
Tante Nita terlihat panik karena Faisal tak kunjung naik ke atas helikopter.
"Faisal..! cepat naik" teriak tante Nita berusaha untuk turun namun di tahan oleh tentara.
"Ibu Faisal belum naik" ucap Nabila berusaha turun namun nasibnya sama ia juga di tahan oleh tentara.
"Ibu mohon bersabar dan tenang dia akan aman" ucap tentara yang memegangi tante Nita.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan keponakanku dan lebih mementingkan keselamatan ku sendiri, lepaskan aku..!" teriak tante Nita berusaha untuk memberontak air mata tak dapat ia tahan matanya merah dan penuh emosi.
Terlihat monster burung terbang ke arah helikopter yang menampung tante Nita.
"Kita harus segera pergi" ucap pilot sembari menembaki monster tersebut.
"Druuuus" suara tembakan membuat para penumpang ketakutan dan saling berpelukan kecuali tante Nita dan Nabila yang menghawatirkan Faisal.
"Sial" ucap Faisal kemudian ia melompat ke atas lalu menunjuk monster itu hingga hancur.
Faisal berbalik"tante, Nabila pergilah ke tempat pengungsian aku akan menyusul" ucap Faisal sembari terbang.
Kejadian tersebut membuat semua orang terkejut termasuk tante Nita, ia jatuh berlutut sembari menutupi mulutnya air mata terus menetes.
"Maafkan tante kau tak bisa menghindari takdir ini" gumam tante Nita sembari memandangi Faisal yang terbang menjauh menuju monster lain yang mengancam para penduduk.
Helikopter pun terbang menuju tempat pengungsian.
Di tengah pertarungan seketika Faisal teringat mengenai ibunya yang berada di rumah kakeknya, kota tempat kakeknya tak jauh dari kota tempat ia berada.
"Ibu" gumam Faisal yang mulia emosional.
"Tuan Faisal..!" teriak Jarot memanggil Faisal yang tengah membantai para monster.
Faisal menoleh ke arah Jarot yang tengah berlari ke arahnya.
"Syukurlah anda baik-baik saja" ucap Jarot.
"Perintahkan seluruh anggota untuk mengevakuasi warga keluar dari kota, aku akan menghabisi para monster yang tersisa" ucap Faisal.
"Tuan, para master telah muncul dan semua telah terkendali karena bos besar Hendra telah turun tangan, ia tengah melawan raja dari pada monster" jawab Jarot sembari menunjuk ke arah langit dekat portal yang tengah terjadi pertarungan udara yang sangat sengit.
"Om Hendra" gumam Faisal terkejut saat melihat om Hendra tengah bertarung dengan sengit.
"Kau lakukan apa yang ku katakan, dalam waktu lima menit aku ingin seluruh kota bersih oleh penduduk" ucap Faisal sembari memegang pundak Jarot.
"Anda jangan khawatir" jawab Jarot.
"Dush..!" Faisal melesat ke arah om Hendra.
...****************...
"Monster ini memiliki kekuatan yang besar dan juga daya tahan yang kuat" gumam om Hendra yang kewalahan melawan sesosok monster bertubuh manusia namun memiliki kulit berwarna hijau kepala bertanduk dan gigi yang tajam.
Om Hendra terus di gempur oleh pukulan yang memababi- buta hingga membuatnya terpojok dan hampir masuk ke dalam portal.
"Aku akan mati" ucap om Hendra yang telah berada tepat di depan portal dan terlihat sang monster telah bersiap untuk menyerangnya.
"Nita, Nabila aku menyayangi kalian..!" teriak om Hendra sembari mencoba menangkis pukulan monster itu dengan mata tertutup.
"Aaaaaa...!" om Hendra berteriak dengan keras.
"Aaaaaaa..!"
"Om buka mata mu" terdengar suara Faisal yang mengejutkan om Hendra dan membuatnya reflek membuka mata.
Terlihat Faisal telah mencekik monster tersebut dengan tangan kiri ia terlihat santai seakan monster yang dapat menghancurkan kota dengan beberapa serangan hanyalah seekor semut di buatnya.
