
BRAKKK. . .
"Mbaaaaa. . . Jah-at." Teriak Selva yang tiba-tiba berhenti saat melihat di ruangan bukan cuman Aku dan Sekretaris Dian, aku tau dia pasti sangat terkejut dan juga malu.
"Ekhmm. . ." Aku pun berdehem, untuk menetralisir rasa terkejut dan ingin tertawa melihat muka Selva yang memerah karena malu.
"Duduk! Jangan cuman berdiri, ayo yang lain lanjutkan makan nya." Ucap ku santai sambil menahan tawa.
"B-aik Bu." Ucap mereka serentak.
Kemudian Selva berjalan sambil menunduk ke arah ku dan duduk di samping ku, yang memang sengaja aku kosongkan untuk Selva. Dia pun menarik ujung baju ku, menandakan dia kesal.
"Mba kenapa ngga bilang! Kalau makan siang nya bareng mereka? Aku kan malu." Bisik Selva pada ku.
"Salah sendiri tidur terus! Udah cepetan makan, kalau ngga mba tinggal lagi!" Ancam ku pada Selva dan kami pun melanjutkan makan siang kami yang sempat tertunda.
Namun kali ini suasana terasa canggung, akibat ulah konyol yang dilakukan Selva. Benar-benar tidak menunjukkan wibawa yang selama ini dia gunakan di depan karyawan.
Ijgin sekali rasanya aku tertawa melihat muka Selva yang terus menahan malu sambil memakan makan siangnya dalam diam, namun ku coba terus menahannya agar Selva tidak bertambah malu.
Tak terasa makanan kami sudah habis di piring, namun ternyata makanan di meja masih tersisa cukup banyak. Sehingga aku memutuskan untuk membungkus dan memberikan kepada mereka yang ikut makan siang bersama.
"Kalian bawa saja iya, saya sudah meminta untuk di bungkus untuk kalian bawa pulang." Ucap ku dengan senyum tulus.
"Aduh ibu ngga perlu repot-repot Bu! Sudah di ajak makan siang di Restoran aja kami sudah senang Bu." Ucap Pak Bayu Pemimpin Grup A.
"Ngga repot ko, kalian makan nya sedikit sekali. Jadi banyak kan makanan yang belum tersentuh, dari pada mubazir lebih baik di bawa pulang. Sudah ayo di ambil iya masing-masing, jangan berebut." Ucap ku sambil terkekeh.
"Terimakasih banyak iya Bu, kalau begitu kami permisi duluan ke kantor Bu. Soalnya jam makan siang sebentar lagi habi." Ucap Pak Bayu mewakili semua nya.
"Sama-sama! Iya, silakan kalian duluan. Saya habis ini masih ada meeting. Hati-hati di jalan!" Ucap ku sambil berdiri mempersilakan mereka keluar, sedangkan aku, Selva dan Sekretaris Dian masih berada di ruangan.
Setelah memastikan mereka pergi, baru lah Aku dan Sekretaris Dian tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha. . . Hahaha. . ." Aku pun tertawa bersama Sekretaris Dian, kemudian aku pun berkata.
"Aduh itu, malu banget tau Dian! Hahaha. . . Udah telat datang, eh main dobrak aja itu pintu! Mana banyak orang di dalam. Hahaha. . ." Aku pun masih terus tertawa.
"Iya bener Bu, pasti malu banget tuh Bu! Sampai muka nya merah, Bu!" Ucap Sekretaris Dian yang menahan tawanya, karena melihat Selva melotot seram.
"Ketawa terus! Sampai itu gigi kering!" Ucap Selva kesal.
"Hahaha. . . Habisnya kamu itu lucu banget! Untung aja ngga ada iler yang nempel." Ucap ku yang mulai menahan tawa.
"Iya ngga dong! Aku kan cuci muka dulu, makanya lama! Eh. . Begitu sampai di lobby ngga ada orang, langsung deh aku lari ke sini! Aku kira kan cuman Mba sama Dian doang di ruangan nya, jadi aku dobrak aja karena kesal di tinggal! Eh. . Tau nya banyak orang! Ahhhh. . . Aku malu banget!" Ucap Selva mendramatisir yang terjadi dengan berpura-pura menangis.
"Makanya kalau mau masuk ke ruangan itu, biasakan mengetok pintu! Jangan main masuk aja!" Ucap ku sambil terkikik.
"Ah. . . Mba aku malu banget! Mau taruh di mana muka aku, kalau ketemu mereka?" Ucap Selva melebih-lebihkan.
