
Setelah mempertemukan Anisa dengan Nenek nya dan mereka pun pamit pulang, aku melambaikan tangan tanda perpisahan sambil mengelus perut ku.
"Sayang kelak jika kamu perempuan, kamu harus jadi anak yang baik iya Nak. Mama akan selalu ada untuk mu." Ucap ku sambil tersenyum.
Aku pun segera melanjutkan berburu makanan di sekitar danau ini, berbagai macam makanan aku beli. Sebagian aku memakannya dan sebagian lagi aku bawa pulang, hari ini aku benar-benar meluapkan perasaan ku dengan berburu makanan.
Setelah puas dengan berbagai makanan, aku pun memutuskan untuk pulang dan tanpa sadar handphone ku dalam mode silent.
Sampailah aku di Rumah, dan saat aku masuk ke dalam aku di kejutkan dengan kehadiran Ibu Mertua ku.
"Assalamualaikum." Ucap ku saat masuk kedalam Rumah.
"Wa'alaikum salam." Jawab mereka.
"Akhirnya kamu punya juga, Nak." Ucap Ibu Mertua yang kemudian bergegas menghampiri ku dan mengulurkan tangannya, aku pun refleks mencium tangan nya.
"Kamu pasti cape iya pulang kerja, ayo. . . Ayo kamu duduk dulu sini." Ucap Ibu Mertua yang menuntut ku untuk duduk di sampingnya, sedangkan aku hanya bisa mengikuti tanpa bicara apa pun.
"Gimana tadi di kantor? Kamu pasti cape iya? Udah mending kamu berhenti aja, biar Tio aja yang kerja kaya dulu lagi. Kamu di Rumah sama Ibu, dari pada kerja pasti kamu cape banget. Ibu kesini mau ngajak kamu pulang, kita lupain aja iya yang udah berlalu. Kalian mulai lagi dari awal, pasti kamu juga mau kan? Pasti kamu udah kangen sama Tio? Dalam Rumah tangga pasti ada aja masalah yang menerpa, itu hal wajar. Jadi jangan sedikit-sedikit kamu pulang ke Rumah Orang Tua kamu, malu dong sama Orang Tua kamu." Ucap Ibu Mertua panjang lebar.
"Loh! Ko kamu diem aja, ayo kamu siap-siap sekarang kita pulang iya. Ngga baik lama-lama di Rumah Orang Tua kamu, ngga enak nanti sama tetangga. Ayo sana siap-siap, atau ngga perlu bawa apa-apa aja. Ayo kita pulang, Bapak dan Ibu kami pamit dulu iya. Mohon maaf karena Nadira merepotkan kalian, harap di maklum iya namanya juga anak muda. Masalah kecil selalu di besar-besarkan, ayo Nad kita pulang." Ucap Ibu Mertua dengan percaya diri, sambil menarik tangan ku.
"Maaf Bu, Nadira ngga bisa ikut Ibu." Ucap ku tegas.
"Kenapa? Cuman karena masalah uang bulanan? Kamu sampai pulang ke Rumah Orang Tua kamu berhari-hari? Apa kamu ngga takut dosa? Kamu itu wanita yang sudah bersuami, dosa kamu kalau kamu pergi berhari-hari tanpa izin suami kamu! Kamu mau jadi istri durhaka!" Ucap Ibu Mertua marah.
'Jadi Mas Tio belum menceritakan yang sebenarnya terjadi.' Ucap ku menghela nafas kasar.
"Udah ayo cepat kita pulang." Ucap Ibu Mertua sambil menarik paksa tangan ku.
"Berhenti." Ucap Papa.
"Ada apa lagi Pak? Bapak mau menghentikan saya mengajak menantu saya pulang? Apa ini didikan Bapak? Sampai-sampai anak nya hobi kabur dari Rumah suaminya!" Ucap Ibu Mertua ketus.
"Apa Ibu ini benar-benar tidak tahu kelakuan anaknya di luar sana? Atau pura-pura tidak tahu? Jelas-jelas anak anda sudah berani berselingkuh di belakang anak saya!" Ucap Papa marah.
