
"Kek apa aku boleh kembali?" tanya Faisal sembari merapikan bajunya.
"Aku ingin memberitahukan mu sesuatu yang penting sebelum diri mu pergi" ucap kakek Sen.
"Yaa,'katakan saja" jawab Faisal.
"Duduklah" ucap kakek sembari duduk di lantai.
Faisal pun duduk.
"Aku telah hidup selama 1257 tahun di muka bumi ini, aku di kenal sebagai salah satu dari 7 dewa bumi atau 7 guardian" ucap kakek Sen.
"Apa, masih ada 6 orang lagi yang sekuat kakek?" gumam Faisal.
"Kami melindungi bumi selama 1000 tahun lebih, kami telah berjanji untuk tidak ikut campur urusan duniawi seperti perang negara atau bisnis apapun, kami boleh turun tangan jikalau ada ancaman dari luar angkasa atau iblis yang dapat menghancurkan bumi" ucap kakek Sen.
"Mengapa kakek menceritakan ini padaku?" tanya Faisal.
"Aku ingin mewarisi gelar ku sebagai satu-satunya guardian yang tersisa di bumi ini kepada dirimu" jawab kakek Sen.
Faisal memegang pundak kakek Sen"kek melindungi bumi juga merupakan tanggung jawab ku, tanpa kau berikan gelar guardian aku tetap akan melakukannya. Gelar yang terlalu tinggi hanya akan membebani ku dan membuat hidup ku terasa berat" ucap Faisal.
"Umur kakek sudah tidak panjang lagi, kakek hanya ingin memberikan yang terbaik untuk dirimu sebagai keturunan terbaik yang ku miliki" ucap kakek Sen ia mulai bersedih.
"Kek aku bukan yang terbaik, suatu saat nanti akan muncul keturunan yang lebih hebat dan lebih berharga di banding diri ku, kau jangan khawatir bumi adalah rumah ku dan akan selalu menjadi rumah ku" ucap Faisal sembari tersenyum.
Tiba-tiba kakek Sen memegang kepala Faisal membuat Faisal diam dan seketika matanya berubah menjadi putih akibat energi yang memasuki kepalanya secara tiba-tiba.
...****************...
Sementara itu di tempat pengungsian.
"Kita selamat" ucap Nicho yang tengah duduk di bawah pohon sembari memegangi dadanya, ia menonton para pengungsi yang tengah sibuk dengan urusan mereka.
"Kejadian kemarin benar-benar tidak terduga aku hampir saja terbunuh oleh monster yang tiba-tiba muncul dan menyerang namun, berkat diri mu aku masih bisa hidup" ucap Nicho berbicara pada gelangnya yang mengeluarkan cahaya berkedip berwarna merah.
"Kau Nicho bukan?" tanya Nabila yang tiba-tiba datang dari arah depan Nicho.
Tiba-tiba Nicho berdiri dan bersiaga untuk menyerang"Nabila?" gumam Nicho yang terlihat terkejut dengan kedatangan Nabila yang tiba-tiba.
"Kau kenapa?, apa kau baik-baik saja" tanya Nabila yang kebingungan dengan tingkah Nicho.
"Ah,'aku baik-baik saja" jawab Nicho sembari duduk lalu menghembuskan nafas dengan lega.
Nabila duduk di samping Nicho.
"Apa ada perlu?" tanya Nicho.
"Tidak aku hanya kesepian di sini" jawab Nabila sembari tersenyum.
Wajah Nicho memerah saat Bella tersenyum.
"Wajah mu memerah apa kau sakit?" tanya Nabila.
Nicho berbalik dan menyembunyikan wajahnya"tidak aku baik-baik saja" jawab Nicho.
"Aku gugup karena ini kali pertamaku duduk sedekat ini dengan seorang wanita" gumam Nicho.
"Hehehe.. kau lucu juga" ucap Nabila tersenyum.
Sekali lagi Nicho tersipu malu.
"Di mana Faisal?"tanya Nicho.
"Entahlah dia tidak di sini" jawab Nabila yang tiba-tiba terlihat bersedih karena tiba-tiba menunduk.
"Apa ia baik-baik saja?" tanya Nicho yang terlihat khawatir.
