Teleport System

Teleport System
Episode 101 penembakan


Faisal menatap tajam ke arah sang penembak.


Terlihat lima orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala terus menembaki Faisal dan Nadia dengan membabi-buta,


Faisal hanya diam saja sembari memeluk Nadia dengan erat.


"Ibu tolong" gumam Nadia ketakutan.


Setelah peluru mereka habis para penjahat itu bergegas untuk kabur dengan bahagia seakan menikmati hal tersebut.


Nadia gemetaran ia benar-benar ketakutan, ia memeluk Faisal dengan erat sembari menangis Faisal membalas pelukan itu sembari ia mengelus kepala Nadia seraya ia berkata"sudah jangan khawatir semua akan baik-baik saja" Faisal berusaha menenangkan Nadia.


"Sepertinya di sini memang sering terjadi penembakan masak, entah apa alasan mereka" gumam Faisal sembari menatap para berandalan yang sebelumnya menembaki Faisal.


Berandalan itu berlari sembari bercanda.


...****************...


Beberapa saat kemudian.


"Sial pakaianku jadi berlubang" ucap Faisal sembari melepaskan pakaiannya.


Nadia tengah duduk di bangku taman sembari memeluk dirinya sendiri.


Seketika Nadia terpaku menatap tubuh Faisal yang begitu bagus bersamaan dengan itu ia juga terkejut melihat tato di belakang tubuh Faisal..


"Apa dia seorang gangster!?, bukanya dia masih SMA?" gumam Nadia menelan ludah.


"Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Faisal sembari mengambil sebatang rokok.


"Aku rasa aku sudah lebih baik" jawab Nadia sembari menunduk.


"Tunggu matahari terbit setelah itu kita akan pulang ke apartemen" ucap Faisal kemudian ia menghisap rokok tersebut.


Para aparat kepolisian bergerak dengan cepat mereka segera memeriksa TKP penembakan tersebut tidak butuh waktu lama mereka telah mendapatkan tersangkanya.


...****************...


Saat siang hari.


"Hei apa kalian sudah memutuskan ingin masuk sekolah mana?" tanya Nadia sembari memeluk bantal sofa dengan erat.


"Entahlah aku bahkan tak ada niatan untuk sekolah" jawab Faisal sembari berbaring di lantai.


"Aku tak mengetahui apa-apa mengenai sekolah di negara ini, aku juga telah mencari di internet tetapi aku masih bingung. Bagaimana dengan pendapat mu Nadia sepertinya aku hanya akan mengikuti saranmu" ucap Nicho dengan tatapan fokus ke layar laptop.


"Haduh kalian ini" ucap Nadia menggelengkan kepala dengan heran.


"Di dekat sini ada sekolah akreditasi setandar jadi bagaimana?, kebetulan temanku ada yang bekerja di sana sebagai satpam" ucap Nadia.


"Wah boleh itu, cari sekolah yang dekat saja walaupun akreditasi standar selagi masih ada gurunya tidak masalah" ucap Nicho bersemangat.


"Bagaimana dengan mu Faisal?" tanya Nadia sembari memperhatikan Faisal yang tengah berbaring sembari menyalakan rokok.


"Aku sih ikut-ikutan terserah saja lagi pula aku juga akan jarang masuk" jawab Faisal.


"Lalu untuk apa kau sekolah jauh-jauh jikalau kau tak ingin belajar" teriak Nadia sembari melempar Faisal dengan bantal.


"Aku sekolah hanya untuk formalitas saja" jawab Faisal sembari menangkap bantal tersebut.


"Eh aku penasaran dengan satu hal" ucap Faisal.


"Apa itu?" tanya Nadia penasaran.


"Ah tidak jadi aku hanya ingin membeli mobil" jawab Faisal sembari berdiri.


"Sial kau hanya membuatku penasaran!" teriak Nadia sembari melekat Faisal dengan bantal yang berada di sampingnya.


Faisal menghindar kemudian meledek Nadia, ia pun berlari karena Nadia mengejarnya"Faisal..!" teriak Nadia "cepat beritahu"


"Aku sudah lupa" Faisal terus belari mengelilingi ruangan.


"Bruk..!"


Faisal terpeleset lalu jatuh telentang kemudian Nadia menimpa tubuh Faisal.


