Suamiku Bukan Milik Ku

Suamiku Bukan Milik Ku
Bab 63


Tok. . . Tok. . .


"Masuk." Ucap ku.


"Meeting akan di mulai 15 menit lagi Bu." Ucap Sekretaris Dian mengingatkan.


"Oke! Sebentar saya bereskan ini dulu." Ucap ku, sambil membereskan berkas di meja.


"Ayo!" Ucap ku dan kami pun berjalan menuju Ruang Meeting.


Ceklek. .


"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Nadira Hutama Pemilik sekaligus Direktur Utama PT. NH Grup. Senang dapat bertemu dengan Bapak dan Ibu semua, yang selalu mendukung Perusahaan kami dan mohon maaf karena saya baru bisa muncul har ini." Ucap ku membuka Meeting.


"Akhirnya kita bisa bertemu juga dengan pemilik perusahaan ini, padahal kita sudah bekerjasama sejak Perusahaan ini berdiri." Ucap Pak Bayu, CEO PT. Angkasa Buana.


"Betul itu Pak! Ternyata ini sosok misterius di balik layar PT. NH Grup." Ucap Pak Santoso, PT. ABC sambil terkekeh dan aku pun hanya tersenyum.


Meeting pun berjalan dengan semestinya, dan ada hal yang membuat aku terkejut. Karena salah satu peserta Meeting adalah Kak Aldi, yang ternyata adalah CEO dari PT. Advertising Pratama yang merupakan Perusahaan yang mengiklankan Properti yang kami bangun.


"Selamat siang Ibu Nadira." Ucap seseorang menghentikan langkah ku, dan saat aku melirik. Ternyata Kak Aldi belum pergi dari kantor ku, membuat aku heran apa yang ia lakukan lagi.


"Siang juga Pak Aldi, apakah ada yang bisa saya bantu?" Ucap ku ramah.


"Begini, kebetulan saya akan makan siang. Bagaimana jika Ibu Nadira berkenan untuk makan siang bersama saya?" Tanya Kak Aldi Formal.


"Tentu, tapi jika tidak keberatan. Boleh saya membawa Sekretaris saya?" Ucap ku.


"Silahkan Bu, karena saya juga membawa Sekretaris saya. Kalau begitu mari, mobil saya sudah siap di depan." Ucap Kak Aldi dan kami pun berjalan menuju lobby Perusahaan, mobil pun melaju menuju Restoran terdekat.


"Silahkan Ibu Nadira dan Sekretaris Dian, ingin memesan apa?" Tanya Kak Aldi.


"Udah dong Kak, ga perlu formal banget! Ini kan cuman kita-kita doang loh!" Keluh ku.


"Ampun deh! Kebiasaan kamu itu ngga hilang-hilang juga ternyata, oke! Kita bicara santai." Ucap Kak Aldi yang mengundang tawa kami.


"Jadi mau pesan apa?" Tanya Kak Aldi.


"Aku spaghetti, puding caramel dan jus apel." Ucap ku.


"Saya samakan dengan Ibu Nadira saja Pak." Ucap Sekretaris Dian.


"Kamu itu sekretaris nya! Bukan pengikut nya! Ngga perlu sana-samain kaya dia! Pilih sesuka kamu! Kalau dia marah lapor ke saya!" Ucap Kak Aldi back to aslinya dan membuat sekretaris Dian dan sekretaris nya pun melongo mendengar ucapannya.


"Hahahaha. . . " Ucap ku tertawa melihat mereka melongo.


"Ngapain kamu ketawa?" Tanya Kak Aldi heran.


"Hahaha. . . Kakak ngga liat itu muka mereka melongo kaya gitu? Liat tingkah aneh Kakak." Ucap ku cekikikan.


"Hei! Asal kalian tau, itu adalah sifat aslinya tau! Jangan heran kalian." Ucap ku.


"Sudah jangan tertawa, ayo makan! Kalian juga makan! Jangan bengong terus, nanti makanannya keburu habis. Tuh liat!" Ucap Kak Aldi dan mereka pun melirik ke arah ku yang sedang asik makan.


