
"Kaulah rintang untuk Ejaan dialah yang akan memenangkan diriku, takdir kami telah di tulis untuk bersama kau hanyalah penculik yang memaksa cinta" ucap putri Laksmi.
"Jika kata-kata itu keluar dari mulut orang lain maka aku pasti sudah membunuhnya dengan kejam, namun entah mengapa hatiku masih tetap merasa tenang saat kau mengatakannya" ucap raja Darsa.
"Berhentilah untuk mencintaiku dan kirim aku kembali kepada tunanganku, aku tak ingin kau mati" bujuk Laksmi.
"Apakah itu pertanda jikalau kau mencintaiku?" tanya raja Darsa.
Laksmi hanya diam saja.
Terlihat peserta pertama telah memegang benang panah dan mencoba untuk menariknya, tanpa di duka tangan peserta itu seketika putus.
"Ahahaha aku lupa mengatakannya busur itu akan menyerang orang yang memiliki nafsu yang tinggi" ucap pangeran Raksha sembari tertawa.
"Untuk kalian para iblis jangan bermimpi untuk menariknya kecuali kalian merupakan iblis suci atau beast suci yang telah mendapatkan pencerahan" ucap Raksha.
Peserta kedua tanpa takut ia segera berjalan menuju panggung meskipun ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tangan dari peserta sebelumnya seketika hancur saat menyentuh benang busur tersebut.
"Peserta yang berani aku menyukainya" ucap raja Darsa sembari ia melempar satu kantung emas ke atas panggung.
"Tariklah sedikit maka akan ku berikan tiga batang emas itu untukmu" ucap raja Darsa.
Peserta itu menoleh dan menatap raja dengan tersenyum"saya merasa tersanjung" ucapnya sembari memberikan salam.
Dengan percaya diri yang tinggi peserta itu segera memegang benang busur dan berusaha menariknya, terlihat ia mengerahkan seluruh kekuatan yang ia miliki hingga semua orang dapat melihat fluktuasi aura yang sangat jelas dari seorang petarung beladiri di level Elder.
Semakin lama peserta itu menarik semakin berkurang tenaga yang ia keluarkan seakan busur itu menyerap kekuatannya.
Semakin lama tubuhnya semakin mengurus seperti tulang hingga akhirnya ia mati dengan tubuh yang menjadi kurus seperti tongkat.
"Ups.. Aku lupa memberitahukan bahwa busur ini dapat menyerap aura iblis" ucap pangeran Raksha.
Keturunan raja Rakhsadaksa sangat menikmati pertunjukan ini seakan sedang melihat sebuah komedi tak hanya mereka kebanyakan penonton juga ikut merasa terhibur kecuali para pendatang dari kerajaan lain.
"Sebaiknya kita pulang tempat ini bukan untuk kita" ucap om Hendra sembari merangkul tante Nita yang kelihatan ketakutan karena ia terus menutup matanya.
"Aku tak ingin kembali aku merasa jikalau aku akan bertemu dengan Faisal lagi" jawab tante Nita.
Melihat peserta yang mengalami kejadian buruk seperti menjadi tengkorak dan tangannya terputus banyak dari peserta yang memilih untuk mengundurkan diri.
Dan kini hanya tersisa 3 orang saja yaitu Faisal, dan dua orang murid dari sekte ortodoks.
"Sekarang sudah tidak menarik lagi karena banyak peserta yang kabur, tetapi sayembara akan tetap di lakukan" ucap pangeran Raksha.
"Aku akan mengangkatnya!" teriak salah satu murid dari sekte ortodoks yaitu sekte Sword temple.
"Dia adalah murid dari sekte Sword temple yang sejak dulu mengejar putri Saras"
"Ku dengar ia telah menjadi murid tingkat 1 dan sekarang ia berada di level Holy Elder di usia yang masih muda yaitu 21 tahun"
"Aku yakin dia pasti mampu menarik busur tersebut, gelar yang di berikan sudah menjamin yaitu the young Saint sword temple"
"Bagaimana putri Saras apa kau menyukai tuan muda Qiu mo di sana?" tanya pangeran Raksha mengejek putrinya.
