
"Reflek yang sangat bagus" gumam Faisal.
Faisal di serang dari atas oleh pria tersebut.
"Stank..!" Faisal menahannya menggunakan tangan.
Seluruh pasukan mundur dan berhenti untuk menonton pertarungan Faisal dan pria tersebut.
"Siapa diri mu?" tanya Faisal sembari berdiri memperbaiki posisi.
"Aku hanya seorang pengembara yang kebetulan bertemu dengan pasukan ini" jawab pria tersebut.
"Dia berasal dari ras orang-orang bar-bar sejenis dengan viking namun berbeda. Kekuatannya cukup baik karena ia dapat menahan kekuatan ku yang ku tahan 50%" gumam Faisal sembari menancapkan pedangnya.
"Kau ingin bertarung dengan tangan kosong, baiklah ku kabulkan" ucap pria tersebut sembari menaruh senjatanya di tanah.
"Namaku adalah Vlark!" teriak Vlark sembari ia terbang melesat dengan cepat ke arah Faisal.
Faisal tersenyum sembari ia mempersiapkan kuda-kuda.
"Dusk...!" tinju mereka beradu.
"Duak..! duak..!" mereka saling beradu tinju dengan cepat.
...****************...
Beberapa jam kemudian.
"Pasukan musuh telah menyerah namun yang mulia masih menikmati pertarungan dengan pria asing itu" gumam Cedric sembari menonton Faisal yang beterbangan saling memukul dengan Vlark.
"Tanah menjadi basah dengan darah akibat pembantai belasan ribu pasukan, yang mulia terlihat sedang bermain" gumam Cedric sembari menulis.
"Siapa yang akan menang?" ucap Ralph bertanya pada Tom yang telah terikat duduk di tanah.
"Tentu saja Vlark" jawab Tom mengejek.
"Kau lihat saja jika yang mulia gagal maka aku akan melepaskan kalian" ucap Ralph.
"Lihat saja nanti" ucap Jeri.
"Aku bosan" ucap Faisal kemudian ia memukul wajah Vlark sangat keras hingga membuatnya jatuh ke tanah dan pingsan.
"Sial wajahnya hancur" ucap Floki.
"Yok beres-beres" ucap Hjalmar sembari mengambil peralatan musuh yang berceceran.
"Bersihkan medan bawa para tawanan ke kota" ucap Faisal sembari berjalan ke arah Tom sambil ia mengelap wajahnya yang berlumur darah.
...****************...
Di aula istana kota Dristia.
Terlihat Faisal tengah duduk di singgasana sembari merapikan rambutnya yang berantakan akibat perang.
Terlihat Tom, Jeri, serta Vlark tengah berlutut di hadapan Faisal.
"Berapa banyak yang kita dapatkan?" tanya Faisal kepada Harold.
"Yang mulia kita mendapatkan banyak sekali senjata dan perisai, mereka membawa 30 ribu perisai dan juga 30 ribu senjata" jawab Harold sembari membaca catatan.
"Hjalmar" ucap Faisal.
"Siap yang mulia" jawab Hjalmar.
"Lebur semua perisai dan senjata dan buatkan aku senjata sihir" ucap Faisal.
"Tentu yang mulia" jawab Hjalmar.
"Berapa banyak korban jiwa dari pihak kita dan dari pihak musuh?" tanya Faisal.
"Kita tak mendapatkan korban jiwa namun ada beberapa yang terluka, untuk musuh kita berhasil membunuh 18 ribu jika di bulatkan" jawab Ralph.
"Beri kompensasi yang besar untuk prajurit yang terluka, dan untuk tawanan kirim mereka ke kota salju bersama kalian dan pekerjakan sebagai budak di tambang hingga kerajaan Esia menebus mereka" ucap Faisal.
"Siap yang mulia" jawab Ralph.
"Yang mulia bagaimana dengan mereka?" tanya Floki sembari menunjuk Tom dan yang lainya.
"Sebenarnya aku ingin membunuh mereka, tapi mereka tak buruk sebagai seorang budak di tambang" jawab Faisal sembari berjalan menuruni tangga.
"Dusk..!" Harold menginjak wajah Tom lalu menyeretnya keluar.
"Hei kau bawa kemana saudaraku" teriak Jeri.
