
Sepulang kerja aku ngidam makan seafood, jadi aku pun pergi menuju Restoran Seafood langganan ku dan memesan aneka macam masakan yang sangat menggugah selera. Aku makan dengan lahap, tanpa melihat sekitar.
"Wah enak banget makanan nya." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di meja ku, langsung memakan makanan ku tanpa permisi.
"Hai Dek! Apa kabar kamu?" Tanya pasangan wanita itu tanpa rasa malu, yang tak lain adalah Mas Tio dan Sifa.
"Kamu ini apa-apaan Mas? Nanya-nanya kabar perempuan lain." Ucap Sifa yang sedang makan pun terhenti seketika dan menatap marah ke arah Mas Tio.
"Udah kamu makan aja." Ucap Mas Tio.
"Enak aja! Kamu nyuruh aku makan, terus kamu mau godain dia? Iya kan? Heh inget! Aku itu lagi hamil anak kamu! Jangan macam-macam kamu!" Marah Sifa.
"Dia juga hamil anak aku! Apa salahnya aku hanya menyapa nya?" Bela Mas Tio.
"Iya salah! Kamu itu suami aku! Ngga pantes kamu godain dia!" Marah Sifa.
"CUKUP!" Teriak ku, yang mengundang perhatian. Bahkan pelayan dan manajer nya pun menghampiri ku dengan tergesa-gesa.
"Mohon maaf ada apa ini Bu Nadira?" Tanya Manajer Restoran.
"Sejak kapan Restoran ini menerima tamu yang tidak tau diri seperti mereka? Setahu saya, Restoran ini tidak pernah membiarkan tamu nya merasa tidak nyaman! Tapi apa yang saya dapatkan! Seenaknya duduk di meja saya! Memakan makanan saya! Bahkan bertengkar di depan saya! Saya bayar mahal bukan buat melihat semua ini." Ucap ku marah, sambil menunjuk ke arah mereka.
"Mohon maaf Ibu Nadira atas ketidak nyamanan nya, kami akan menindaklanjuti. Bagaimana jika Ibu pindah meja ke sebelah sana, dan kami akan membuatkan makanan yang sama seperti yang Ibu pesan. Kamu janji tidak akan ada keributan lagi seperti ini, kami mohon maaf Bu." Ucap ramah Manajer.
"Tidak perlu! Saya sudah tidak mood makan di sini! Kalian urus orang-orang yang ngga tau diri ini! Permisi." Ucap ku langsung pergi meninggalkan Restoran, tanpa peduli teriakan dari Mas Tio dan Sifa yang memanggil namaku.
Aku pun menggerutu sepanjang jalan menuju Palkiran mobil, tanpa sengaja aku menabrak seseorang.
Bruk
Beruntung dengan sigap laki-laki itu menangkap ku, jika tidak mungkin aku sudah terjatuh. Aku pun bernapas lega dan memohon maaf kepada orang yang aku tabrak.
"Maaf Pak! Saya tidak sengaja." Ucap ku yang memang belum melihat orang yang aku tabrak itu.
"Dira." Panggil Kak Aldi, aku pun mendongakkan kepala ku dan ternya orang yang aku tabrak adalah Kak Aldi.
"Kak Aldi." Panggil ku.
"Kamu baik-baik saja? Ada yang sakit tidak? Kita ke Rumah Sakit iya! Ayo Kakak antar." Ucap nya khawatir, membuat aku tertegun.
"Aku baik-baik aja Kak! Untung Kakak tadi nolongin aku, kalau ngga aku pasti udah jatuh. Makasih iya Kak! Dan maaf tadi sudah menabrak Kakak." Ucap ku merasa tidak enak.
"Syukur kalau kamu ngga kenapa-kenapa! Iya ngga apa-apa, lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Ingat kamu sedang hamil, bahaya kalau sampai terjatuh." Ucap Kak Aldi.
"Iya Kak, lain kali aku pasti berhati-hati. Kalau begitu aku pamit iya Kak, assalamualaikum." Ucap ku pamit, namun di halangi Kak Aldi.
"Tunggu sebentar, kamu ada acara tidak malam ini?" Tanya Kak Aldi ragu.
