
Tak terasa hari ini tepat 3 bulan usia Baby El, yang kini bobot tubuhnya hampir 9 kg. Cukup besar di usia 3 bulan, namun tidak menghambat tumbuh kembangnya. Kini Baby El sudah bisa menegakkan kepalanya, menggenggam benda dengan erat dan memasukkan nya kedalam mulutnya.
Sehingga aku harus lebih waspada terhadap benda-benda kecil atau pun yang berbahaya, tak lupa aku pun selalu mensterilkan terlebih dahulu mainan yang biasa dia genggam.
"Abang, Mama titip Baby El dulu iya. Mama mau ambil mainan gajah Baby El dulu, boleh kan?" Tanya ku.
"Biar Abang aja Ma yang ambil, di simpan d mana Ma?" Tawar Arjun.
"Ngga apa-apa biar Mama aja yang ambil, sekalian ada yang mau Mama ambil. Titip dulu iya sayang." Ucap ku, kemudian aku pun beranjak menuju kamar mengambil mainan Baby El dan hadiah buku untuk Abang Arjun yang baru sampai tadi pagi.
"Pasti Abang seneng deh! Ini buku yang dia pengen banget baca." Gumam ku yang kemudian lekas turun untuk menemui buah hati ku, namun di tangga aku mendengar suara tangis Baby El bergegas aku berlari agar segera sampai.
Oek. . . Oek. . . Oek. . .
"Astaghfirullah." Bergegas aku menggendong Baby El yang ternyata sudah ada di lantai dan tidak ada Abang Arjun.
"Cup. . . Cup. . . Cup. . . Maaf iya sayang, mana yang sakit nak? Aduh kasian, maafin Mama iya Nak!" Ucap ku khawatir.
Saat aku sampai di depan Ruang Keluarga, aku melihat Baby El sudah tengkurep di lantai dan tertindih guling nya. Arjun yang aku mintain tolong pun tidak ada, benar-benar membuat aku marah.
"Ma, adik kenapa? Ko nangis?" Tanya Arjun yang baru datang.
"Abang dari mana? Bukannya tadi Mama sudah titipkan adik ke Abang? Kenapa Abang tinggalin? Abang tau ngga? Tadi adik sudah ada di lantai dan tertindih guling nya." Ucap ku menahan amarah.
"Maaf Ma! Abang tidak sengaja." Ucap nya menyesal sambil menunduk, aku pun menghela nafas dan kembali menidurkan Baby El yang sudah tertidur nyenyak setelah menyusu.
"Maaf Bang! Mama tidak bermaksud memarahi Abang! Tadi Mama emosi sesaat, Abang mau kan maafin Mama?" Tanya ku penuh sesal, tidak seharusnya aku memarahi Arjun karena itu bukan salahnya. Itu salah ku yang meninggalkan Bayi dan menitipkannya pada anak kecil pula, bukan kepada orang dewasa.
"Ngga Ma! Ini salah Abang! Harusnya Abang bertanggung jawab! Karena Mama sudah menitipkan adik ke Abang! Tapi Abang lalai dan membuat adik terluka, maafkan Abang Ma. Abang siap di hukum!" Ucap Arjun penuh sesal dan aku pun tersenyum mendengar Arjun mengakui kesalahannya.
"Tolong jangan di ulang lagi iya Bang! Bisa kan?" Ucap ku kemudian memeluk Arjun dan dia pun menganggukan kepala nya.
"Bisa Ma! Abang janji akan menjaga adik lebih baik lagi!" Ucap Arjun.
"Terimakasih sayang." Ucap ku dan aku pun mencium kening Arjun dengan sayang.
"Loh kok udah tidur? Ini susu nya gimana?" Tanya Mama yang membawa botol susu yang berisi ASI ku.
"Iya buat Baby El! Tadi kan Arjun titip Baby El, katanya perut nya tiba-tiba mulas sekali. Jadi dia nitipin Baby El ke Mama, tau nya dia bangun dan pengen susu. Iya udah Mama ke dapur dulu ambil susu, Mama kira kamu lama di atasnya. Eh sekarang udah tidur aja ini Bayi gembul!" Ucap Mama sambil mengelus pipi Baby El.