"Ada beberapa space kosong di benteng, ia akan menjadi hiasan di sana kau jangan khawatir ia akan mati dengan bahagia" jawab Faisal.
"Bocah ini gila, ia mengantung seluruh bangsawan di kota dan membiarkan mereka mati perlahan karena kehausan dan kelaparan" gumam Jeri sembari menatap Faisal dengan ketakutan.
"Apa kau ingin menemani saudara mu?" tanya Faisal yang tiba-tiba berhenti ketika berada tepat di hadapan Jeri.
"Kami hanya di perintahkan untuk menyerang kota salju" ucap Jeri menatap sepatu Faisal yang masih berlumuran darah.
"Aku tidak peduli dengan itu, selagi kau mengusik rakyatku maka aku akan membalas beribu kali lipat kepada kalian" ucap Faisal sembari menjambak rambut Jeri memaksanya untuk bertatapan.
"Kau pikir aku akan diam saja ketika melihat rakyat ku banyak menderita akibat kerakusan kalian, aku tak akan diam diri sebelum seluruh orang yang bersangkutan menemui ajalnya" ucap Faisal.
"Apakah kau tak memikirkan jika prajurit yang kau bunuh juga sama seperti rakyat mu, mereka rela berperang demi keluarga mereka dan kau membunuh mereka tanpa rasa bersalah" ucap Jeri.
"Mereka menerima uang dan memang tugas mereka untuk berperang dan juga sudah konsekuensinya mereka mati, sedangkan rakyatku tak pernah mengusik kalian tapi kalian membunuh mereka" ucap Faisal.
"Tapi" ucap Jeri
"Dask..!" Jeri di tendang oleh Faisal hingga terpental jauh.
"Kau hanya ingin bebas dengan mengatasnamakan rasa kasih. Aku tak pernah menyesali apa yang ku lakukan dan sudah tekad ku untuk membalas dendam atas apa yang terjadi di kota salju" ucap Faisal.
"Kubur mayat para prajurit musuh dengan layak, aku ingin beristirahat" ucap Faisal sembari berjalan cepat meninggalkan aula.
...****************...
Di bumi.
"Sial amarah ku masih terbawa hingga sekarang" gumam Faisal sembari bangun dari kasurnya lalu ia pergi menuju toilet.
"Setelah apa yang di lakukan oleh Bella aku merasa tak dapat mempercayai orang lain melainkan diri ku sendiri" gumam Faisal sembari membuka pintu kamar mandi.
Seketika Faisal terhenti ia diam mematung saat melihat kamar mandi.
"Apa-apaan ini" ucap Faisal.
Terlihat sesosok gumpalan daging yang memiliki tangan serta satu bola mata yang besar tengah mencekik tante Nita.
"Bangsat..!" teriak Faisal sembari memukul monster itu dengan sangat keras hingga membuat dinding kamar mandi hancur dan memperlihatkan kondisi luar.
Terlihat kota telah di penuhi oleh berbagai monster yang membunuh dan memburu manusia, gedung-gedung banyak yang hancur dan terbakar.
"Tolong..!"
Terdengar teriakan minta tolong dan teriakan kesakitan dari orang-orang di kota.
Ini semua terlihat seperti kiamat.
Tatapan Faisal tertuju pada lingkaran hitam yang berada di langit.
"Faisal cepat lari" ucap tante Nita ketakutan sembari memeluk kaki Faisal.
Faisal menatap tante Nita yang tengah panik"dunia ini kiamat" gumam Faisal.
"Cepat evakuasi ke tempat yang aman..!" teriak seorang polisi yang berada di bawah rumah.
Faisal berlutut dan memegang pundak tante Nita.
"Tante kamu tenang dan bawa Nabila untuk evakuasi" ucap Faisal.
"Pak di sini ada orang tolong bantu..!" teriak Faisal.
Tante Nita dan Nabila pun di angkat ke atas helikopter.
"Nak cepat naik ini giliranmu" ucap polisi sembari memberikan tali kepada Faisal.
"Utamakan yang lain, aku tau kau di perintahkan untuk menyelamatkan tante Nita, bawa yang lain banyak ibu dan anak-anak aku akan naik nanti" jawab Faisal.
...****************...
Bersambung...