
Pagi ini tubuhku terasa lebih segar dari sebelumnya. Semalam, kami sekeluarga benar-benar menikmati hari berkumpul kami. Penuh dengan canda, tawa, dan kebahagiaan yang kami rasakan. Saatnya memulai kembali aktivitasku yang sudah tertunda. Aku pun bersiap-siap untuk berangkat bekerja, karena hari ini adalah hari sibuk di semua kantor, yaitu hari Senin di akhir bulan.
Setelah selesai bersiap-siap, aku pun turun untuk sarapan bersama. Ternyata semua anggota keluargaku sudah berkumpul, karena semalam kami menghabiskan waktu hingga larut malam. Maka semua orang menginap di rumah Mama, bukan rumah utama milik keluarga Hutama. Rumah utama hanya akan dijadikan tempat berkumpul seluruh keluarga besar Mama dan Papa. Karena rumah utama sangat besar dan memiliki banyak kamar, tidak seperti rumah ini yang hanya memiliki 5 buah kamar dan 1 kamar utama, dan 2 kamar pembantu.
Kenapa rumah ini disebut rumah Mama? Karena ini adalah rumah warisan dari orang tua Mama. Sehingga kami lebih sering menyebutnya rumah Mama, agar memudahkan kami jika ingin berkumpul di mana.
"Selamat pagi, semuanya," ucapku dengan riang, kemudian mencium pipi Papa dan Mama.
"Selamat pagi, sayang/Nad," ucap mereka serentak.
"Pagi-pagi gini kamu udah rapi begini mau ke mana?" tanya Mama heran.
"Kantor, Ma," ucapku singkat, sambil mengambil nasi goreng yang ada di meja. Sedangkan yang lain langsung menghentikan aktivitas mereka dan membuatku bingung.
"Kamu yakin?" tanya Papa.
"Yakin dong! Memangnya kenapa, Pa?" tanya aku heran.
"Memang kamu sudah merasa lebih baik, Dek?" tanya Mama lembut.
"Tentu, perasaanku sudah lebih baik, Ma," ucapku lembut sambil tersenyum senang.
"Gimana kalau kita jalan-jalan aja, Dek! Kita refreshing aja gimana? Kamu ngga usah ke kantor," ucap Mama yang sepertinya khawatir kepadaku.
"Benar yang Mama ucapkan, lebih baik kamu pergi dengan Mama. Kantor biar Abang yang urus, kamu refreshing aja sama Mama. Kalau perlu, kamu bawa saja ke dua kakak iparmu," ucap Bang Naufal, sambil menyuapi anak bungsunya.
"Iya, Dek! Ayo kita jalan-jalan aja, Mbak juga bosen nih!" Kak Gina semangat.
"Kamu juga, Yang. Pergi aja sama Mama dan yang lain. Anak-anak aku bawa ke kantor," ucap lembut Kak Niko kepada Kak Mely.
"Ke istrinya saja bisa ngomong lembut, lah ke ade nya ngomongnya ketus mulu," ucapku sebal, sambil memakan nasi gorengku.
"Iya, jelas lah! Istri Kakak ini yang paling baik dan nurut. Ngga kaya kamu yang bisa ngajak gelut," ucap Kak Niko ketus.
"Biarin... Wleee..." ucapku sambil menjulurkan lidah.
"Kamu..." ucap Kak Niko terhenti melihat lirikan tajam sang istri.
"Kalian ini, ya! Udah, ayo makan dulu. Kasian yang mau ke kantor. Nanti ke siangannya, eh... Iya! Selva, kamu ngga ke kantor?" tanya Mama yang melerai kami berdebat, tiba-tiba tersadar saat melihat Selva yang memakai pakaian tidur.
"Ngga, Ma, ngapain coba?" tanya Selva heran, dan kami pun langsung memandangnya dengan berbagai macam pertanyaan.
"Bukankah kamu direktur di Perusahaan Nadira?" tanya Papa heran.
"Kamu masih nanya?" ucap Kak Niko mulai kesal dan menepuk keningnya.