Kami pun makan siang dengan canda tawa, hingga makan siang selesai Kak Aldi pun mengantarkan kami kembali ke Perusahaan dan aku pun melanjutkan pekerjaan.


Kring. . . Kring. . . Kring. . .


(Mba Erna Memanggil)


"Kenapa lagi sih? Heran! Dari tadi telpon mulu." Gerutu ku, dan aku pun dengan terpaksa mengangkat telpon tersebut.


[Assalamualaikum.] Ucap salam ku.


[Kamu ini ke mana? Udah tau suami sakit! Bukannya di urusin malah keluyuran! Asal kamu tau! Mba juga punya keluarga yang harus di urus! Cepetan kamu ke sini! Urus suami kamu! Jangan cuman bisanya nyusahin orang.] Ucap Mba Erna marah dan aku pun menghela nafas.


[Iya Mba, ada lagi?] Tanya ku singkat, sudah malas berdebat. Lebih baik aku iya kan saja, agar cepat selesai.


[Bawa makanan! Mba laper! Kamu ini masa di ruang rawat suaminya ga ada apa-apa? Cuman air putih aja yang ada, emang nya kamu pikir yang jagain suami kamu itu ngga laper apa? Kita di sini itu laper tau! Udah ngurusin orang sakit! Ngga di kasih makan pula!] Ucap Mba Erna marah dan aku pun memutar bola mata jengah.


[Iya Mba! Udah itu aja?] Tanya ku sekali lagi.


[Inget! Bawa makanan yang banyak! Steak, spaghetti, fried chicken, ayam geprek, kentang goreng, burger, nasi biryani yang ada kambing bakarnya, es krim dan jangan lupa minum nya! Moca float, mangga float, co****la, cappucino cincau! Eh! Iya! Minuman dingin yang kalengan! Oh! Sama satu lagi! Bawa uang 500rbu! Jajanan di kantin belum di bayar!] Ucap Mba Erna panjang lebar dan membuat aku melongo mendengarkan pesanannya, di kira aku ini layanan pesan antar apa?


[Heh! Denger ga kamu?] Bentak Mba Erna dan aku pun tersadar dan segera menjawab.


[Iya Mba aku denger ko! Iya udah sebentar iya mba! Assalamualaikum.] Ucap ku kemudian mematikan telpon dan mengeha napas.


"Ibu dan anak sama aja." Ucap ku sambil menggelengkan kepala dan memesan semua makanan yg aku ingat di aplikasi makanan online dan mentransfer uang 500rbu sesuai permintaan Mba Erna.


"Oke! Beres." Ucap ku kemudian mengirim bukti transfer ke Mba Erna dan segera menyimpan telpon ku.


"Udah kan iya? Mba Erna bilang nyuruh ngirim makanan, dan transfer uang. Artinya aku ngga perlu dong ke sana lagi, hehe. ." Gumam ku.


Kemudian aku pun melanjutkan pekerjaan ku, hingga waktu nya pulang tiba.


Tok. . . Tok. . . Tok. . .


"Masuk." Ucap ku.


"Permisi Bu, sudah waktu nya pulang." Ucap Sekretaris Dian.


"Oke! Kamu pulang aja duluan, tanggung tinggal 2 berkas lagi." Ucap ku.


"Kalau begitu biar saya bantu Bu." Ucap Sekretaris Dian.


"Ngga perlu, kamu duduk aja sana." Ucap ku dan melanjutkan pekerjaan ku.


Lagi lagi telpon ku berdering dan Mba Erna menelpon berkali-kali, bahkan ada pesan masuk menanyakan ke beradaan ku.


[Assalamualaikum Mba.] Ucap ku.


[Kamu ini di mana? Ini sudah sore! Mba mau pulang.] Ucap Mba Erna marah.


[Tadi Mba bilang aku suruh kirim makanan dan kirim uang, udah aku lakuin semua. Makanan sebanyak itu aku yakin ngga mungkin abis semua kan? Cukup dong buat makan sampai malam? Iya sudah kalau begitu aku matiin iya Mba, assalamualaikum.] Ucap ku tanpa mendengar jawaban Mba Erna aku pun mematikan telpon.