Faisal dan Nadia saling bertatapan Faisal yang di duduki Nadia tak dapat bergerak ia hanya dapat menatap wajah Nadia yang mulia memerah karena malu.


"Sial adegan apa ini?" gumam Faisal.


Nadia menggigit bibirnya.


"Faisal ku laporan ibumu" ucap Nicho setelah ia mengambil foto Faisal dan Nadia.


"Bajingan..!" ucap Faisal sembari membalik Nadia ke bawah kemudian ia mengejar Nicho yang berlari.


...****************...


Beberapa saat kemudian.


"Sial kau memukul kepala ku terlalu keras bisa-bisa aku gegar otak" ucap Nicho sembari mengelus kepalanya yang benjol akibat pukulan Faisal.


Faisal merangkul Nicho"makanya jangan bermain-main dengan ku" ucap Faisal.


"Lagi pula kau dan Nadia saling bertatapan cukup lama, sekitar tiga menit ya aku takut kalian"


"Plak..!" pipi Nicho di tampar Nadia.


"Tutup mulutmu" ucap Nadia sembari berjalan lebih cepat dengan wajah memerah serta kesal.


"Jaga ucapan mu, nanti di tampar Nadia lagi" ucap Faisal mengejek Nicho yang kesakitan.


"Aku ingin membeli mobil atau motor" ucap Faisal.


"Kita masih di bawah umur, kau belum memiliki SIM" ucap Nicho.


"Ya tidak masalah aku ingin lebih bebas di kota ini, aku tak akan membeli motor atau mobil yang mahal tetapi yang biasa saja" ucap Faisal.


"Lebih baik baik bus saja atau taxi, kita tidak memiliki lahan parkir" ucap Nicho sembari membuka bungkus eskrim.


"Santai saja" jawab Faisal.


"Diring..!" hp Faisal berbunyi.


"Ada apa Jarot?" tanya Faisal setelah mengangkat telpon.


"Aku dan semua anggota telah tiba di Las Vegas, apa yang harus kami lakukan setelah ini" jawab Jarot dalam telpon.


"Aku tinggal di New York kau bawa saja seluruh anggota ke kota ini, dan untuk langkah berikutnya kita akan membicarakannya ketika kita bertemu" ucap Faisal.


"Baiklah kalau begitu kami akan tiba besok" jawab Jarot.


"Semoga selamat" ucap Faisal sembari menutup telpon.


"Kriing..!" sekali lagi hp Faisal berbunyi.


"Iya ibu ada apa?" tanya Faisal.


"Bagaimana dengan tempat tinggal mu, ibu dengar terjadi penembakan di taman kota New York apa kau baik-baik saja?" tanya ibu dengan khawtir.


"Aku baik-baik saja hanya saja pakaianku bolong-bolong akibat puluhan peluru yang mengenai tubuhku" jawab Faisal.


"Apa..! sekarang kau berada di rumah sakit mana ibu akan pergi ke sana" ucap ibu penuh khawatir.


"Aku sedang di jalan, aku ingin membeli kendaraan untuk apa aku ke rumah sakit?" ucap Faisal.


"Bukannya kau terkena tembakan?, ayah akan segera ke tempat mu kamu harus bertahan" ucap ibu dengan khawatir.


"Bu anakmu ini adalah manusia super untuk apa kau mengkhawatirkan ku" ucap Faisal.


"Ibu Faisal telah mendapatkan calon menantu..!" teriak Nicho sembari berlari.


"Apa..!" ucap ibu terkejut.


"Bu sinyalnya hilang aku akan menghubungimu nanti" ucap Faisal sembari menyakitkan telpon lalu ia berlari mengejar Nicho.


"Nicho kau kenapa?" tanya Nadia kebingungan melihat Nicho berlari dengan ketakutan.


"Aaaaaa...!" Nicho hanya berteriak.


"Apa yang terjadi?" gumam Nadia sembari berbalik.


"Brak..!"


Tak sengaja Faisal dan Nadia berciuman akibat Faisal yang tidak melihat jalan ketika mematikan telpon.


Waktu seakan berhenti Nadia menatap mata Faisal ia kelihatan sangat bahagia dengan kejadian ini.


Merekapun jatuh.


"Nadia maaf aku tidak sengaja" ucap Faisal sembari berusaha membantu Nadia untuk bangun.


Nadia hanya diam sembari menutupi mulutnya"ciuman pertama ku"


...****************...


Bersambung...