"Emangnya kenapa sih? Perasaanku Nadira juga ngga protes apa-apa, tapi kalian yang repot," ucap kesal Selva yang sedang makan.
"Kalau kamu tahu kamu direktur, kamu ngga akan mungkin berpenampilan begitu untuk ke kantor," ucap Bang Naufal sambil melanjutkan sarapan.
"Memangnya apa yang salah dengan penampilanku? Abang jangan rese, iya? Cukup Kak Niko doang yang rese!" ucap Selva yang belum menyadari penampilannya.
"Coba kamu perhatikan penampilan kamu dan Dian," ucap Papa ikut menimpali, kemudian Selva pun melihat penampilan Dian dan juga dirinya.
"YA AMPUN... LUPA BELUM MANDI," teriak Selva yang bergegas bangun dan berlari ke kamarnya, dan kami pun tertawa melihat tingkah lakuannya.
"Jangan-jangan dia juga belum gosok gigi," ucap Kak Niko bergidik geli.
"Boro-boro gosok gigi, rambutnya aja aku yang sisirin sambil jalan," keluh Dian, dan yang lain tertawa.
"Dih parah itu anak! Ngga berubah juga dari dulu, pantes aja Tante Sella ngga jemput-jemput dia," ucap Kak Niko sambil menggelengkan kepala.
"Udah, jangan bahas Selva terus. Kalian ngga lihat itu udah jam berapa?" ucap Mama lembut, dan kami pun sontak melihat jam tangan masing-masing.
"Kesiangan," ucap serentak kami yang akan ke kantor.
"Ma, Pa, dan semuanya, Ade berangkat ke kantor. Assalamualaikum... Ayo, Dian, cepat," ucapku tergesa-gesa.
"Mbak, tunggu. Itu Selva ketinggalan," ucap Dian setelah berhasil mengejarku.
"Ngga perlu, nanti Mbak punya kejutan buat dia," ucapku dengan senyum misterius.
"Kejutan apa, Mbak? Kasih tau dong!" ucap Dian penasaran.
"Udah, ayo naik. Kita berangkat," ucapku sambil memasangkan sabuk pengaman.
Kami pun berangkat tanpa Selva, yang entah sedang apa di dalam, dan hari ini akan diumumkan siapa aku sebenarnya di perusahaan NH Group.
Sesampainya kami di kantor, kami pun menuju ruang meeting. Semua karyawan sudah berkumpul, termasuk office boy dan perwakilan satpam.
Kami pun berjalan menuju depan podium, kemudian Dian pun maju terlebih dahulu.
"Selamat pagi, semuanya. Mohon maaf mengganggu waktunya sebentar. Hari ini saya akan memperkenalkan kepada kalian semua direktur utama sekaligus pemilik PT. NH Group. Mungkin sebagian dari kalian sudah lama bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya pemilik perusahaan tempat kita bekerja ini. Selama ini, beliau selalu bekerja di belakang layar. Bahkan terkadang, beliau hadir di tengah-tengah kita tanpa kalian sadari. Saya yakin, sebagian dari kalian pasti sudah pernah bertemu bahkan bertatap muka dengan beliau. Namun, kalian pasti tidak akan menyangka bahwa beliau yang pemilik tempat kita bekerja ini. Karena sesuatu hal yang tidak bisa saya jelaskan, selama ini untuk perusahaan, beliau selalu meminta bantuan kepada saya atau petinggi yang lainnya untuk memantau para karyawan."
Bukan berarti dia orang yang sombong, namun dia tidak ingin dikenal sebagai pemilik perusahaan. Dia hanya ingin dikenal dan menjadi bagian dari kita semua, untuk mempersingkat waktu. Mari kita persilakan Ibu Nadira Hutama naik ke atas podium dan memberikan sepatah dua patah kata. Waktu dan tempat kami persilakan," ucap Dian yang saat ini bertindak sebagai MC. Aku pun bangkit dan berjalan menuju podium.