Teleport System

Teleport System
Episode 67 persiapan


Saat malam hari.


Terlihat Faisal tengah duduk di tebing bersandar di pohon sembari ia memandangi kota Dristia yang terlihat begitu indah dari kejauhan.


"Kota itu sangat indah, aku sangat menginginkannya" gumam Faisal sembari meminum bir.


Terlihat Cedric berjalan menghampiri Faisal sembari memeluk buku besar.


"Yang mulia apa yang anda lakukan di sini?" tanya Cedric sembari duduk di samping Faisal.


"Aku sedang menikmati keindahan kita Dristia" jawab Faisal.


"Kota itu kemang indah saat makan hari" ucap Cedric.


"Cedric apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya Faisal.


"Aku hanya sedikit khawatir dengan anda" jawab Cedric.


"Aku telah mengetahui semuanya sejak awal jangan khawatir" ucap Faisal.


"Aku pernah merasakan apa yang anda rasakan dan jujur rasanya benar-benar sakit" ucap Cedric.


"Cedric kekecewaan berasal dari ekspektasi tinggi terhadap sesuatu, sebenarnya tak ada salahnya dengan pilihan Bella namun cara ia merealisasikannya yang salah" jawab Faisal.


Cedric diam menulis di buku.


"Lantas apa sekarang anda membeci Bella?" tanya Cedric.


"Tentu tidak, benci muncul karena cinta sedangkan aku tak pernah merasakan perasaan itu kepadanya, aku merasa mati dan tak dapat merasakan apa itu cinta lagi" jawab Faisal.


"Yang mulia saya bingung sebenarnya anda berumur berapa, kata-kata yang anda keluarkan penuh akan makna hidup layaknya seorang yang telah mengalami banyak masalah dalam hidup" ucap Cedric.


"Aku tumbuh dengan pengalaman dan, pengalaman itu kebanyakan buruk" jawab Faisal tersenyum.


"Apa tujuan hidup anda yang mulia?" tanya Cedric.


Faisal tersenyum lalu ia berdiri.


"Selagi nafasku masih berhembus, selagi tubuh ku masih bergerak selagi angan ku masih berjalan dan selagi jantungku masih berdetak, aku akan mendapatkan puncak" ucap Faisal sembari menunjuk bulan yang bersinar terang.


Cedric memandang Faisal dengan tatapan penuh kagum dan bangga.


...****************...


Keesokan harinya.


"Kalian berjaga dan berikan kabar ketika ada yang mencurigakan. Ingat jangan lakukan tindakan yang tidak perlu" ucap Faisal berbicara pada tim pengintai yang tengah berbaris dengan perlengkapan penuh.


"Dan yang terpenting kalian harus menjaga kamuflase kalian saat berada di medan yang akan kalian intai" ucap Faisal.


"Siap yang mulia" jawab tim penginta.


"Baiklah kalian boleh pergi" ucap Faisal kemudian ia pergi ke tenda.


Di dalam tenda Harold dan Gunnar telah menunggu.


"Bagaimana situasinya?" tanya Faisal memasuki tenda.


"Yang mulia setelah saya mengintai kota tadi malam saya melihat jikalau para penjaga lebih bersantai, dan jika di lihat dari gelagat Guilin ia seakan sedang menunggu sesuatu yang akan datang" jawab Harold.


"Bagaimana dengan mu Gunnar?" tanya Faisal sembari berjalan ke meja.


"Setelah saya menyusup ke cam militer saya menemukan banyak sekali mayat manusia yang di simpan di dalam lubang yang besar seperti sumur" jawab Gunnar.


"Mayat?, jelaskan" ucap Faisal terkejut.


"Saya menunggu selama tiga puluh menit dan saya telah melihat para prajurit melempar 3 orang yang kelihatan kumuh dan tersiksa, saya merasakan aura iblis yang sangat kuat di dalam sana aura panas membara dan juga berbahaya" jawab Gunnar.