"Faisal" ucap om Hendra terkejut seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Om sepertinya aku memiliki banyak pertanyaan setelah kejadian ini" ucap Faisal sembari memegang kepala monster itu dengan tangan kanan lalu meremasnya.
Monster tersebut terlihat meronta-ronta kesakitan hingga berteriak dan pada akhirnya kepala monster itu pecah seperti semangka.
"Anak itu" gumam om Hendra menelan ludah.
...****************...
Di sebuah kediaman yang besar di kaki gunung tepatnya di sebuah pedesaan.
"Dusk..!" Faisal mendarat di tengah halaman tersebut membuat tanah di sekitarnya hancur.
Hal tersebut membuat para penjaga di rumah panik dan berusaha menghadang Faisal.
Faisal tak menghiraukan mereka dan terus berjalan.
"Hei ada apa ini" teriak ibu Faisal berlari menuju kerumunan penjaga.
Seketika Faisal berlari ke arah ibunya lalu ia jatuh berlutut dan memeluk ibunya sembari menangis.
"Faisal" gumam ibu kebingungan dan terkejut.
Faisal menangis seperti bayi saat ia di peluk oleh ibunya, ibunya merupakan satu-satunya tempat yang ia anggap seperti rumah ibu menjadi satu-satunya tempat yang membuat Faisal bersikap sekaan seperti anak-anak.
"Faisal kamu baik-baik saja?" tanya ibu sembari memeluk Faisal dan mengelus punggungnya.
"Ibu... ibu aku benar-benar takut" ucap Faisal memeluk ibunya dengan erat.
...****************...
Beberapa saat kemudian.
Di ruang tamu.
"Ibu apa kau tak menonton televisi?" tanya Faisal yang terlihat kesal.
"Oh maksudmu break yang terjadi di kota mu?" jawab ibu sembari mengupas semangka.
"Aku merasa di khianati oleh keluargaku sendiri" gumam Faisal yang terlihat kesal.
"Aku menghawatirkan nya setengah mati tapi dirinya terlihat santai seakan tak ada yang terjadi" gumam Faisal sembari menatap ibunya yang tengah memotong semangka.
"Di sana ada om Hendra, aku tak akan khawatir karena keselamatan mu sudah terjamin jika berada di dekatnya. Bulan depan kau akan berulang tahun pada awalnya ibu akan memberitahu semuanya ketika kau telah menginjak usia 17 namun sepertinya kau telah mengetahuinya" ucap ibu.
"Mengetahui apa?" tanya Faisal.
"Gantilah pakaian mu terlebih dahulu, kakek akan segera tiba dari ladang dan dia yang akan memberitahu segalanya" jawab ibu sembari berdiri.
...****************...
Saat malam hari.
Seluruh dunia di gemparkan oleh fenomena yajg terjadi di negara A dimana muncul portal yang berisi ribuan monster.
Petinggi PBB mulai menggelar rapat untuk menanggulangi masalah besar ini dan mengantisipasi hal yang akan terjadi di masa depan nanti.
Berita mengenai seorang pemuda yang membunuh raja dari para monster juga menyebar sangat cepat namun identitasnya belum di ketahui dan menciptakan ketertarikan untuk para pemuda pemudi di seluruh dunia.
...****************...
Di ruang makan.
"Jadi sekarang kau telah dewasa" ucap seorang kakek yang memiliki rambut dan brewok penuh dengan uban ia memakai kacamata dan ia terlihat tampan.
"Apa-apaan ini, sejak kapan kakek ku setampan ini dan juga siapa orang ini" gumam Faisal yang terlihat kebingungan melihat orang-orang yang duduk di meja makan.
"Entah aku tidak tahu" jawab Faisal.
"Hei kau telah lama tak menemui ku dan kau sekarang bersikap asing kepada seseorang yang memberikanmu nama" ucap kakek tersebut yang tak lain adalah kakek dari Faisal.
...****************...
Bersambung...