Teleport System

Teleport System
Episode 69 kasih paham


"Banyak bacot babi ini!" ucap Floki sembari menarik pedang milik Danieal.


"Tahan" ucap Faisal menahan Floki.


"Dia akan menemui ajalnya besok" ucap Faisal.


"Danieal kau bawa 1000 pasukan untuk memblokir rute musuh untuk melarikan diri, aku akan memberi tanda untuk melakukan pengepungan" ucap Faisal.


"Yang mulia lalu bagaimana dengan kota ini?" tanya Danieal.


"500 kavaleri sudah cukup untuk menahan mereka, di tambah ada aku Harold Floki dan juga empat kepala suku" jawab Faisal.


"Baiklah saya akan pergi untuk mengkoordinir pasukan agar bersiap" ucap Danieal.


"Sebenarnya aku ingin membantai mereka untuk ku jadian exp" gumam Faisal.


"Ingat jikalau ada pasukan musuh yang menyerah maka jadikan tawanan jangan di bunuh" ucap Faisal.


"Siap yang mulia" jawab semuanya.


merekapun pergi meninggalkan Faisal, kecuali Cedric.


"Yang mulia mengapa anda kelihatan santai padahal bencana berada di depan mata?" tanya Cedric.


"Untuk apa mengkhawatirkan sesuatu yang telah di takdirkan. Kita memiliki kekuatan yang lebih besar di banding mereka dan juga kita memiliki posisi paling bagus. Dan juga mereka tak mengetahui jika kita akan menyerang mereka" jawab Faisal.


"Yang mulia bulan depan upacara kedewasaan anda akan di lakukan, anda akan datang ke mana untuk melakukannya?" tanya Cedric.


"Aku akan melakukannya di kota ini" jawab Faisal.


"Siapa saja yang akan anda undang?" tanya Cedric.


"Entahlah aku tak menginginkan ada banyak penjilat yang datang, aku lebih memilih mengundang kerabat dan juga seluruh rakyat ku" jawab Faisal.


"Cedric lebih baik kau beristirahat besok kau akan menyaksikan pembantaian dan kau harus mempersiapkan mental mu" ucap Faisal.


"Siap yang mulia" jawab Cedric kemudian pergi.


...****************...


Keesokan harinya.


Terlihat Faisal dan yang lainya tengah berdiri di benteng menghadap jalan masuk kota.


"Ralph setelah aku menyelesaikan masalah diplomatik mengenai kota ini aku akan segera melakukan tes utama" ucap Faisal.


"Yang mulia tes utama memiliki jangka penyelesaian yang panjang bahkan bisa sampai sebulan lamanya, lebih baik anda melakukan upacara kedewasaan terlebih dahulu" jawab Ralph.


"Ada benarnya, baiklah aku akan menunggu sampai upacara kedewasaan ku" ucap Faisal.


"Setelah perang usai kau harus segera kembali ke kota salju bersama kepala suku yang lain, kemungkinan kota salju untuk di serang itu sangat besar karena aku telah menyinggung seluruh bangsawan di kerajaan Kroas" ucap Faisal.


"Kami akan segera kembali setelah perang usai" jawab Ralph.


"Dan juga kemungkinan aku tak akan tinggal di kota salju, aku akan memberikan hak pengelolaan kota salju kepada mu" ucap Faisal.


"Maksud anda?," tanya Ralph.


"Benar, kau akan menjadi walikota salju, empat suku memiliki peninggalan yang harus di jaga di sana dan aku akan menjadikan seluruh wilayah kota salju menjadi tepat kalian" ucap Faisal.


"Yang mulia, terimakasih" ucap Ralph.


Cedric hanya diam dan menulis.


...****************...


Saat siang hari.


"Yang mulia mereka tiba" ucap Ralph menunjuk pasukan kerajaan Esia yang mulia terlihat.


"Kalian serang ketika aku memberi aba-aba" ucap Faisal kemudian ia melesat menuju tengah tengah jalan untuk menghadang pasukan musuh.


...****************...


"Aku merasakan ada keanehan" ucap Jeri ia merupakan jenderal tingkat dua kerajaan Esia, ia memiliki wajah yang cukup tampan, Jeri terkenal akan keganasannya saat berada di medan perang ia di kenal sebagai tombak iblis.