'Jadi seperti itu yang sebenarnya terjadi? Dan aku menyalahkan Arjun, karena lalai menjaga adiknya. Ya Allah aku benar-benar ibu yang tidak baik, harusnya aku mencari tau yang terjadi dulu. Bukan langsung menyalahkan nya, Abang pasti sedih. Aku benar-benar harus belajar mengatur emosi lebih baik lagi, agar tidak menyakiti anak ku kelak.' Ucap ku dalam hati sambil melihat ke arah Arjun.
"Ade cuman sebentar kok Ma! Cuman ambil mainan gajah sama hadiah buat Abang. Oh. . . Iya! Abang ini Mama punya hadiah buat Abang, semoga Abang suka iya!" Ucap ku sambil menyerahkan bungkusan buku yang sengaja aku bungkus menggunakan kertas kado.
"Tapi Abang kan ngga ulang tahun Ma?" Ucap Arjun, sambil menerima nya.
"Memang hadiah harus selalu saat ulang tahun? Ngga dong! Ayo kamu buka!" Ucap ku dan Arjun pun membukanya.
"Ini kan buku lanjutan buku bisnis yang waktu itu Ma? Kata Mama buku nya harus pesan lama?" Tanya Arjun berbinar-binar.
"Iya ini juga kan baru datang tadi pagi Nak! Begitu Abang bilang selesai baca nya dan menanyakan lanjutan buku nya, Mama langsung memesannya." Ucap ku.
"Makasih banyak iya Ma! Abang seneng banget! Abang mau lanjutin baca buku ini lagi." Ucap Arjun penuh semangat.
"Sama-sama sayang, inget jangan terlalu lama membaca nya. Abang juga harus belajar dan tidur! Jangan begadang iya Nak!" Ucap ku sambil mengelus rambutnya dengan sayang.
"Coba Oma lihat bukunya, sepertinya kamu senang sekali dapat buku itu? Nanti Oma belikan juga deh!" Ucap Mama, kemudian meminta buku yang aku berikan kepada Arjun.
"Ini Oma." Ucap Arjun menyerahkan bukunya.
"Lah! Ini bukan bacaan anak kecil Abang! Ini harusnya di baca sama Mama kamu atau Opa kamu! Bukannya kamu yang masih anak kecil gini!" Ucap Mama geleng-geleng kepala setelah membaca judul buku nya.
"Abang masih anak kecil! Bacaannya juga yang buat anak kecil! Itu buku terlalu berat untuk Abang! Lagian memang Abang mengerti apa maksud dari buku itu?" Tanya Mama sekaligus memberi nasehat.
"Ngerti Oma! Lagian bacaan anak-anak ngga ada yang seru Oma! Apalagi cerita-cerita dongeng kaya gitu! Ngga seru buat Abang! Kalau buku yang kaya gini, ini seru banget Oma! Abang selalu penasaran dengan arti kata-kata baru yang Abang temukan dalam buku-buku ini Oma.
. . . Terus kalau Abang sudah tau arti nya, Abang bikin sendiri penjabaran yang menurut Abang lebih mudah di pahami. Jadi kan Abang bisa baca yang lain, terus udah tau itu artinya apa biar nyambung bacanya." Ucap Arjun yang membuat Mama melongo di buat nya, sedangkan aku cekikikan.
"De. . . De. . . Ini anak kamu kok gini banget! Kamu kasih makan apa sih dek?" Tanya Mama.
"Hahaha. . . Rasain! Makanya Ade udah bilang! Abang itu beda dari yang lain! Mama sih ngga percaya!" Ucap ku meledek Mama.
"Iya Mama kira bacaannya bukan yang kaya gini! Ini sih bacaan Papa kamu kalau ada waktu senggang, lah ini! Anak masih SD udah bacaan kaya gini! Bisa-bisa Opa kamu kalah pinter sama kamu Bang!" Ucap Mama menggelengkan kepala.