"Baiklah lalu di mana tempat harta dan tempat berkumpulnya para bangsawan?" tanya Faisal.


"Mereka tinggal di istana yang sama dengan Guilin, Guilin memang tak memiliki anak atau istri tapi ia sering tidur dengan istri para bangsawan atau gadis-gadis di kota, dalam semalam ia dapat meniduri tiga wanita sekaligus" jawab Harold.


"Baiklah malam ini kita akan bergerak" ucap Faisal.


"Untuk tempat harta kami belum menemukannya karena benar-benar tersembunyi" ucap Gunnar.


"Baik yang mulia" jawab Harold dan Gunnar.


"Misi kali ini ku namakan Quiet night" ucap Faisal.


...****************...


Saat siang hari Faisal menyempatkan diri untuk memberikan arahan dan sedikit pelajaran untuk para prajurit.


"Aku tak pernah turun secara langsung untuk melatih kalian karena, aku sibuk dengan beberapa urusan namun kali ini aku akan memberikan sebuah pelajaran yang penting" ucap Faisal berbicara di depan para prajurit yang tengah duduk mendengarkan.


"Selama ini kalian berlatih pedang memfokuskan pada kecepatan tebasan dan juga kekuatan tebasan" ucap Faisal sembari memegang pedang.


"Danieal kemari" ucap Faisal.


"Siap" jawab Danieal berjalan ke arah Faisal.


"Tahan serangan ku" ucap Faisal sembari melempar pedang.


"Selama ini kalian di latih untuk memperkuat tangan hingga melupa melatih bagian penting ini" ucap Faisal sembari menyerang Danieal dengan pelan.


"Pergerakan yang begitu indah, mengalir seperti air"


"Benar gerakannya sangat indah"


"Hal pertama yang harus kalian latih adalah genggaman tangan karena ini merupakan poros kekuatan berpedang" ucap Faisal sembari menyerang Danieal hingga membuatnya menjatuhkan pedang.


"Ingat ketika berduel jangan sampai kalian kehilangan pedang oleh karena itu kalian harus memperkuat genggaman agar pedang tak mudah terlepas" ucap Faisal.


...****************...


Saat malam hari.


"Ingat jangan buat keributan" ucap Faisal yang tengah berdiri di tebing sembari memasang masker hitam, ia mengenakan pakaian full hitam.


"Siap yang mulia" jawab Harold dan Gunnar.


"Harold pergi ke bunuh prajurit yang berjaga, Gunnar kau kita ke cam milliter. Dan titik akhir adalah istana kota" ucap Faisal memberi komando.


Seketika mereka menghilang.


...****************...


Di atas tembok kota Dristia.


"Hei kerajaan mengirim pasukan untuk tuan Guilin" ucap prajurit yang tengah berjaga.


"Untuk apa?, bukankah prajurit di kota sudah banyak" jawab prajurit di sampingnya.


"Kita akan menyerang kota salju untuk membalas kematian jenderal tiga yang telah mati"


"Baguslah" ucap prajurit sembari menatap ke arah hutan yang gelap.


"Kau merasa jika malam ini terasa lebih dingin?"


"Hei kau tidur" tanya prajurit sembari menoleh ke arah temannya.


Terlihat temannya telah tergeletak di tanah menyisakan baju zirah dan senjata.


Ia panik dan melihat sekeliling yang mana nasib semua penjaga sama mereka menghilang dan hanya menyisakan baju zira dan senjata.


Prajurit itu panik karena hanya ia yang tersisa ia berlari ke arah Bel peringatan.


"Respon mu terlalu lambat" ucap Harold yang tiba-tiba muncul di depan prajurit tersebut lalu menyentuh jidatnya.


Perlahan tubuh prajurit itu meleleh dan lenyap.


"112 prajurit yang berjaga di atas benteng telah habis dalam waktu lima menit, sekarang tinggal menyusuri kota" gumam Harold sembari berjalan dengan santai lalu melompat ke dalam kota.


...****************...


Bersambung...