"Ayah bilang dia baik-baik saja dan sekarang ia berada di rumah kakeknya" jawab Nabila.
Nicho mengeluarkan nafas dengan lega sembari ia mengelus dadanya"syukurlah dia baik-baik saja, aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi denganku jikalau satu-satunya teman ku terluka" ucap Nicho.
"Aku melihatnya terbang" ucap Nabila dengan tatapan kosong mengingat Faisal yang terbang saat di helikopter.
"Ahahaha....! apa kau menghayal atau sedang bermimpi" ucap Nicho sembari tertawa mendengar ucapan Nabila.
"Iiiiih..! aku tidak berbohong!" ucap Nabila dengan kesal lalu memukul dada Nicho hingga berbunyi buk.
"Aduh" ucap Nicho sembari memegangi dadanya ia terlihat kesakitan.
Nabila terlihat takut lalu perlahan mencoba memegang Nicho yang tengah kesakitan"apa kau baik-baik saja maaf" ucap Nabila merasa menyesal.
"Brengsek..!" teriak Nabila sembari melempar Nicho dengan kerikil.
...****************...
Sementara itu di tenda yang di bangun khusus untuk Tante Nita, tenda itu terlihat sangat nyaman karena memiliki banyak perabotan seperti kasur, kipas, kulkas, bahkan WiFi dan juga tv.
Terlihat Tante Nita tengah duduk di ranjang sembari menelpon.
"Bagaimana keadaan Faisal?" tanya Tante Nita.
"Dia baik-baik saja, kau jangan khawatir Faisal sekarang berada di tempat ayah" jawab om Hendra dari telepon.
"Kapan kau akan membawa kami ke sana?" tanya Tante Nita.
"Pekerjaanku masih banyak aku akan mengirim beberapa orang untuk mengantar mu dan Nabila ke rumah ayah bagaimana?" jawab om Hendra.
"Tidak aku ingin kau yang mengantar kami" jawab tante Nita terlihat kesal sembari menggenggam tangan.
"Apa kau takut?" tanya om Hendra.
"Tidak" jawab tante Nita sembari mencubit tangan kirinya hingga berdarah.
"Maka berhentilah mencubit tanganmu hingga berdarah, aku mencintaimu dan aku menyayangimu maaf karena aku jarang berada di rumah aku berjanji setelah selesai pekerjaan ku aku akan mengambil cuti selama seminggu untuk kalian" ucap om Hendra.
"Kita telah menikah selama 15 tahun, dan aku hanya memiliki waktu 36 hari dengan mu. Aku telah bersabar selama 15 tahun Hendra" ucap tante Nita yang mulai menangis.
...****************...
Sementara itu di tempat om Hendra.
Terlihat ia tengah duduk di meja kerja yang mana di penuhi oleh tumpukan dokumen hingga menggunung.
"Asal kau tau apa yang telah ku kerjakan demi kalian" gumam om Hendra sembari berdiri lalu melepaskan bajunya.
Ia menatap kaca sembari memandangi tubuhnya yang di penuhi oleh luka cakaran.
"Kau tak memahami penderitaan yang ku alami" gumam om Hendra sembari memegang bekas luka di dada kirinya.
"Kau mengatakan akan berhenti bekerja di saat kita memiliki anak dan kita memutuskan untuk mengadopsi Nabila. Sekarang kau kemana!" tanya Tante Nita dengan nada tinggi dengan emosi yang meluap-luap serta air mata yang mengalir dengan deras.
"Maaf" ucap om Hendra sembari menutup telpon.
...****************...
Saat malam hari di tempat pengungsian.
Terlihat Nicho tengah duduk di pohon yang sama sembari meminum teh panas dengan tubuh di bungkus selimut.
"Bahkan setelah adanya kiamat kedua orang tua ku tak ada yang berusaha menghubungi atau mencari kabar ku" gumam Nicho sembari menatap hp nya yang mati.
Sekali lagi gelangnya bercahaya.
...****************...
Nama: Senartho Handoko bayangkoro
umur:1356 tahun
level:??
spirit:??
talent:??
Nama: Purwanto Handoko
umur: 82
level: Elder awal
spirit:?
telent :?
Note:kakek nya Faisal atau ayah dari ibu Faisal