Qiu mo tersenyum saat namanya di sebut oleh pangeran Raksha.
"Cepat mulia aku ingin melihat idiot ini mati..!" teriak pangeran Barsha sangat keras hingga membuat Qiu mo kesal.
"Wahai rembulan yang bersinar di malam gelap ku persembahkan kemenangan ini untukmu wahai yang tak bercela" ucap Qiu mo sembari berjalan menuju panggung.
Mendengar hal itu beberapa penonton menjadi kesal bahkan ada yang muntah.
"Kata-kata yang begitu menjijikan"
"Aku merasa malu"
"Paman berikan pedangmu aku akan memenggalnya" ucap putri Saras dengan emosi.
Faisal menatap tajam ke arah Qiu mo dari tempat duduk peserta yang berada di dalam Stadion.
"Ada yang aneh" gumam Faisal sembari memperhatikan punggung Qiu mo yang memiliki aura hitam yang terasa tidak asing bagi Faisal.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi Qiu mo mulai menarik busur dengan kekuatan yang sangat besar fluktuasi aura yang begitu padat selayaknya seorang seniman beladiri di level raja.
Berbeda dengan peserta sebelumnya kekuatan dari Qiu mo tidak mengurang melainkan bertambah, semakin kuat ia menarik semakin banyak kekuatan yang bertambah.
"Benar saja dia memasang jimat penguat di punggungnya" gumam Faisal.
"Kau juga merasakannya" ucap raja Darsa menggunakan telepati kepada Faisal.
"Sepertinya aku tak dapat kelas dari pengawasan mu raja Darsa" jawab Faisal menggunakan telepati.
"Dirimu terlalu spesial untuk di biarkan aku harus terus mengawasi mu kau sangat mencurigakan" ucap raja Darsa menggunakan telepati.
"Kecurigaan hanyalah sebuah dugaan bukan sebuah kebenaran" ucap Faisal menggunakan telepati.
Akhirnya ada peserta yang berhasil menarik busur tersebut meskipun hanya dua centi sana hal itu membuat para penonton bersorak dan bertepuk tangan hingga membuat Qiu mo semakin sombong.
"Lakukan sesuatu dia tidak jujur" ucap raja Darsa menggunakan telepati.
Faisal menunjuk punggung Qiu mo lalu berkata"semua hancur atas kehendak ku" bisiknya.
Sekejap kekuatan Qiu mo terserap ke dalam busur tersebut ia berteriak karena tak dapat melepaskan tangannya dari busur tersebut.
"Aaaaaa...! Tolong..!" teriaknya meminta tolong.
"Akhirnya dia mati"
"hahahah..!"
"Lihat apa yang ku bilang dia mati"
Raja Darsa kelihatan terkejut karena ia menatap tajam ke arah Qiu mo.
"Bagaimana cara kau melakukannya?" tanya raja Darsa menggunakan telepati.
"Beberapa orang memiliki rahasia untuk di sembunyikan" jawab Faisal menggunakan telepati.
"Kau membuatku penasaran setelah sayembara ini aku akan menemui mu" ucap raja Darsa menggunakan telepati.
"Aku akan menyambut anda yang mulia" jawab Faisal menggunakan telepati.
"Duaar..!" suara ledakan yang sangat keras berasal dari panggung yang hancur akibat hentakan kaki seorang pria tua yang mendarat dan memotong tangan Qiu mo.
"Stup..!"
Terlihat pria tua itu telah menempel di tembok dan di cekik oleh pangeran Raksha.
"Beraninya kau mengacau di acara ku" ucap pangeran Raksha penuh emosi hingga ia mengeluarkan niat pembunuh yang begitu mengerikan.
Pria tua yang di cekik adalah salah satu tetua di sekte Sword temple semua orang ketakutan saat melihat hal tersebut.
"Tolong ampuni aku dan muridku" ucap tetua tersebut memohon dengan suara tercekik.
"Kau berani datang dan merusak kesenanganku" ucap pangeran Raksha.
...****************...
Bersambung...