"Kau benar aku merasakan ada yang aneh" ucap Tom sembari memerhatikan Faisal yang tengah berdiri sendiri di kejauhan, Tom merupakan jenderal tingkat dua kerajaan Esia. Ia memiliki tubuh yang kecil dan ramping namun memiliki kecepatan yang sangat mengerikan ia sering di sebut sebagai kutu karena kelincahannya.


"Kita percepat pergerakan" ucap Jeri sembari memacu kuda lebih cepat.


"Baik" jawab Tom mengikuti Jeri.


...****************...


Saat di tengah.


Jeri turun dari kuda lalu berjalan menghampiri Faisal.


"Apa yang kau lakukan di sini, cepat menyingkirkan" ucap Jeri.


Tom turun dari kuda lalu berjalan ke arah Faisal.


"Bujun saja dia" ucap Tom menarik pedangnya.


"Tunggu ada yang aneh" ucap Jeri menahan Tom, lalu ia menatap tajam ke dinding kota yang mana telah terhiasi oleh para bangsawan yang di ikat dan dis gantung di dinding kota.


"Kita masuk ke dalam perangkap" ucap Jeri.


Faisal tersenyum lebar"Kalian terlambat" ucap Faisal mengangkat pedang.


"Dush..!" suara peluru katapult yang menhantam baguian tengah pasukan musuh mengakibatkan semua orang panik karena melihat rekan mereka beterbangan.


"Dush.. dush.. dush" suara peluru katapult yang menhantam pasukan musuh.


"Bertahan..!" teriak Jeri dengan keras.


"Bajingan..!" teriak Tom melesat ke arah Faisal.


"Stap..!"


"aku adalah lawan mu" ucap Harold menahan serangan Tom.


"Sial" gumam Tom sembari mundur.


"Tom biar ku bantu" ucap Jeri sembari bersiap melempar tombaknya pada Harold.


"Kau adalah lawan ku" ucap Floki yang tiba-tiba muncul memegang ujung tombak Jeri, Floki memiliki badan yang tinggi membuat Jeri diam terpaku karena takut.


"Jangan bunuh mereka, kalian boleh bermain" ucap Faisal sembari berjalan melewati Tom dan Jeri yang tengah di tahan oleh Harold dan Floki.


Faisal berjalan dengan santai seakan tidak ada yang terjadi.


"Saatnya bermain..!" Teriak Faisal sembari menarik pedangnya sekaligus menebas.


"Scark..!" seluruh barisan depan pasukan musuh terbelah menjadi dua akibat serangan Faisal.


Pasukan Faisal mulai keluar dari dalam benteng menyerbu pasukan musuh.


Empat kepala suku tak menyia-nyiakan kesenangan ini, mereka melesat ke dalam barisan musuh lalu membantai mereka.


Terlihat Ralph tengah terbang di atas pasukan musuh sembari ngespam fire ball dengan santai, ia terlihat sangat menikmatinya.


Selain itu terlihat Gunner melompat dan menginjak-injak musuh seakan sedang bermain.


Gunnar memanfaatkan perang ini untuk melatih teknik pedangnya.


Hjalmar hanya diam di benteng sembari melempar panah cahaya.


"Ini terasa sangat mudah" ucap Faisal sembari menebas dengan acak untuk membuka jalan, di belakangnya terlihat ribuan prajurit mati dengan tubuh yang terpotong rata.


"Tujuan ku itu dia" gumam Faisal sembari menatap seorang pria yang keluar dari dalam kereta kuda.


Pria itu memiliki tubuh yang besar dengan tato menghiasi wajahnya, ia memiliki kepala yang botak tatapannya tajam.


Seketika pria tersebut membalas tatapan Faisal.


Faisal tersenyum seakan bertambah semangat, ia melesat ke arah pria itu sembari bersiap mengeluarkan serangan.


"Stank..!" suara pedang yang beradu dengan palu milik pria tersebut.


Bentrokan energi yang sangat kuat membuat para prajurit yang berada di dekat Faisal terpental jauh dan mati.


"Kau adalah pemimpinya" ucap pria tersebut dengan suara yang berat dan dalam.


"Kau benar" jawab Faisal kemudian ia berputar dan menebas perut pria tersebut.


"Stank..!" serangan Faisal di tahan.


...****************...


Bersambung...