"Ngga ada Kak! Kenapa?" Tanya ku.
"Begini, Anisa sudah lama banget nanyain kamu terus. Dia pengen ketemu sama kamu, rencananya nanti malam kami akan makan malam bersama. Kalau kamu tidak ada acara, maukah kamu makan malam bersama kami?" Tanya Kak Aldi hati-hati.
"Alhamdulillah kalau kamu mau ikut, biar nanti Kakak yang jemput kamu. Maaf iya kalau jadi merepotkan kamu." Ucap Kak Aldi merasa tidak enak.
"Ngga ngerepotin kok! Malah aku yang ngerepotin Kakak, sampai di jemput segala. Kalau gitu aku pamit iya Kak! Sampai ketemu nanti malam, assalamualaikum." Ucap ku, kemudian melambaikan tangan dan berlalu meninggalkan Kak Aldi.
"Wa'alaikum salam." Ucap nya.
Begitu mobil melaju, aku tiba-tiba teringat kembali dengan kejadian di Restoran. Kenapa harus selalu bertemu dengan mereka?
Padahal aku sama sekali tidak pernah mengusik mereka, namun mereka mengusik hidupku terus. Ntah apa mau mereka, padahal kita sudah punya kehidupan masing-masing.
Aku hanya berharap kelak saat anak ini lahir, keadaan akan lebih baik dan tak ada lagi saling mengganggu seperti ini lagi. Karena membuat aku sangat risih dan tidak nyaman jika harus bertengkar di tempat umum seperti tadi.
Malam pun tiba. . .
"Maaf Mba di depan ada tamu yang mencari Mba, namanya Pak Aldi dan seorang anak perempuan." Ucap Bi Darmi.
"Makasih iya Bi." Ucap ku.
"Bibi permisi ke dapur iya Mba, mau membuatkan minuman dulu." Ucap Bi Darmi.
"Ngga usah Bi, soalnya kita mau langsung pergi. Mereka mau jemput aku Bi, oh iya! Nanti bilangin ke Papa sama Mama kalau aku sudah berangkat iya! Aku udah kirim pesan, takut belum terbaca." Ucap ku
"Iya Mba nanti bibi sampaikan, hati-hati di jalannya Mba." Ucap Bi Darmi.
"Oke Bi, saya pamit iya. Assalamualaikum." Ucap ku
"Wa'alaikum salam." Jawab Bi Darmi dan aku pun berlalu menuju Ruang Tamu.
"Tanteeee. . ." Teriak Anisa sambil berlari ke arah ku dan aku pun merentangkan tangan bersiap menangkap nya, namun tiba-tiba di halangi oleh Kak Aldi.
"Stop." Ucap Kak Aldi, langsung menggendong Anisa.
"Aahhh. . . Papa. . . Ica mau peluk Tante cantik Papa. . ." Rengek Anisa dan memberontak di gendongan Kak Aldi.
"Sayang coba kamu liat, di perut Tante ada adik bayi. Nanti kalau kamu lari dan menabrak Tante, terus adik bayi nya kaget gimana? Nanti adik dan Tante nya kesakitan, jadi tidak perlu berlari iya sayang." Nasehat lembut Kak Aldi yg membuat aku tersenyum.
"Maaf Papa. . . Maaf Tante. . ." Ucap pelan Anisa sambil menunduk.
"Tidak apa-apa sayang! Ayo sini peluk Tante." Ucap ku dan merentangkan tangan, namun Anisa terlebih dahulu melirik ke arah Kak Aldi yang menganggukkan kepala. Barulah Anisa mau memeluk ku.
"Tante kangen banget sama Anisa." Ucap ku sambil memeluk anisa.
"Ica juga kangen banget sama Tante, udah lama Ica pengen ketemu Tante. Tapi kata Papa Tante sibuk." Adu Anisa kepada ku membuat aku terkekeh.
"Ekhmmm. . ." Kak Aldi pun berdehem.
"Ini kita jadi makan malam tidak? Nanti semakin malam, kalau kalian bergosip terus." Sindir Kak Aldi dan membuat kami tertawa, akhirnya kami pun pergi makan malam bersama.