"Alah Bapak ini jangan percaya omongan Nadira! Dia pasti berbohong, ngga mungkin anak saya Tio berbuat seperti itu! Dia itu anak yang baik, pasti Nadira yang ngarang cerita itu! Ayo Nad bilang ke Orang Tua kamu yang sejujurnya! Jangan jadi istri durhaka kamu iya! Memfitnah suami sendiri!" Ucap Ibu marah.
"Maaf Bu, aku sama sekali tidak pernah memfitnah suami ku sendiri dan memang Mas Tio sudah berselingkuh di belakang aku Bu!" Ucap ku membela diri.
"Ngga! Ngga mungkin! Kamu pasti bohong! Tio itu anak Ibu, dia anak baik! Ngga mungkin dia selingkuh! Ngga! Ibu ngga percaya! Kamu pasti fitnah anak Ibu! Iya kan!" Ucap Ibu marah.
"Ngga! Kalian bohong! Tio anak yang baik! Dia tidak mungkin berselingkuh! Kamu pasti bohong! Iya kan! Kamu yang bohong!" Ucap Ibu Mertua sambil menggoyangkan bahu ku.
"Aku ngga bohong Bu! Mas Tio memang berselingkuh, bahkan dia sudah melamar selingkuhan nya. Namanya Sifa, dia teman kantornya Mas Tio. Mereka sudah berpacaran beberapa bulan yang lalu dan mereka berencana menikah, tapi saat lamaran nya tidak ada 1 pun keluarga Ibu yang datang." Ucap ku dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Mertua tampak syok dan terduduk kembali, sambil memegang dadanya.
"Ibu ngga percaya! Ibu harus tanya langsung sama Tio! Iya Ibu harus pulang!" Ucap Ibu Mertua yang seperti orang linglung, bahkan berjalan pun sempoyongan.
"Tunggu Bu! Biar Nadira antar Ibu." Ucap ku yang tak tega melihat Ibu yang tampak syok.
"Ma, Pa! Aku anterin Ibu pulang dulu iya! Ngga apa-apa kan?" Tanya ku.
"Iya sudah kamu antarkan Ibu Mertua mu dulu, kalau ada apa-apa kabari kami." Ucap Papa.
"Iya Pa, kami pergi dulu. Assalamualaikum." Ucap ku, sambil mencium tangan kedua Orang Tua ku dan memapah Ibu Mertua.
"Wa'alaikum salam." Ucap kedua Orang Tua ku.
"Ayo Bu." Ucap ku sambil memapah Ibu Mertua dan kami pun pulang ke Rumah Mas Tio.
Sepanjang perjalanan, Ibu Mertua yang biasanya selalu cerewet. Kini hanya terdiam, tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Meski Ibu Mertua selalu semena-mena kepada ku, tapi aku tetap menghormati nya. Sehingga tak tega rasanya membiarkan Ibu untuk pulang sendirian, meski nanti akan ada drama yang akan terjadi lagi.
Tak lupa aku pun mengirim lokasi ku kepada kedua Kakak ku, agar mereka menyusul. Bukan karena aku ini manja, namun saat ini aku sedang hamil muda. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan nantinya.
Lokasi terkini (Grup Keluarga Hutama)
Kami pun tiba di Rumah yang selama 3 tahun ini aku tinggali, dan aku pun tidak melihat motor Mas Tio. Mungkin Mas Tio belum pulang, sehingga hingga kami pun masuk ke dalam rumah.
Ceklek.
Ku pandangi seluruh isi Rumah, yang menjadi saksi perjalanan pernikahan kami. Tanpa banyak kata, aku mulai membereskan sedikit demi sedikit kekacauan yang ada. Mulai dari membereskan sampah bungkusan makanan, mencuci piring, membersihkan debu, terakhir aku mengepel lantai.
Sekarang Rumah ini sudah kembali seperti dulu, mungkin ini terakhir kali nya aku membersihkan Rumah ini. Dan aku pun masuk ke dalam kamar untuk membereskan pakaian dan barang-barang ku. Tak lama setelah aku selesai, aku mendengar suara motor berhenti.
Deg. . .