"Iya simpen aja di depan! Emang mau di ke manain itu muka?" Ucap ku menahan tawa.
"Tau akh! Aku kesel pokok nya sama Mba! Mba harus traktir aku shopping TITIK." Ucap Selva yang malah meminta aku mentraktir nya shopping, aku pun hanya bisa menepuk kening ku.
Kenapa jadi nya shopping, bukannya Selva dari tadi ngga ngerjain apa-apa dan sekarang minta shopping. Ingin rasanya aku bejek itu mukanya, seenak nya sekali ini anak.
"Eh. . . Eh. . . Ampun bos ku!" Ucap Selva yang mulai bangun dari duduk nya bersiap menghindar dari ku dengan berlindung di belakang Sekretaris Dian.
"Ngapain kamu di situ? Sini maju ke depan Mba!" Ucap ku kesal sambil terus mengangkat sepatu ku ke atas, sebenarnya hanya ingin menakuti Selva saja.
"Ampun mba! Janji deh ngga gitu lagi, mulai besok aku kerja dengan baik dan menjadi anak yang baik! Aku janji mba!" Ucap Selva sambil mengangkat sedikit kepala nya melihat ku.
Aku pun menarik napas panjang, mencoba agar lebih tenang. Banyak sekali drama yang dilakukan Selva jika ada aku. Namun jika tidak ada aku, dia bisa bersikap profesional. Walaupun sering kumat penyakit shopping dan clubing.
"Udah ah mba pusing liat kelakuan kamu! Mba mau ke kantor aja!" Ucap ku sambil memakai kembali sepatu dan melangkah keluar ruangan.
Namun langkah ku terhenti, saat aku membuka pintu. Aku melihat Mas Tio dengan wanita berhijab itu lagi, mereka sedang makan siang bersama. Dan tampak sekali mesra.
"Mba ngapain di pintu? Awas, aku juga mau ke kantor!" Ucap Selva yang memegang punggung ku dan menyadarkan aku dari ke terkejutan ku.
"Eh. . . Iya!" Ucap ku gelagapan.
"Mba kenapa sih? Ko jadi aneh banget? Kesurupan iya mba?" Tanya Selva nyeleneh
"Enak aja! Jangan aneh-aneh deh kamu!" Ucap ku kesal di sangka kesurupan.
"Iya terus mba ngapain dong? Berdiri di sini kaya patung? Menghalangi jalan tau!" Ucap Selva kesal.
"Mba lagi liat itu." Ucap ku sambil menunjuk ke arah meja Mas Tio dan wanita berhijab itu.
"WHAATTTT." Teriak Selva yang kemudian aku tutup mulut nya dengan tangan, karena malu jadi banyak yang memperhatikan kami.
"Ikh. . . Kamu itu malu-maluin tau!" Ucap ku kesal, sambil membuka tangan ku yang ku pakai menutup mulut Selva.
"Iya maaf aku kan terkejut Mba! Bukannya itu perempuan yang waktu di angkringan itu iya mba?" Tanya Selva hati-hati.
"Iya itu perempuan yang sama yang kita lihat di angkringan sama Mas Tio dan perempuan itu juga yang selalu hadir bersama Mas Tio dalam meeting mewakili PT. ABC." Terang ku kepada Selva.
"Wah ini ngga bener nih! Kita harus labrak mereka, enak aja main mereka nyakitin Mba!" Ucap Selva marah, dan ingin menghampiri mereka. Namun aku melarang nya.
"Jangan dulu." Ucap ku sambil menahan tangan Selva.
"Mba ini gimana sih? Suaminya selingkuh masa di biarin? Labrak dong! Jambak itu pelakor! Enak aja di biarin." Ucap Selva kesal.
"Terus kalau Mba labrak dan marah-marah, Mba dapet apa?" Tanya ku pada Selva dengan terus memperhatikan tingkah mesra mereka.
"Iya kan seengga nya Mba udah bikin mereka malu." Ucap Selva yang masih kesal.
"Cuman gitu doang ngga seru dong!" Ucap ku pada Selva sambil menyeringai.
"Maksud mba gimana?" Tanya Selva penasaran.
"Udah kamu ikut Mba aja." Ucap ku pada Selva dan aku pun berjalan terlebih dahulu menghampiri suami ku dan selingkuhan nya.
Selva dan Sekretaris Dian pun mengikuti ku di belakang ku, mereka penasaran apa yang akan aku lakukan.
"Mas." Ucap ku dengan senyuman manis, saat aku sampai di depan meja suami ku.
Deg. . .