tiba Faisal mengeluarkan api di tangannya lalu membakar pohon yang telah tumbang di dekat mereka.
"Harold aku ingin minta tolong sesuatu kepada mu" ucap Faisal sembari duduk.
Harold tersenyum kemudian duduk di dekat Faisal.
"Ada hal apa yang mulia, aku akan melakukan apapun yang anda inginkan" ucap Harold.
Faisal menatap Harold lalu memegang pundaknya" ajari aku seni beladiri" ucap Faisal dengan tegas.
Harold tertawa kecil sembari menunduk"yang mulia bukannya aku tak mau melakukannya namun anda tidak cocok menguasai seni beladiri yang ku kuasai" ucap Harold.
"Apa yang membuatku tak cocok untuk mempelajarinya?" tanya Faisal.
Tiba-tiba Harold menunjuk dada kiri Faisal" di hati anda tak ada kebencian" jawab Harold.
Harold berdiri lalu menarik pedangnya, terlihat percikan api keluar dari pedang saat di cabut dari sarungnya.
"Seni beladiri yang aku kuasai berbahan bakar nafsu, amarah, dan juga kebencian yang mana di salurkan lewat dendam" ucap Harold sembari mengayunkan pedangnya dengan tegas dan terlihat keren.
Setiap gerakan pedang di ikuti api berwarna hijau kehitaman yang seakan menyelimuti bilah pedang.
"Crak..!" suara pedang yang di tancapkan.
Terlihat tiba-tiba Harold berlutut di hadapan Faisal.
"Hamba tak pantas mengajari mahkluk seperti anda, hati anda terlalu murni untuk menguasai beladiri iblis" ucap Harold sembari menunduk.
Faisal berdiri dan berjalan ke arah Harold lalu Faisal berlutut memegang kedua pundak Harold"Harold jangan terlalu meninggikan diri ku, aku tak sebaik seperti yang kau pikirkan. Bangunlah" ucap Faisal kemudian ia berdiri.
Harold bangkit.
"Yang mulia apa sebenarnya anda ingin menjadi apa?" tanya Harold.
Faisal tersenyum lalu menunjuk ke langit.
"Anda ingin menjadi bulan?" tanya Harold kebingungan.
"Bukan" jawab Faisal.
"Lalu apa?" tanya Harold.
"Entah aku tak ingin menjadi seperti seseorang atau sesuatu namun ingin yang tak dapat di tiru yang mana akan menjadi inspirasi aku ingin menjadi produk satu-satunya yang tak ada bandingannya" jawab Faisal.
"Sulit untuk mengatakan apa yang ku maksud namun aku tak ingin menjadi apapun aku hanya ingin menjadi diri ku sendiri" jawab Faisal.
"Membingungkan" ucap Harold.
"Ya memang aku bingung ingin menjadi apa, sebenarnya aku tak ingin menjadi apapun yang ku inginkan hanya hidup tenang, kau paham?" ucap Faisal dengan cepat.
"Baiklah aku paham" ucap Harold.
"Ambil ini yang mulia" ucap Harold sembari memberikan sebuah buku seni beladiri yang mengeluarkan sinar emas.
"Buku apa ini?" tanya Faisal yang terlihat kagum dan bingung melihat buku tersebut.
"Ini adalah buku seni beladiri milik teman ku yang merupakan jenderal juga seperti ku, metode yang di miliknya tidak melibatkan nafsu atau sesuatu sejenisnya. Seni beladiri ini memerlukan hati yang murni dan bersih seperti yang anda miliki" jawab Harold sembari memberikan buku tersebut ke Faisal.
[Peringatan host memegang seni beladiri tingkat surgawi level system tak cukup untuk mempelajarinya.]
...****************...
Bersambung